Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jeritan Gugur Daun

Jeritan Gugur Daun

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Flickr)
Ilustrasi (Flickr)

dakwatuna.com – Kala hati terpaut dengan sebuah keyakinan, persepsi tidak bisa menolak menuju satu fokus yang diyakini di situ kaki bisa berpijak menyeret asa dan kerinduan akan sebuah warna keemasan yang masih kelabu, ingin hati menunggang gunung tanpa harus capek memanjat tebing, tanpa harus dihadapi serangan binatang hunian hutan di sepanjang pendakian, ingin sekali rasanya berteduh dari panas menyengat kala siang hari yang menurut para ahli di atas jam 9 tidak akan ada lagi manfaat yang bisa diambil dari sinarnya, tapi aku tahu di ujung sana ada batu kerikil menyumbat sebuah lubang peradaban yang tak ada orang peduli bahwa dalam lubang itu terkurung para tawanan keadilan yang disalahgunakan.

Kekeringan jiwa semangat menimbulkan kekejaman ruh yang menjadi buas dan tak terarah, serasa menambah beban hidup yang tak kunjung berending, hanya karena DAKWAH FARDHIYAH yang belum selesai terlunasi, kekacauan pikiran, sembrautnya kehidupan mencerminkan bahwa pribadi ini masih lemah lunglai tak kunjung bangkit dan berdiri tegak menatap masa depan yang lebih cerah.

Aneh…… kenapa hal yang sama terulang lagi? Padahal kan sudah tahu bahwa jurang itu hitam dan dalam, memang Allah itu maha tahu dan kuasa atas sesuatu yang sudah, sedang dan akan terjadi pada hambanya, tapi kita tidak akan pernah bisa menyalahkan Tuhan ketika kita berbelok arah dari jalan yang diridhai-Nya, Kita bisa berfikir dan kemudian memilih apa yang seharusnya kita tindakkan.

Memang kadang kita selalu tahu ketika bintang mengitari rumah tetangga, dan tidak tahu sinar membias di sekeliling rumah kita sendiri, masih pantaskah kita menuntut keadilan Allah? Sedangkan keangkuhan masih menyelimuti setiap denyut nadi kealpaan? masih besarkah emosi kita mendahului ilmu-ilmu Tuhan?

Bangkitlah wahai ghirah yang lemah…
Tancapkan akar semangatmu ke dalam tanah…
Tumbuhkan benih-benih kemuliaan Tuhan…
Rauplah keharmonisan bernaung dalam Ridha Teduh-Nya…
Dia berjanji tak akan pernah mengkhianati…
Dia memberi bukan untuk meminta lagi…
Sadarlah bahwa kita akan secepatnya kembali…

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...Loading...
Lahir tahun 1991. Aktifis KAMMI komisariat LIPIA yang juga sudah mulai bergabung di KAMMI Jakarta. Mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA). Aktif di forum FKMSB (forum alumni), maupun kumunitas social KAISA (komunitas pecinta dan pemerhati anak bangsa). Anggota PPMU (Program Pembinaan Mahasiswa Unggulan) WAMY (World Assambly Moslem of Youth).

Lihat Juga

Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)

Membangun Cita Kader Dakwah Unggulan