Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Islamofobia, Kini dan Kemarin

Islamofobia, Kini dan Kemarin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (iluvislam.com)
Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.com – Di antara khazanah misal-misal Arab yang menggambarkan kejadian serupa atau sama, kalimat :(مَا اَشْبَهَ اللَّيْلَةَ بِالْبَارِحَةِ) , artinya: yang terjadi kemarin tidak jauh beda dengan sekarang. Ketakutan mereka terhadap Islam yang sering diistilahkan dengan Islam fobia (Islamofobia) tidak jauh dari hakikat ibarat di atas.

Ketakutan seperti ini bukanlah hal baru, tetapi jauh sebelumnya menghantui mereka. Di hari-hari pertama risalah Islam menggema di sudut-sudut kota Mekah, para pemuka Quraisy takut kepemimpinan dan kekuasaan mereka terongrong oleh agama baru ini yang menempatkan ketaqwaan sebagai tolak ukur ketinggian derajat manusia di sisi Allah SWT, melihat mereka sebagai makhluk yang wajib mengesakan ketuhanan-Nya, dan menghapus adat-adat jahiliah yang menyeret mereka ke dalam kehidupan yang lebih hina dari kehidupan hewan.

Olehnya itu, mereka lebih memilih kekuatan fisik dan perang maknawi dalam meredam pengaruh Islam yang dari hari ke hari tambah kuat mengakar di kota Mekah. Mereka berusaha keras memalingkan penduduk setempat dan sekitarnya dari Rasulullah Saw dengan menuduhnya sebagai penyair, orang gila, dan penyihir. Mereka pun memojokkan para sahabatnya dengan mengklaim mereka sebagai kaum hina yang datang dari derajat sosial yang paling rendah, kaum yang kebanyakan dari mereka budak dan fakir-miskin.

Fitnah-fitnah seperti ini dibantah dengan kerasnya Q.S. Al-Qalam: 1-4, At-Tur: 29-31, dan Al-An’am: 52

            قَالَ اللهُ تَعاَلَى: )ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (1) مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (2) وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (3) وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ(.

            قَالَ اللهُ تَعاَلَى: )فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ (29) أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ (30) قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ(.

قَالَ اللهُ تَعاَلَى: )وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ(.

Di lain tempat, orang-orang Yahudi juga digerogoti ketakutan yang sama, takut kepemimpinan dan kekuasaan mereka goyah dan berpindah tangan setelah kedatangan Rasulullah Saw yang hijrah ke Madinah. Olehnya itu, mereka mengantisipasi pengaruhnya dengan merubah sifat-sifat penciptaannya di Taurat, seperti: “Mukanya putih berseri, berbola mata hitam, sedang tingginya,” dan diganti dengan sifat penciptaan yang buruk, seperti: “Berbadan tinggi, berkulit kebiru-biruan, dan berambut keriting.” Jika yang awam dari Yahudi menanyakan ahli kitab mereka tentang Muhammad Saw, mereka membacakan teks Taurat yang telah dirubah sehingga mereka pun mendustakan Rasulullah Saw. ([1])

Kejiwaan picik seperti ini yang selalu merasa terintimidasi oleh keberadaan Islam, kejiwaan resah dan gundah yang mendorong mereka merubah ayat-ayat Allah, diberitakan dengan begitu jelasnya Al-Baqarah: 79

قَالَ اللهُ تَعاَلَى: )فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ(.

Kini, ketakutan yang sama menggiring mereka membenturkan makna-makna teks Islam antara satu dengan yang lain. Tipu muslihat yang memperlihatkan teks-teks syariat sebagai teks yang kehilangan validitas hukum yang tidak relevan lagi untuk dijadikan pegangan hidup di masa sekarang.

Di antara teks-teks Islam yang dibenturkan antara satu dengan yang lain Q.S. Al-An’am: 92 yang makna lahiriyahnya menunjukkan bahwa Risalah Islam hanya untuk kaum Mekah saja dan sekitarnya.

قَالَ اللهُ تَعاَلَى: )وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا(.

Tentunya, bias makna lahiriah ayat ini menyalahi hakikat risalah Islam yang mendunia, Risalah Allah untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman, seperti yang ditegaskan Q.S. Al-A’raf:158, Al-Furqan: 1, dan Saba’: 28

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Bagaimanakah Anda, pemerhati kitab suci Allah menyikapi benturan makna lahiriah di antara kelompok ayat di atas yang sengaja didatangkan mereka untuk menyangkal kebenaran risalah Islam yang membumi, risalah penutup yang kekal, penyejuk hati dengan rahmatnya yang menyeluruh?

Tentunya, di sini tidak ada kles makna karena Ummul Qura’ (Mekah) di Q.S. Al-An’am: 92 tidak membatasi ruang gerak Risalah Al-Musthafa Saw di Mekah dan sekitarnya, tetapi penyebutan kota suci ini menyinarkan kemuliaan tersendiri terhadapnya. Yang demikian itu karena ia tempat pertama terbitnya cahaya-cahaya Islam, awal penyebaran hakikat-hakikatnya. Dengan menyebutkan namanya saja, terpatri dengan sendirinya makna keagungan yang dimiliki kota ini lebih dari keagungan kota-kota lain. Dan karena penduduknya umat pertama yang menerima risalah Islam, ia pun seperti panutan terhadap seluruh penduduk bumi untuk mengikutsertakan diri mereka di lingkaran dan peta dakwah Islam.

Di samping itu, kata (وَمَنْ حَوْلَهَا) meliputi seluruh penjuru bumi. Makna ini diamini kebenarannya mayoritas mufassir. Abu Hayyan dalam memaknai ayat di atas menafsirkan:

“Ummul Qura’ di ayat ini adalah Mekah, ia menyandang nama tersebut karena ia tempat penyebaran Islam, markas peredaran bola bumi yang menjadi tolak ukur jauh dan dekatnya sebuah tempat dilihat dari titik pusat ini, kiblat umat, tempat pelaksanaan ibadah haji dan Baitullah. Jadi, maknanya: “Hendaklah engkau wahai Muhammad memberi peringatan kepada penduduk Ummul Qura’ dan siapa saja yang ada di sekitarnya, yaitu semua penduduk bumi,” kata Ibn Abbas. Tetapi, orang-orang Yahudi menjadikan potongan kalimat ini (أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا) dalil atas anggapan mereka bahwa Rasulullah Saw hanya diutus untuk kaum Arab saja. Tentunya, ini tidak benar karena kata (وَمَنْ حَوْلَهَا) cakupannya meliputi seluruh muka bumi. Andai kata makna umum ini ingin dibatasi, kata Ummul Qura’ pun tidak cukup dijadikan dalil untuk menafikan hukum risalah Islam yang mengglobal terhadap selain dari kota ini, kecuali dengan makna lahiriah yang dibiaskan, dan ini pun sangat lemah.”([2])

Jawaban yang serupa juga telah diberikan Syekh Muhammad al-Amin as-Syanqiti, beliau berkata:

“Jawabnya dari dua sisi:

Pertama: Kata (وَمَنْ حَوْلَهَا) mencakup semua pelosok bumi, seperti yang diriwayatkan Ibn Jarir dan yang lain dari Ibn Abbas. ([3])

Kedua:  Andai kata kata (وَمَنْ حَوْلَهَا) tidak mencakup kecuali yang dekat saja dari kota Mekah, seperti zona Arab, sesungguhnya ada kelompok ayat lain yang menegaskan cakupan Risalah Islam yang menutupi luasnya bumi, seperti Q.S. Al-Furqan [25]: 1, sementara itu, menyebut Ummul Qura’ yang merupakan salah satu partial dari hukum umum yang mengglobalkan risalah Islam tidak dapat diusung sebagai dalil untuk membatasi makna umum ini. Kaidah seperti ini diyakini oleh mayoritas ulama, kecuali Abu Tsawr Ibrahim bin Khalid bin Abi al-Yaman al-Kalbi.”([4])

Jika Anda telah meyakini kesucian teks-teks Islam dari tangan-tangan jahil yang ingin membenturkan mereka antara satu sama lain hanya karena ingin melemahkan kekuatan maknawi Islam, sekarang, Anda diajak melihat ketakutan mereka terhadap segala yang berbau islami.

Ketakutan mereka yang diilmiahkan pengistilahannya sebagai Islam Fobia (Islamophobia) dikembalikan sejarahnya oleh sebagian pakar arus pemikiran ke tahun 1997 di saat Runnymede Trust menulis artikelnya “Islamophobia Challenge for Us All”.([5]) Ia menyebutkan Islam fobia sebagai sumber ketakutan Barat yang melahirkan kebencian dan kedengkian dalam diri mereka terhadap orang-orang Islam.

Di artikel tersebut ia memberikan penjelasan lebih lanjut tentang Islam fobia yang menyebutkan 5 sisi negatif Islam yang wajib dijauhi, bahkan dianggap sebagai sumber ketakutan. Kelima sisi ([6]) tersebut:

Pertama: Islam zona khusus yang terisolasi dari masyarakat dunia, vakum dan tidak tanggap menerima perubahan.

Kenyataannya, bukan Islam atau pun penganutnya yang terisolasi dari mata dunia. Seseorang dikatakan terisolasi dari lingkungan sosial jika ia enggan mengikutsertakan dirinya dalam jaringan-jaringan sosial, bukankah di Q.S Al-Maidah [4]:  2 umat Islam dianjurkan membuka lebar pintu kerja sama yang didasari tolong-menolong dalam mencapai kemaslahatan umum? Patutkah dengan dasar ini Islam dicap sebagai agama yang tertutup dan buta dari perubahan lingkungan yang ada?

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Islam bukanlah agama kaku yang berdiam diri membiarkan umatnya terbuai khayalan-khayalan semu lagi hampa dan tidak membimbing mereka melihat sejarah-sejarah umat terdahulu untuk mengambil pelajaran dan hikmah hidup. Bukankah ada sejumlah ayat-ayat Qur’an yang mendorong manusia melangkahkan kaki mengelilingi dunia melihat umat-umat terdahulu dan peradaban apa yang mereka wariskan? Perjalanan suci untuk membaca dan menangkap tulang punggung kejayaan peradaban mereka dan virus-virus apa saja yang telah merapuhkan sendi-sendi kejayaan mereka?

Tentunya, hakikat ini Anda temukan di Q.S. Ar-Rum: 42 dan An-Naml: 69

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

Islam bukanlah anti perubahan yang tidak relevan lagi dengan perubahan-perubahan zaman yang menuntut penyesuaian diri dan kefleksibelan dalam menyikapi setiap perubahan. Bukankah fiqih realitas salah satu tatanan Islam yang wajib diperhatikan bagi mereka yang ingin menekuni dan menjalani dunia dakwah dan fatwa hukum? Bukankah mencermati tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat salah satu syarat keberhasilan dakwah? Bukankah mengetahui sejauh mana kesiapan mental dan fisik penanya hukum (المُسْتَفْتِيْ) salah satu syarat yang sepatutnya diperhatikan sebelum memfatwakan hukum tertentu terhadapnya?

Islam bukanlah agama yang alergi kemajuan peradaban Barat yang ditunjang oleh pengetahuan modern mereka. Yang demikian itu karena apa yang mereka telah capai dari kecanggihan teknologi, tidak sedikitnya, bahkan ada yang menjeneralisir bahwa semuanya dapat ditemukan akarnya di penemuan-penemuan terdahulu para sarjana-sarjana Muslim. ([7])

Mereka, sarjana-sarjana Muslim meyakini kebenaran bias makna lahiriah Q.S Ar-Rahman: 33 dan salah satu riwayat masyhur di kalangan para penuntut ilmu yang menganjurkan mereka mempercayai hukum kausalitas. ([8]) Tentunya, hukum qur’ani ini menghendaki kerja keras dan doa. Adapun hasilnya sepenuhnya dikembalikan kepada Allah SWT.

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

Jika Islam bagi mereka seperti itu hanya karena Islam tidak menunjukkan keterbukaan seperti yang mereka inginkan, Islam yang mengadopsi buta peradaban-peradaban Barat yang menghalalkan semua yang diharamkan syariat, ([9]) kami pun pecinta hakikat-hakikat Islam menolak keterbukaan seperti ini dan kami tidak akan pernah merasa terusik oleh ocehan-ocehan mereka yang menyudutkan Islam dilihat dari sisi ini. Yang seperti itu tidak lain kecuali gonggongan anjing di waktu malam menyalak melihat kafilah yang berjalan melintas di hadapannya.

Setelah Anda meyakini kelemahan sisi negatif ini yang dibidikkan ke jantung Islam, Anda pun pasti sudah siap melihat sisi negatif lain tentang Islam dan bagaimana menyikapinya.

Kedua: Islam aneh dan asing. Ia tidak memiliki nilai dan tujuan yang sama dengan kebudayaan-kebudayaan lain dan ia pun sulit menerima pengaruh dari yang lain, tetapi ia dapat memberikan pengaruh terhadapnya.

Faktanya, yang aneh jika Islam dikatakan tidak punya nilai dan tujuan yang sama dengan kebudayaan-kebudayaan lain. Seperti Anda berupaya menjelaskan aqidah agama yang Anda yakini kebenarannya, begitu juga dengan kebudayaan Islam yang bertujuan menjelaskan aqidah Islam yang benar kepada setiap muslim.

Seperti Anda bertumpu pada khazanah pemikiran dan akhlak agama Anda, kami pun muslim berpegang teguh pada khazanah keilmuan dan akhlak agama kami.

Seperti Anda berupaya menerjemahkan ajaran-ajaran agama Anda ke dunia nyata, kami pun muslim berusaha mengejawantahkan pesan-pesan agama kami ke dunia riil.

Jika ini yang dikatakan aneh, maka keanehan itu bukan dari kami, tetapi dari Anda sendiri yang melihat aneh apa yang terhitung lumrah dan jelas. Bukankah sebuah keanehan jika kita punya tujuan yang sama dari keyakinan kita terhadap agama masing-masing, kemudian Anda mengatakan ini aneh?

Ya, kita punya tujuan yang sama, tetapi obyek yang ingin kami capai di tujuan itu beda dengan apa yang Anda inginkan.

Jika Anda mengatakan ini aneh, kami pun tidak akan merasa terganggu dengan wacana Anda. Yang seperti ini seperti suara nyasar yang pergi dan berlalu begitu saja.

Ya, jika Anda mengatakan kami tidak dapat terbuka begitu saja menerima kebudayaan lain, ini pun benar di satu sisi dan menyalahi hakikat di sisi lain. Benar jika Anda memaksa kami menerima hasil-hasil kebudayaan Anda yang melanggar nilai-nilai tatanan hidup Islam. Dan salah jika Anda melihat Islam tidak dapat menerima nilai-nilai kebudayaan lain selagi ia tidak menyalahi aqidah Islam yang fundamental.

Anda tidak perlu merasa aneh jika melihat Islam dengan mudahnya memberikan pengaruh terhadap kebudayaan lain. Yang demikian itu karena dalam tatanan Islam sendiri terdapat ajaran-ajaran mulia yang dapat diterima oleh setiap kebudayaan. Dengan mudahnya Anda menemukan contohnya di masyarakat Indonesia yang menyambut baik agama Islam hanya karena melihat agama ini praktis, mudah, dan tidak menyulitkan, seperti yang dicerminkan saudagar-saudagar Arab yang datang berdagang di bumi nusantara.

Ketiga: Islam terlihat keras, tidak masuk akal, primitif, dan mengenyampingkan hak-hak perempuan.

Kenyataannya, Islam tidak keras, tetapi penuh kasih sayang yang mengajarkan kelemahlembutan antar sesama dalam bermuamalah. Jika Anda melihat Islam keras hanya karena ia memuat hukum-hukum had, seperti: potong tangan bagi pencuri, cambuk bagi pezina yang belum menikah dan rajam bagi mereka yang telah menikah, maka ketahuilah! Di balik hukum-hukum tersebut terdapat hikmah-hikmah mulia yang hanya diketahui oleh mereka yang mendapatkan taufiq Allah mengetahuinya.

Jika Anda mengatakan Islam tidak adil karena tidak memberikan perempuan haknya, sungguh ini tidak benar. Yang demikian itu karena tidak ada kitab suci sepanjang sejarah yang memberikan kepedulian seperti Islam mempedulikan mereka. Di Islam ada Qur’an dan hadits yang membicarakan hak dan kewajiban perempuan secara paripurna. Di sana ada hukum waris yang memberikan mereka hak waris, hak dan kewajiban suami istri, pernikahan dan apa saja yang berkaitan dengannya dari khitbah dan pesta pernikahan, talak dan cerai, hak mendapatkan santunan dan nafkah dari suami, hak ikut serta memikirkan jalannya bahtera kehidupan rumah tangga, tata cara pengambilan hukum dari orang yang menuduh istrinya berzina, atau seseorang menuduh perempuan baik-baik berzina, dan tata cara pengambilan hukum dari mereka yang mendzihar istrinya.

Apakah ini yang dianggap tidak adil? Jika Anda melihat Islam tidak adil terhadap perempuan hanya karena mereka merasa tidak diikutsertakan dalam kehidupan politik, ini pun tidak dapat diterima sepenuhnya. Yang demikian itu karena mereka punya hak yang sama dengan kaum lelaki memberikan suara dalam kehidupan berdemokrasi. Kecuali jika Anda melihat bahwa peluang mereka di dunia politik tidak sama dengan peluang lawan jenis mereka, maka itu wajar, karena jika mereka yang mendominasi, peran lawan jenis mereka yang semestinya mendominasi ingin dibawa ke mana? Bukankah mereka tidak dapat disejajarkan dengan kaum lelaki dalam segala aspek dan tingkatan dilihat dari fitrah penciptaan masing-masing?

Jika kaum wanita ingin dibenturkan dengan masalah-masalah politik yang tidak luput dari hiruk-pikuk dan kebisingan manuver-manuver elit politik yang menipu, menghujat, dan menjatuhkan, jika mereka ingin digiring ke sana, pastinya akan mempengaruhi fitrah penciptaan mereka dalam menjalankan tugas suci selaku ibu didik anak-anak, tulang punggung suami mengarungi bahtera hidup. Misi suci yang butuh ketenangan hidup, berpikir, dan berkreasi, fungsi penciptaan yang seharusnya dijauhkan dari masalah-masalah seperti ini yang dapat mengeruhkan keharmonisan keluarga.

Sekali lagi, Islam tidak mengenyampingkan posisi mereka dalam memerankan praktek-praktek kehidupan di pelbagai aspek, tetapi Islam tidak ingin membebani mereka di luar dari kesanggupan mereka, dilihat dari fitrah penciptaan mereka yang tidak dapat disejajarkan dengan kaum lelaki dalam semua tingkatan.

Hematnya, yang membedakan manusia hanyalah ketaqwaan. Yang bertaqwa dari mereka itulah yang paling mulia di sisi Allah, seperti yang ditegaskan Q.S. Al-Hujurat: 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Jika Anda mengatakan Islam itu primitif hanya karena kebanyakan pengikutnya dari fakir-miskin, seperti kondisi sahabat-sahabat Rasulullah Saw pada awal mula Islam menyebar di kota Mekah, ini dapat dibenarkan, tetapi tidak dapat diterima sepenuhnya. Yang demikian itu karena pengikut-pengikut setiap risalah samawi mayoritas datang dari fakir-miskin, tetapi tidak semua pengikut risalah tersebut datang dari mereka, di sana ada yang datang dari keluarga kaya dan terpandang, seperti Abu Bakar as-Shiddiq.A.

Jika Anda bertanya: “Kenapa kebanyakan pengikut setiap risalah samawi datang dari kalangan fakir-miskin.”

Jawabnya: itulah hukum Allah, tetapi boleh jadi hikmahnya karena fitrah mereka tidak mengenal kesombongan, beda halnya dengan pemuka-pemuka kaum yang kata hatinya telah dibutakan oleh kekuasaan dan harta. Bukankah kedustaan mereka terhadap Islam karena didasari oleh keangkuhan yang membutakan meskipun cahaya Islam telah menyengat muka mereka? Yang fakir-miskin dari mereka mudah menerima dan mempercayai sebuah keyakinan karena fitrah mereka masih suci dari sifat-sifat keji yang dapat memalingkan mereka dari sebuah hakikat.

Keempat: Islam menyukai kekerasan, permusuhan, menteror, dan sangat aktif di perang kebudayaan dan pengetahuan.

Faktanya, Islam tidak seperti itu. Bukankah risalah Islam rahmat semesta alam seperti yang ditegaskan ayat-ayat Al-Quran. Jika Anda melihat rahmat di agama Anda, kenapa Anda mengharamkan kami kasih sayang yang ditebarkan agama kami? Bukankah setiap agama samawi itu rahmat terhadap pemeluknya?

Jika Anda mengatakan Islam itu keras hanya karena Anda melihat syariat jihad, itu pun tidak dapat dibenarkan. Yang demikian itu karena syariat jihad bukan untuk menumpahkan darah, tetapi untuk menjaga kedaulatan negara dari rongrongan musuh dari luar dan meninggikan kalimat Allah.

Jika Anda mengatakan Islam itu aktif di perang kebudayaan dan pengetahuan, itu pun tidak benar. Yang giat itu Anda yang tidak pernah berhenti mengekspor produk-produk pemikiran yang menyalahi hakikat-hakikat Islam. Jika Anda mengklaim kami aktif dilihat dari reaksi kami menolak dan mengungkap sisi gelap dan buruk pemikiran-pemikiran tersebut, kami pun menerimanya karena itulah yang patut dan benar kami lakukan sebagai umat yang mengkultuskan ajaran-ajarannya supaya tidak terimbas dan tercemar oleh arus pemikiran global yang tidak mengenal batas, waktu, dan tempat.

Kelima: Islam punya ideologi politik, bergerak mewujudkan tujuan-tujuan politik dan militer.

Kenyataannya, Islam tidak punya ideologi politik tertentu, tetapi nilai-nilai Islam asas utama yang sepatutnya mendasari tatanan politik bernegara. Negara yang menghargai hak-hak kaum minoritas, negara yang tidak suka mengancam stabilitas negara tetangga, dan negara yang mengikutsertakan diri mewujudkan perdamaian dunia beserta negara-negara lain. Bukankah Q.S. Al-Hijr: 85 dan Az-Zukhruf: 89 telah menegaskan hakikat ini.

فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

فَاصْفَحْ عَنْهُمْ وَقُلْ سَلَامٌ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

Islam bukanlah agama yang cinta perang, menaklukkan bangsa dan merenggut semua yang mereka miliki. Sekali lagi, Islam bukanlah ideologi politik yang disalurkan di panggung politik dan medan perang. Tetapi, agama yang menanamkan tatanan politik yang dinamis dan harmonis, politik negara yang melihat masyarakat sama di depan hukum, tidak ada perbedaan antara kulit putih dan hitam, miskin dan kaya, kuat dan lemah, lelaki dan perempuan, semuanya sama di mata hukum, punya hak dan kewajiban, politik yang berupaya mewujudkan kesejahteraan rakyat secara merata, dan politik negara yang mengedepankan ruh persahabatan, kerja sama, dan perdamaian, bukan politik negara yang cinta menumpahkan darah.

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati risalah Islam menyuarakan kesimpulan berikut:

“Islam fobia produk lama yang dikemas ulang oleh mereka yang alergi terhadap segala yang bercorak islami. Tidak ada yang baru kecuali metode dan cara mereka yang beragam. Seperti pemuka-pemuka Quraisy dan orang-orang Yahudi gagal memalingkan umat dari kebenaran risalah Islam, sekarang, mereka pun pasti menuai hasil yang sama. Tatanan hidup Islam seperti semerbak bunga di musim semi yang begitu kuat menyemburkan aroma wangi yang sulit dihindari bagi mereka yang ingin menghirup kesegaran udara dan menikmati tarian tetumbuhan hijau dan pepohonan di taman-taman surgawi dunia. Jika ia seperti ini, bagaimana mungkin ia dapat ditutupi dan diasingkan dari mereka yang menginginkan cahayanya. Hematnya, Islam tidak menakutkan, mereka sendiri yang menakut-nakuti dirinya dengan alasan yang direkayasa oleh akal sakit mereka. Olehnya itu, penulis hanya bisa mengatakan: “:(مَا اَشْبَهَ اللَّيْلَةَ بِالْبَارِحَةِ),” yang kemarin, itu juga hari ini, tidak jauh beda.”


([1])   Seperti yang disebutkan di tulisan kami “Rasulullah Saw dan Kebohongan Yahudi” yang dimuat di: http://www.dakwatuna.com/2013/01/26584/rasulullah-saw-dan-kebohongan-yahudi/, dan lihat juga: Abu Ishaq adz-Dza’labi, al-Kasyfu wa al-Bayan, dipelajari dan ditahkik oleh Abi Muhammad bin Asyur, Dar Ihya’ at-Turats al-Arabi, Beirut, cet. 1422 H/2002 M, vol. 1, hlm. 225

([2])   Al-Bahru al-Muhith, vol. 4, hlm. 183

([3])   Lihat: Jâmiul Bayân, vol. 11, hlm. 531

([4])   Daf’u Îhâm al-Idhtirâb an Âyât al-Kitâb, hlm. 91

([5])   Kesimpulan dari artikel ini disebutkan di referensi إسلاموفوبيا yang dapat didownload langsung di: http://ar.wikipedia.org/wiki/إسلاموفوبيا

([6])   Setiap sisi negatif yang disebutka Runnymede Trust akan langsung dijawab penulis sehingga ketakutan mereka dengan sendirinya terhadap Islam terangkat. Jawaban penulis di sini ditandai dengan awal kata “kenyataannya, atau faktanya). Yang demikian itu supaya jelas perbedaan antara wacana yang menyudutkan Islam dan jawabannya.

([7])   Anda bisa menyakini kebenaran pernyataan ini jika Anda kembali melihat sarjana-sarjana Muslim pertama, seperti Ibn al-Haitsam (penemu cara kerja cahaya yang menginspirasi Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop dan teleskop), Ibn al-Jazari (penemu jam waktu yang dikenal sebagai Elephant Clock), Abbas bin Finas (perumus pertama teori terbang yang dikenal dengan Flying Giro), dan Ibrahim al-Fazari penemu Astrolobe (alat bantu untuk melihat sudut langit yang selanjutnya dapat membantu kita mengetahui waktu shalat dari subuh hingga isya). Penemuan-penemuan mereka ini dapat Anda lihat di situs: http://www.1001inventions.com/

([8])   Maksudnya riwayat masyhur yang kadang dikembalikan kepada Rasulullah Saw:

(اطْلُبُواْ الْعِلْمَ وَلوْ بِالصِّينِ).

“Tuntutlah ilmu meski hingga ke Cina!”

Kebanyakan ahli hadits melemahkan periwayatan ini dan tidak sah pengembaliannya kepada Rasululla Saw. Ia masyhur hanya karena maknanya sangat baik.

Syekh Muhammad Darwish al-Hut Berkata: “Ibn Hibban berkata: “Hadits ini batil, tidak punya dasar periwayatan yang sah,” dan Ibn al-Jauzi pun melemahkannya. An-Nisabûrî dan ad-Dzahabî berkata: “Tidak ada yang sah periwayatannya (isnad).”” Lihat: Muhammad Darwish al-Hut, Asnâ al-Mathâlib fi Ahâdîts Mukhtalifah al-Marâtib, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, cet. 2, hlm. 59

([9])   seperti yang ditegaskan Yoshihiro Francis Fukuyama, pemikir strategi politik Amerika yang berketurunan Jepang: “Islam salah satunya peradaban yang menolak keras dengan angkuhnya modernitas Barat dan prinsip mendasarnya, yaitu sekularisme yang memishkan agama dari kehidupan bernegara.” Selanjutnya, ia berkata: “Titik masalahnya bukan memerangi terorisme, tetapi memerangi akidah fundamental Islam yang memerangi modernitas Barat. Olehnya itu, akidah fundamental Islam ini lebih berbahaya dari fasisme dan komunisme.” Lihat artikel Prof. Dr. Muhammad Imarah tentang Islam fobia “إسلاموفوبيا” yang dimuat di majalah Al-Azhar, edisi 86, 1434 H/2012 M, hlm. 3

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dr. Muhammad Widus Sempo, MA.
Pensyarah antar-bangsa (Dosen) Fakulti Pengajian Alqur'an dan Sunnah, universiti Sains Islam Malaysia (USIM).Degree, Master, Phd: Universiti Al-Azhar, Cairo. Egypt

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia