Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Doa Lebih Canggih dari Senjata Nuklir

Doa Lebih Canggih dari Senjata Nuklir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (jr-photos.com)

dakwatuna.com Seorang anak kecil bernama Dian melihat pengemis, dia selalu merasa bersalah jika tidak bisa memberi uang kepada pengemis yang dijumpainya. Hati anak itu selalu berdoa semoga Allah memberi rizki untuk pengemis itu dan keluarganya meski tanpa melaluinya. Kepolosan pemikirannya hanya berharap semoga ada orang dewasa yang berbelas kasihan padanya karena dia tidak memiliki uang. Hanya doa yang bisa dia ucapkan ketika tidak mampu memberi apapun termasuk uang pada pengemis.

Seiring pertumbuhannya, dia selalu mendoakan orang-orang yang berada di sekitarnya (orang tua dan saudara-saudara seimannya). Tetapi pada suatu hari, dia mengalami kejadian yang menyulitkan dirinya. Dian sama sekali tidak memahami ujian yang menimpa dirinya. Dian pun berusaha mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Namun, setiap kali dia melangkah untuk mengatasi persoalannya, dia malah selalu menghadapi masalah lain yang lebih menantang. Segenap usaha, harap dan doa dia serahkan kepada Allah swt. Namun rupanya ujian yang dia alami malah menjebaknya pada pertanyaan “pernahkah orang-orang di sekitarnya mendoakannya?”

Pemikirannya yang dulu polos berubah menjadi pemikiran seorang dewasa yang kehilangan kepercayaan kepada orang lain. Dian malah lebih merasa tidak ada seorang pun yang tulus mendoakan untuk kebaikannya. Kejadian dengan teman-temannya menambah alasan bagi Dian untuk tidak mengharapkan doa dari orang lain. Ketika Dian meminta agar teman-temannya mendoakannya, Dian malah mendengar temannya mengatakan hal sebaliknya. Dian menyimpulkan jangankan mendoakan di heningnya malam, mengaminkan saja mereka enggan. Itulah yang sempat terlintas dalam pemikirannya. Permasalahan Dian yang tak kunjung selesai menambah keyakinannya bahwa tidak ada seorang pun yang bersedia mendoakannya.

Meskipun begitu Dian tetap yakin bahwa Allah yang akan mengeluarkannya dari permasalahan yang dihadapi. Dian tetap berusaha mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka, meskipun Dian sendiri tidak yakin apakah yang didoakan juga mendoakannya. Yang Dian yakini adalah bahwa malaikat senantiasa mengaminkan doanya dan malaikat pun turut mendoakannya. Sehingga pada suatu malam, dia mendengar orang tuanya berdiskusi tentang kelahirannya. Ketika Dian lahir, seorang kerabat ayahnya mendoakan agar Dian menjadi orang yang shalih. Inilah yang mengubah persepsinya tentang orang lain yang enggan mendoakannya. Dian menyadari bahwa mungkin orang lain enggan mendoakannya adalah karena sikapnya yang pernah tidak berkenan di hati mereka. Akhirnya, Dian semakin bersemangat untuk selalu dan tetap mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Dian pun semakin meyakini tentang kekuatan doa yang bisa menembus hati siapa pun, melelehkan besi kuat pun atau menghancurkan dinding penghalang besar pun.

Doa bisa menjadi senjata yang lebih canggih daripada senjata nuklir. Doa dari seorang yang tulus mendoakan kita tanpa kita mengetahuinya adalah bagian yang mampu mengantarkan kita pada tujuan atau sasaran yang tepat. Seperti nuklir yang tepat membidik sasarannya meski ditembakkan sejauh ribuan kilometer. Ketika segenap usaha dan doa telah dilakukan, namun pertolongan belum juga datang, maka kesabaran yang menjadi saksi atas doa-doa orang-orang yang tulus mendoakan.

Kita pun harus berhusnuzhon bahwa orang lain selalu mendoakan kita tanpa sepengetahuan kita. Berhusnuzhon juga bentuk doa dari pikiran kita. Karena bisa jadi setiap hal yang diperoleh atau kita masih tetap bertahan adalah berkat doa dari orang-orang yang kita tidak tahu. Pada intinya kita harus senantiasa berdoa kepada Allah, terutama mendoakan kebaikan orang lain. Sekeras mungkin kita harus menghindari doa yang buruk kepada orang lain meskipun dalam keadaan teraniaya.

Doa untuk saudara-saudara kita tanpa sepengetahuannya seperti nuklir yang tiba-tiba menembakkan sasaran dari arah yang tidak disangka-sangka. Kata hati adalah doa pertama yang begitu murni. Maka untuk mendoakan orang lain diperlukan kebersihan hati, salah satunya dengan memperbanyak istighfar. Tidak mungkin seseorang mampu mendoakan kebaikan orang lain jika hatinya belum bersih. Alur pikiran adalah doa kedua yang begitu dalam. Maka berhusnuzhon diperlukan agar doa bisa bermakna. Ucapan dan perbuatan adalah doa yang indah bagi orang tua dan saudara-saudara seiman. Maka ucapan yang terjaga dan perbuatan yang baik perlu dilakukan agar doa kita bisa dikabulkan, Insya Allah.

Hal yang sering kita lupakan juga adalah mendoakan para pemimpin kita. Kita lebih sering mengkritik daripada mendoakan para pemimpin kita. Padahal (bagi penulis) keadaan moral para pemimpin adalah cerminan dari keadaan moral rakyatnya. Dengan mudahnya kita akan mengatakan bahwa para pemimpin kita yang korup telah melakukan dosa besar dengan menguras hak rakyat. Namun, jika direnungkan kembali apa dikatakan hanya dosa kecil saja jika kita sebagai rakyat saja masih hobi mencontek ketika ujian, pandai menyuap dan menjilat untuk meraih posisi, menghalalkan segala cara untuk memenangkan keinginan. Dengan ringannya kita mengkritik para pemimpin yang zhalim tetapi lupa kewajiban kita sebagai rakyat.

Oleh karena itu, sebelum kita mengkritik habis-habisan para pemimpin kita, kita doakan lebih banyak atau lebih sering para pemimpin (terutama yang seiman) agar mereka mampu menjalankan amanah, mampu melayani rakyat, dan senantiasa takut hanya kepada Allah. Dengan begitu mereka bisa dengan ringan melayani kita sebagai rakyat dan berusaha tidak menzhalimi kita sebagai rakyat.

Tanpa perlu mereka mengenal kita, tanpa perlu mereka tahu kita mendoakan mereka, tanpa mengharap apapun kita dari mereka, kita harus mendoakan para pemimpin kita agar Allah meridhai negeri ini menjadi makmur. Tidak harus dengan nuklir yang canggih, tidak harus dengan senjata lengkap, apalagi dengan kekerasan, cukup dengan doa tulus dari rakyat maka negeri ini bisa makmur dan maju, Insya Allah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Atik NH
Lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tinggal di Sumedang. Berharap tulisannya bisa bermanfaat bagi orang lain (pembaca maupun dirinya). Mari bersama kita mencari ilmu pengetahuan.

Lihat Juga

Syiar Qurban, Syiar Hak dan Kasih Sayang