Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Karena Nyaman Kadang Tak Aman

Karena Nyaman Kadang Tak Aman

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Kita memang seharusnya tak pernah merasa nyaman, apalagi aman. Karena bagi sang musafir, tempat paling aman dan nyaman hanyalah kampung halamannya, kampung akhirat.

Sudah lama kami tahu bahwa kami adalah makhluk paling mampu beradaptasi. Ya kami, manusia, cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungan tempatnya berada dalam beberapa selang waktu. Mungkin akan lama, mungkin juga tidak. Selanjutnya kami akan merasa nyaman, karena nyaman adalah buah toleransi, dan seolah-olah aman. Lalu kami lupa dan sedikit terserang malas untuk harus mengulang proses adaptasi pada hal-hal baru.

Proses adaptasi ini layaknya adaptasi seorang pawang ular, setelah proses toleransi yang cukup lama tinggal bersama puluhan ular baginya akan nyaman, tapi soal aman? Tak ada yang bisa menjamin. Karena seringnya, nyaman itu bukan aman.

Sayangnya kami sering salah, dalam nyaman kami merasa perubahan jadi musuh yang nyata. Kami memilih gubuk reot yang terasa hangat dibanding harus berlari ke rumah yang lebih baik. Kami memilih pakaian using daripada harus bersusah memintal benang dan menyulam yang indah. Lagi-lagi kami telah sukses beradaptasi terhadap berbagai kekurangan, sehingga berjuang untuk sesuatu yang lebih baik rasanya terlalu berisiko.

Ya, kami yang sedang nyaman di tempatnya ini kadang terlalu kecil mengartikan kata bahaya. Pada sesuatu yang tak pasti kami akan mengartikannya bahaya, padahal pada ketidakpastian kami harusnya belajar memastikan ikhtiar terbaik. Pada yang bergerak kami sering menganggapnya berbahaya, walaupun kadang kami tahu bahwa gerak itu upaya.

Tapi kau harus tahu bahwa kami, yang sedang berleha-leha di tempat nyaman ini, adalah makhluk-makhluk mandiri. Kami mampu menciptakan ketakutan-ketakutan sendiri, yang akhirnya membuat kami membenci perubahan. Kami juga telah berhasil menciptakan penjara-penjara sendiri, untuk jiwa-jiwa kami agar tertinggal dari perputaran roda zaman. Andai mau tahu, kami juga sesungguhnya telah mandiri dalam pembuatan tameng-tameng, sehingga ketika perubahan datang kami telah siap berlindung di baling tameng buatan sendiri. Mandiri bukan?

Padahal, bukankah kita semua ada di sini untuk berlomba, beradu cepat? Dan semua akan tahu, bahwa hanya yang sedang berlari yang akan merasa nyaman, walaupun belum tentu keamanannya. Dan hanya dia yang telah mencapai garis finish lah yang menyempurnakan rasa nyaman dalam gerak dengan keamanan balasannya.

Maka nyamanlah hanya dalam gerak dan aman ketika sampai kesudahannya. :)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mutia Gadri
Mahasiswi jurusan Sains dan teknologi farmasi ITB 2009. Sedang menempuh tahun terakhir pendidikannya di ITB. Aktif dalam berbagai kegiatan agama dan pengabdian masyarakat.

Lihat Juga

Menilik Problematika Keamanan Pangan