Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rahim Peradaban

Rahim Peradaban

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Ketika saya hendak membuat kartu ATM di sebuah bank di kampus saya, terbesit pertanyaan iseng dari seorang teller bank tersebut di sela-sela kesibukan saya dalam mengisi biodata singkat guna keperluan administrative. Pertanyaan itu berawal dari mbak teller tersebut bertanya saya kuliah di fakultas apa? Berapa bersaudara? Apakah saudaranya sudah berkuliah? Di fakultas apa? Semua pertanyaan tersebut saya jawab satu per satu. Namun, mbak teller terus bertanya, hingga percakapan kami terus meluas tentang bagaimana cara mendidik anak yang baik.

“Wah, memang bagaimana cara mbak belajar? Bagaimana cara orang tua mbak mendidik mbak dan adik-adik mbak?” Kira-kira seperti itu lah rentetan pertanyaan yang ditanyakan oleh beliau.

Entahlah, Sejujurnya saya bingung, karena ilmu saya sungguh masih terbatas. Saya masih mahasiswa, masih menjadi seorang anak, menikah saja belum apalagi mempunyai anak. Otak saya sedikit berputar, merefleksikan semua pertanyaan beliau dan menjawabnya sesuai pemahaman saya.

Saya jadi ingat dengan suatu kalimat “Di balik setiap pahlawan besar selalu ada perempuan agung”. Yang dimaksud dengan perempuan agung ini bisa jadi ibu dan atau istri pahlawan tersebut. Saya perkecil ruang lingkup pepatah tersebut menjadi “di balik anak-anak yang sukses selalu ada perempuan agung”, perempuan agung itu tidak lain adalah ibu dari anak tersebut. 

Saat saya melihat ke sekitar lingkungan saya, sangat banyak orang-orang hebat. Akademik bagus, akhlaqnya bagus, kepribadiannya bagus, dan tetap rendah hati. Seolah-olah mereka seperti mutiara-mutiara yang bersinar-sinar, yang pancaran sinarnya menyinari orang-orang di sekitarnya. Siapakah perancang mutiara-mutiara tersebut? Siapa yang menanamkan pendidikan-pendidikan kepada mutiara tersebut sehingga sinarnya terus berpancaran? Jika boleh saya menjawab, yang melakukan semua hal tersebut tentu saja IBU. 

Sangat mudah mencari tahu rahasia dibalik anak-anak hebat tersebut, liat saja ibunya. Walau mungkin masih banyak faktor bias yang mempengaruhi. Namun, tidak jarang kita temukan bahwa orang-orang besar itu telah banyak dilahirkan dari rahim wanita-wanita yang sungguh luar biasa. Ibu adalah madrasah pertama orang-orang besar tersebut, melahirkan generasi-generasi yang bersih akhlaqnya. Ibu adalah rahim peradaban. Guru dari segala guru. 

Partikel terkecil dari suatu Negara itu adalah keluarga. Tidak bisa dipungkiri, jika suatu Negara ingin dibangun menjadi Negara yang baik, maka harus mulai dengan membangun keluarga yang baik. Sehingga kebaikan-kebaikan yang terhimpun dari tiap-tiap keluarga, akan bermanifestasi besar untuk Negara. Di sanalah peran ibu sangat lah besar! Bagaimana mungkin bisa membangun keluarga yang baik, jika madrasah pertama bagi anak-anaknya saja belum baik? Bagaimana mungkin seorang anak akan tumbuh menjadi anak yang cerdas jika madrasah pertamanya saja belum cerdas? Bagaimana mungkin terlahir anak-anak shalih jika madrasah pertama nya saja masih jauh hatinya dari Allah? Mungkin masih ada peluang untuk memiliki anak-anak hebat tersebut, tapi hal itu akan sangat sulit. Sungguh merepotkan sekali jika hal-hal krusial seperti itu tidak bisa ditangani oleh seorang ibu. Proses pengembangan anak pun akan menjadi lamban jika proses tersebut tidak dibekali terlebih dahulu oleh ibu. 

Beruntunglah kita yang bisa menjadi seperti sekarang karena pembekalan yang baik dari ibu kita sejak kecil. Berkat keteladanan yang terus menerus dicontohkan ibu, berkat kasih sayang dan kelembutan yang lahir dari hati ibu, berkat dari kesabaran ibu dan doa-doa ibu kepada anaknya. Rasanya tidak pantas jika kita mendapat pujian dari orang lain atas prestasi-prestasi kecil yang tentu saja tidak sebanding dengan prestasi yang lebih dulu diukir oleh ibu kita dulu. Bersyukur, Allah menganugerahi kita teman di dunia, yang kasih sayangnya melimpah ruah untuk kita karena Allah. 

Ini akan menjadi pelajaran besar bagi para akhwat, begitu juga saya, untuk paham betapa pentingnya pendidikan dini yang diawali oleh seorang ibu. Belajar lah dari sekarang, karena jika kita tidak belajar bagaimana cara menjadi ibu yang baik, akan ada makhluk yang kita zhalimi suatu hari nanti.

Hak setiap anak, bahkan sebelum terlahir ke dunia adalah memiliki ibu yang terbina. Sudah sejauh apakah pembinaan dirimu, wahai calon Ibu?

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswi muslim Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, koleris sanguinis.

Lihat Juga

Pengawasan Sharia Compliance Pada Perbankan Syariah Yaman