05:32 - Sabtu, 02 Agustus 2014
Iwan Setiawan

Nenekku, Pahlawanku

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Iwan Setiawan - 31/10/12 | 09:30 | 15 Dhul-Hijjah 1433 H

Ilustrasi. (Klinik Fotografi Kompas / Djuara Hutabarat)

dakwatuna.com - Sosok tubuh tua itu terbaring lemah. Lemah dengan ketuaannya. Kulitnya yang tampak keriput, pucat dan hampir tak terlihat daging di tubuh renta tersebut. Ia tak mampu berdiri, bahkan beranjak duduk pun tak sanggup ia lakukan. Hanya sedikit gerakan yang terbatas dan sesekali satu dua patah kata yang mampu ia ucapkan.

“Enek… Enek” ucapnya pelan.

Enek (Piak Enek) adalah panggilan almarhumah Ibunda dari Anduang. Panggilan Anduang adalah panggilan yang Saya berikan pada sosok tua tersebut. Anduang dalam bahasa Minang artinya Nenek

Anduang masih tergolong kerabat dekat dari keluarga Ibu Saya. Keluarga Anduang masih bersuku Jambak (Minang). Usia Anduang telah mencapai 90-an. Di usia nya yang semakin senja, anak-anak nya pun bergegas pulang dari perantauan. Cuma ada 2 orang dari 6 bersaudara yang tidak datang menjenguk Anduang karena sibuk dengan kerja nya atau masalah lain yang membuat mereka tak sanggup pulang kampung.

Ada sebuah kesedihan dan keprihatinan yang menyelusup ke dalam hati Saya. Sedih dan prihatin terhadap nasib sosok tua renta Anduang. Hampir-hampir Saya tak sanggup membendung buliran air mata melihat kondisi Anduang yang seperti menunggu ajal. Saya membayangkan setiap manusia akan makin menua atau kalau pun tidak menjadi tua kemungkinan ia mati muda. Tak ada lagi yang perlu dibanggakan, tak ada lagi aktivitas yang sanggup dilakukan, saudara, harta dan jabatan seketika tak punya kuasa menahan usia senja.

Kisah Anduang mengingatkan Saya pada sosok Amak atau ibu dari Ibunda Saya. Amak memiliki usia yang hampir sama dengan Anduang. Amak memang telah wafat ketika Saya masih SD. Amak adalah wanita yang baik, sayang kepada anak dan cucu nya. Sampai tua pun sebelum ajal menjelang, beliau masih sempat memperhatikan cucu nya yang banyak. Termasuk memperhatikan Saya.

Ketika Ibu memasuki masa-masa melahirkan. Melahirkan saudara-saudara yang lebih tua bahkan melahirkan Saya yang terakhir. Maka Amak lah yang selalu membantu merawat Kami di saat Ibu masih lemah. Amak juga lah yang mengajari Ibu bagaimana merawat kami dengan baik. Tanpa campur tangan Amak, tak akan mungkin Kami menjadi seperti sekarang. Dekat dengan nuansa Mushalla dan mendapat shibghah (pewarnaan) Islam yang baik saat kecil.

Saya masih teringat ketika usia 4-5 tahun. Amak sering mengajak Saya pergi shalat berjamaah di Mushalla. Sebuah Mushalla kampung yang telah berdiri sekitar tahun 1930 di atas tanah wakaf Kaum Jambak. Seperti kebanyakan Mushalla pada umumnya, dari segi jumlah jamaah hanya di isi oleh para camat (calon mati = orang-orang yang sudah lanjut usia). Di saat shalat Zhuhur, dengan imam yang juga sudah berusia tua. Sebut saja nama beliau Ungku Labai Djuadi. Ungku Labai hanya melihat satu orang makmum laki-laki ketika itu. Makmum itu adalah Saya yang kecil mungil. Lantas beliau menarik Saya tepat di samping kanan nya.

“Geser rapat ke samping Ungku, Nak? “Kata Ungku Labai sembari menarik ku.

Saya menurut saja. Lalu beranjak tepat disampiang kanan Ungku Labai. Amak pun yang sedari tadi melihat dari Shaf belakang terlihat memberikan sebuah ‘isyarat’. Amak memang sering mengajak Saya pergi ke mushalla. Beliau membuat Saya terbiasa dengan nuansa Mushalla. Sebuah kenangan yang membuat Saya tak pernah lepas dari Mushalla/Masjid hingga dewasa.

Saya telah melihat dan merasakan betapa besar peranan seorang Nenek dalam sebuah keluarga. Tanpa peranan Nenek, tak kan mungkin ada Ibu yang baik. Tanpa peranan Nenek, siapakah yang akan mengurus cucu–cucu yang banyak. Jika Ibu sendirian tentu akan kewalahan. Menghormati Ibu dan berbakti pada Ibu adalah hal yang sangat wajar. Sedangkan menghormati Nenek dan menyayanginya hingga di usia senja adalah suatu hal yang luar biasa. Maka sudah sepantasnya seorang Nenek mendapat perhatian dari cucu nya. Rasulullah SAW pernah bersabda “Barangsiapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab, lihat Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 271).

Amak, kini dirimu telah tiada. Cuma ucapan terima kasih dan untaian doa yang bisa kuberikan sekarang. Terima kasih Amak. Semoga Allah melapangkan Kubur mu di sana dan membalas setiap jerih payah serta amalan mu dengan Jannah Nya kelak, amin.

Terima kasih Nenek ku, Engkau adalah Pahlawan ku.

Iwan Setiawan

Tentang Iwan Setiawan

Dilahirkan di Kampung Kandang, Kabupaten Padang Pariaman pada tahun 1987 sebagai anak ketujuh dari tujuh bersaudara dari pasangan Tongga Ahmad, BSc dan Zaimar. Pendidikan terakhir di Fakultas Teknologi Pertanian, Program… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , , , , , , , , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (2 orang menilai, rata-rata: 9,50 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/iju.arfando Iju Arfando

    sangat menyentuh sekali…

Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 1,524 seconds.