Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Monolog Diri: Sebuah Upaya Reflektif Kontemplatif

Monolog Diri: Sebuah Upaya Reflektif Kontemplatif

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Pendahuluan

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com “Hisab-hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab Allah Swt dan timbang-timbanglah amal kebajikan kalian sebelum Allah Swt menimbangnya”. (Umar Bin Khattab RA).

Begitulah pesan bijak khulafaur rasyidin ketiga, Umar Bin Khattab RA, untuk kita renungkan sebagai umat Nabi Muhammad Saw. Pesan tersebut teramat singkat, namun mengandung konten isi dan makna yang sangat urgen bagi keberlangsungan kehidupan fana kita selama di dunia ini menuju negeri Akhirat nanti. Melalui kalimat berhikmah itu, Sayyidina Umar Bin Khattab RA seolah-olah ingin mengingatkan kita akan perlunya menyentuh kesadaran diri nan dini, agar setiap saat dapat melakukan refleksi dan kontemplasi terhadap keseluruhan aktivitas hidup tak kekal yang kita jalani ini.

Refleksi dan kontemplasi yang diharapkan akan mengantarkan setiap pribadi kita kepada derajat kehambaan yang semakin dipenuhi aneka warna sikap dan irama  harmoni ketundukan, ketaatan dan kepatuhan kepada semua peraturan perundang-undangan Dzat Pengatur Alam Semesta Raya, Allah Swt. Refleksi dan kontemplasi yang juga sekaligus lahir dari ekspresi keinsafan yang mendalam serta sebagai upaya korektif akan kealpaan atau kekhilafan diri kita atas segala perintah maupun larangan Illahi Rabbi sebagai rambu-rambu dalam kehidupan nyata di dunia.

Monolog Diri

Monolog diri sebagai ungkapan reflektif kontemplatif sesungguhnya merupakan akumulasi dari serangkaian pertanyaan mendasar tentang siklus dan keberadaan diri kita sendiri. Pertanyaan yang datang dari lubuk hati kesadaran yang mendalam yang diarahkan langsung pada diri kita sendiri. Monolog diri pada hakikatnya adalah pertanyaan pribadi kita untuk diri kita sendiri dan dijawab secara sendiri-sendiri. Walaupun pada kenyataannya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, sesungguhnya telah terbentang luas dan jelas di dalam Al-Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah SAW sebagai 2 (dua) panduan atau pedoman utama di dalam kehidupan manusia.             Perbedaannya akan terletak pada sejauh mana setiap kita memahami substansi dari pertanyaan-pertanyaan itu sekaligus aplikasi implementatif dan konsekuensi logis atas jawaban dari kesemua pertanyaan yang sangat prinsipil tersebut.  Sehingga dengan demikian aktivitas monolog diri akan mengantarkan setiap insane yang dhaif (lemah) menuju gerbang utama bangunan tazkiyatun nafsi atau penyucian/perbersihan jiwa. Jiwa yang telah suci bersih, akan semakin melapangkan jalan bagi datangnya hidayah petunjuk dari Allah Swt.

Konten Monolog Diri

Berikut adalah gambaran dari konten monolog diri yang telah sejak lama dicontohajarkan oleh para Nabi, Rasul dan Sahabat hingga Salafus shalih Radhiallahu ‘anhum. Gambaran monolog tersebut sudah semestinya diteladani dan dipraktekkan dalam kehidupan umat manusia saat ini hingga sampai pada manusia akhir zaman nantinya.

a. Siapa saya

Inilah pertanyaan mendasar yang seharusnya mengawali monolog diri kita. Yang akan membimbing kita kepada satu keyakinan hakiki bahwa kita adalah makhluk ciptaan sang khaliqul ‘alam, Allah Swt. Seperti dinukilkan Allah Swt dalam surah Al-Baqarah ayat 21 yang artinya: “…Dia (Allah Swt) yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu…”. Sebagai makhluk, seharusnya kita bersyukur karena Allah Swt telah menciptakan kita di atas fithrah yang suci (al-Islam). Lalu menyadari diri bahwa kita adalah makhluk yang dha’if (lemah) secara fisik, memiliki banyak keterbatasan dan kekurangan, jahil (bodoh) dan faqir (sangat bergantung kepada yang lainnya).

b. Dari mana saya

Ini adalah monolog kedua yang sangat erat kaitannya dengan monolog pertama di atas. Dengan monolog kedua ini kita akan dibimbing untuk mengetahui dan menyadari proses penciptaan atau kejadian kita sebagai manusia. Melalui wahyu-Nya yang perdana atas Rasulullah Saw, Allah Swt mengingatkan manusia tentang asal-usul kejadian dirinya masing-masing sebagaimana termaktub di dalam surah Al-‘Alaq ayat 2 yang artinya: “Dia (Allah Swt) telah menciptakan manusia dari segumpal darah”.  Atau melalui surah Al-Mu’minun ayat 12 Allah Swt telah menengarai asal penciptaan manusia sebagai berikut: “Dan sungguh, Kami (Allah Swt) telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah”. Lalu pada ayat 13 dan 14 surah Al-Mu’minun dan ayat 11 surah Al-Fathir, Allah Swt menjelaskan secara gamblang tentang proses penciptaan manusia. Sehingga pada akhirnya diharapkan akan muncul suatu sikap positif sekaligus pengakuan yang tulus dari setiap pribadi manusia terkait asal-usul kejadiannya dengan ungkapan sebagaimana tertera di dalam surah Al-Mu’minun akhir ayat 14 yang terjemahannya: “…Mahasuci Allah Swt, Pencipta yang paling baik”.

c. Sedang di mana saya

  • “Dunia adalah negeri untuk beramal, sedang akhirat adalah negeri yang penuh beraneka ragam (pem)balasan”.
  • “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main” (QS. Al-‘Ankabut ayat 64).
  • “Beramallah kalian untuk duniamu, seolah-olah kalian akan hidup untuk selamanya”.

d. Apa tugas saya

  • “Wahai sekalian manusia, sembahlah Tuhan-mu yang telah menjadikan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah ayat 21).
  • “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada Ku” (QS. Ad-dzariyat ayat 56).
  • “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah ayat 30).
  • “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah, dan hanya kepada Engkau-lah kami bermohon pertolongan” (QS. Al-Fatihah ayat 5).

e. Apa tujuan hidup saya

  • “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah Swt” (QS. Al-Baqarah ayat 207).
  • “Dan di antara manusia ada orang yang berdoa: Yaa Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah ayat 201).

f. Akan ke mana saya

  • “Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah Swt dan kepada-Nya-lah kami akan dikembalikan).
  • “Hanya kepada Tuhanmu sajalah pada hari itu tempat kembali” (QS. Al-Qiyamah ayat 12).
  • “Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS. Al-‘Ankabut ayat 64).
  • “Dan beramallah kalian untuk akhiratmu, seolah-olah kalian akan mati esok hari”.

Penutup

Maka dengan kembali memahami eksistensi dan urgensi monolog diri, akan semakin mendekatkan pemahaman dan pengenalan kita tentang eksistensi diri secara lebih luas dan mendalam. Yang dengannya kita juga berharap akan semakin mengenal dan dekat bertaqorrub dengan Dzat yang Maha Berkuasa atas seluruh diri kita, yakni Allah Swt. Sebagaimana ungkapan para Sufi yang penuh hikmah ; “Barang siapa mengenal dirinya sendiri, maka ia akan lebih mengenal siapa Robb-nya”. Wallahu a’lam bis shawab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ketua Forstudi Faperta Unand Padang (1995-1996).

Lihat Juga

Mengkritisi Kebijakan “One Day No Rice”