Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Gelar Pilihan: Are You Ramadhani or Rahmani Muslim?

Gelar Pilihan: Are You Ramadhani or Rahmani Muslim?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com“Maghrib…! Ummi ayo kita buka…” Dengan mata berbinar, tergesa-gesa tangan si kecil akan sibuk membawa dua gelas plastik. Satu akan disodorkan, dan satu lagi akan ia teguk. Terbata-bata, doa berbuka shaum yang belum begitu hafal akan mulai terdengar.

Pernah pula di kesempatan lain si kecil sigap merapikan atau tepatnya menggulung-gulung mukena, setelah terdengar adzan Maghrib dari telepon selular. “Ayo cepet kita pergi tarawih…!” Tas kecilnya terlihat gendut menggelembung dengan mukena yang dipaksa masuk.

Hal di atas adalah dua kebiasaan si kecil yang masih sering muncul di awal bulan Syawal ini. Khususnya ketika adzan Maghrib dan Isya mulai terdengar dari telepon genggam ataupun komputer yang dipasang. Fellingnya akan segera muncul. Membawa gelas untuk berbuka, lalu bergegas membereskan mukena.

Sebenarnya, si kecil belum full ikut berpuasa ataupun belum bisa berdiri rapi saat tarawih. Usianya baru menginjak tiga tahun sepuluh bulan. Namun kenangan Ramadhan dengan “berbuka” dan “tarawih” sepertinya begitu manis melekat. Wajahnya akan mulai kecewa ketika dijelaskan “Hari ini ngga tarawih sayang… Ramadhannya sudah lewat.”

Suara kecilnya akan mulai bertanya terus “Kenapa…? Kenapa? Dan kenapa…?!” Yang kemudian akan berhenti, sampai merasa menemukan jawaban yang tepat.

Di negeri Jepang, dengan masjid yang jarang, tentu tidak semudah tarawih di kampung halaman. 45 menit mengayuh sepeda, dengan membonceng si kecil di sepanjang jalan dengan suasana mulai gelap, adalah kenangan. Pun si kecil, ia merasakan hal yang sama. Meski kadang ia mulai terkantuk-kantuk di boncengan belakang, perjalanan menuju tempat tarawih adalah menyenangkan. Meski waktu tidur bagi si kecil berubah menjadi tengah malam yakni lepas shalat tarawih, hadir di tempat tarawih tetap menjadi kenikmatan. Suara cempreng kecilnya akan ikut terdengar saat Imam melantunkan beberapa ayat-ayat suci yang ia hafal. Terkadang pula ia akan tertidur lelap kelelahan, di atas sajadah, saat tarawih masuk hitungan pertengahan.

Dan saat ini, bulan mustajab penuh rahmat dan ampunan telah berlalu. 11 bulan ke depan adalah bulan refleksi amalan. Di mana selama satu bulan saat Ramadhan, setiap mukmin mendapat training langsung dari Allah. Ditempa oleh rasa lapar, rasa haus dan rasa untuk menahan hawa nafsu. Yang mana ketika semua terlalui dengan baik, reward berupa surga Ar Royyan telah disediakan.

“Keluar dari bulan suci Ramadhan, seorang bisa saja lulus menyandang gelar Ramadhani Muslim ataupun Rahmani Muslim.”

Pernah dalam satu kesempatan seorang ustadz berkata. Ramadhani muslim adalah para lulusan yang benar-benar memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai waktu beribadah. Lalu berlepas diri, ketika bulan tersebut telah berakhir. Ramadhan usai, aktivitas Ramadhan pun ikut terhenti, amalan shalih terputus. Muslim yang telah ‘lulus’ keluar dari bulan Ramadhan.

Sedangkan para lulusan Rahmani adalah mereka yang tetap senantiasa mengharapkan rahmat Allah. Ramadhan berlalu bukan berarti berakhirnya sesuatu. Namun sebaliknya, 11 bulan setelah Ramadhan mereka membuktikan janji. Bahwa sebelas bulan ke depan setiap amalan shalih yang dikerjakan haruslah lebih meningkat. Karena yang diharapkan bukan sekadar bertemu Ramadhan kembali di tahun depan, tapi bertemu dengan rahmat Allah di sepanjang 11 bulan yang akan dilalui.

Memperhatikan dan berusaha merasakan kekecewaan si kecil, mengantarkan diri merenungkan kembali amalan selama ini. Predikat apa yang pantas disandang diri? Secara manusia, sebagai diri yang mengaku muslim, tentu saja tidak ingin menjadi lulusan dengan predikat ramadhani. Meski harus mengurut dada sadar diri, bahwa belum cukup pula amalan untuk mendapatkan predikat rahmani.

Ya Rabb, kadang ada pertanyaan lirih “Sudahkah amalan-amalan shalih diri bernilai tinggi di mata Mu?” Merenungkan pertanyaan ini, selalu ada rasa sesak di dada dengan mata mulai terasa perih. Begitu banyak kelemahan, kekurangan dan kehinaan diri di hadapan Mu Ya Rabb. Kalaulah sampai saat ini belum terlihat secara kasat mata, ini hanya semata kebaikan Mu yang menutup aib-aib diri.

Sudahkah ibadah shalat diri menjadi pelepas lelah? Menset diri bahwa hidup ini untuk ibadah yang di antaranya menunggu waktu shalat. Sudahkah shalat menjadi suatu kenikmatan berbanding rutinitas? Sudahkah mampu meresapi setiap bait-bait doa dalam shalat? Dan ketika panggilan “cinta” itu bergema, sudahkah diri ini bersegera memenuhinya? Memercikkan segarnya air wudhu pada wajah, tersenyum bahagia membentangkan sajadah, lalu menikmati kemesraan bersama “Kekasih” dalam shalat khusyu. Hingga mampu bersujud panjang, lalu terisak-isak menangis seperti shalatnya Sang Rasulullah?

Jawabannya… Belum. (Astaghfirullah….)

Bagaimana dengan perasaan khauf diri? Sudahkah diri tersadar bahwa khauf adalah sebuah bentuk ketakutan untuk membentengi diri dari perbuatan yang mengundang murka Allah? Ketakutan akan dahsyatnya yaumul hisab dan licinnya jembatan “rambut dibelah tujuh”. Rasa ketakutan dan kengerian akan api jahanam, buah zaqqum, kejamnya malaikat zabaniyah, kengerian makan nanah dan darah, minuman yang membakar, perih, ngilu…? Khauf, sebuah ketakutan yang kemudian mendatangkan kesadaran untuk meningkatkan keimanan.

Jawaban jujur… Terkadang ingat, terkadang tidak. (Astaghfirullah…)

Bagaimana dengan akhlaq diri? Bagaimana ekspresi spontan yang pertama kali diperlihatkan orang terdekat, sahabat ataupun tetangga ketika ada yang bertanya tentang kepribadian diri? Sudahkah diri memiliki bekal sosial untuk menjalani kehidupan bermasyarakat? Mewarnai lingkungan dengan keshalihan. Agar lisan, penglihatan, pendengaran selalu terjaga. Seperti Rasulullah shalallahu`alaihi wassalam yang telah tiada, selalu dikenang indah oleh sang istri tercinta Aisyah Radhiallahuanha. Dalam isak tangis menahan kerinduan, sang istri tercinta selalu mengatakan,

 “Kaana kullu amrihi `ajabaa” (Semua perilakunya menakjubkan…)

Astaghfirullahal`adzim…

Sadar, bahwa diri ini belumlah memiliki akhlaq semulia beliau.

Merenungi itu semua, selalu ada rembesan bening di mata. Semakin direnungkan semakin menyesakkan dada. Terasa dipukul-pukul jiwa. Semakin tunduk tak berdaya dalam lirih mengadu. “Apalah artinya diri ini, jika besar di mata manusia, namun kecil di mata Mu Ya Rabb….”

Sebelas bulan ke depan adalah kesempatan. Peluang emas menanam amal baru, memupuk yang telah ada, menyuburkan yang sudah terpelihara. Dengan tak lupa mencabuti rumput-rumput liar yang mungkin akan tumbuh. Ataupun menghalau pengganggu yang mungkin akan memakan ladang amal.

Meski tak ada yang bisa menjamin dapat hidup di sebelas bulan mendatang. Namun setidaknya, mulai hari ini, ada tekad untuk memulai. Menjadi kepompong, bermetamorfosa, lalu menjadi manusia baru dengan gelar “Rahmani.” Sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti, dengan pertolongan Allah, ingin rasanya menjadi orang terpilih yang berhak mendapat sertifikat calon penghuni surga selagi masih hidup di dunia.

Gelar pilihan: Are you ramadhani muslim or rahmani muslim?

Tentu ingin saya jawab “Insya Allah, Rahmani Muslim, of course…!”

Dengan segala kompensasi, bahwa memilih bergelar Rahmani, berarti harus mampu menjalani segala kehidupan sebagai ibadah. Hingga senantiasa rahmat Allah selalu hadir ke atas diri, keluarga dan lingkungan sekitar.

Aamiin allahuma aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengajar taman kanak-kanak dan guru bahasa Jepang di Sekolah Republik Indonesia Tokyo.

Lihat Juga

Ilustrasi. (huffingtonpost.com)

Be a Real Muslim