Home / Dasar-Dasar Islam / Fiqih Islam / Fiqih Kontemporer / Hak dan Kewajiban Keluarga Si Sakit dan Teman-Temannya (Bagian ke-3): Keutamaan Dan Pahala Menjenguk Orang Sakit

Hak dan Kewajiban Keluarga Si Sakit dan Teman-Temannya (Bagian ke-3): Keutamaan Dan Pahala Menjenguk Orang Sakit

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Di antara yang memperkuat kesunnahan menjenguk orang sakit ialah adanya hadits-hadits yang menerangkan keutamaan dan pahala orang yang melaksanakannya, misalnya:

1. Hadits Tsauban yang marfu’ (dari Nabi saw.):

“Sesungguhnya apabila seorang muslim menjenguk orang muslim lainnya, maka ia berada di dalam khurfatul jannah.”7

Dalam riwayat lain ditanyakan kepada Rasulullah SAW:

“Wahai Rasulullah, apakah khurfatul jannah itu?” Beliau menjawab, “Yaitu taman buah surga.”

2. Hadits Jabir yang marfu':

“Barangsiapa yang menjenguk orang sakit berarti dia menyelam dalam rahmat, sehingga ketika dia duduk berarti dia berhenti di situ (di dalam rahmat).”8

3. Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa menjenguk orang sakit maka berserulah seorang penyeru dari langit (malaikat), ‘Bagus engkau, bagus perjalananmu, dan engkau telah mempersiapkan tempat tinggal di dalam surga.”9

4. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan berfirman pada hari kiamat, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Orang itu bertanya, ‘Oh Tuhan, bagaimana aku harus menjengukMu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu menjenguknya pasti kamu dapati Aku di sisinya?’ ‘Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku makan.’ Orang itu menjawab, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?’ Allah menjawab, ‘Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si Fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kau beri makan? Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati hal itu di sisiKu?’ ‘Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.’ Orang itu bertanya, ‘Ya Tuhan, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?’Allah menjawab, ‘Hamba-Ku si Fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Apakah kamu tidak tahu bahwa seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati (balasannya) itu di sisi-Ku?”10

5. Diriwayatkan dari Ali RA, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Tiada seorang muslim yang menjenguk orang muslim lainnya pada pagi hari kecuali ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari; dan jika ia menjenguknya pada sore hari maka ia didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari, dan baginya kurma yang dipetik di taman surga.” (HR Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hadits hasan.”)11

– bersambung…

Sumber: Fatwa-Fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qaradhawi

Catatan kaki:

7 Riwayat Muslim dalam “Kitab al-Birr,” hadits nomor 2568, dengan tahqiq Fuad Abdul Baqi, dan diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam al-Jana’iz, hadits nomor 967, dan beliau berkata, “Hasan shahih.” Terbitan Himsh, dengan ta’liq Azat Da’as.

8 Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad, nomor 522, Ahmad dan al-Bazzar, dan disahkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan ini. Lafal mereka berbeda-beda, dan Ahmad meriwayatkan seperti ini dari hadits Ka’ab bin Malik dengan sanad hasan. Al-Fath, 10: 113.

9 Ibnu Majah dalam al-Jana’iz, 1442; Tirmidzi no. 1006.

10 HR Muslim, hadits nomor 2569.

11 HR Tirmidzi, nomor 969. Beliau berkata, “Hasan gharib.”

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (1 votes, average: 2,00 out of 10)
Loading...Loading...
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Guru SGI Angkatan 7 bersama Bupati Pandeglang serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pandeglang. (Sapto Prio Wawan Hadi Wibowo)

Orang “Langka” di Pandeglang