Home / Berita / Opini / Urgensi Politik Dakwah Kampus

Urgensi Politik Dakwah Kampus

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Islam dan politik adalah dua hal yang sangat sulit dipisahkan, Karena sesungguhnya agama Islam adalah agama yang sangatlah kompleks mengatur semua ini dalam kehidupan manusia. Begitu pun politik yang biasa disebut siyasah syar’iyyah (Politik Islam). Yang tentunya berbeda dengan politik pada umumnya (Siyasah al-ammah). Keniscayaan dalam berpolitik bagi aktivis dakwah kampus adalah sesuatu yang membuat mereka niscaya pula memahami ensesi dari politik Islam. Bahwa aktivitas mereka dalam menceburkan diri dalam dunia politik semata-mata didasarkan pada dua prinsip pelayanan dan perbaikan kampus.

Pelayanan (amal Khidamy) adalah sisi utama yang harus dijalankan aktivis dakwah kampus pada masyarakat kampus. Tentunya pelayanan di sini dalam ke-proporsionalan. Karena kaidah dakwah kita adalah melayani sebelum mendakwahi. Mad’u (sasaran kita) mahasiswa amah (umum) dengan memberikan pencerahan kepada mereka tentang hakikat Islam itu (Baca: Fikrah islamiyyah) yang suci jauh dari distorsi dan intervensi musuh-musuh Islam. Di sinilah kita mewarnai intelektual-intelektual masa depan sehingga setidaknya mereka tercerahkan atau berafiliasi terhadap dakwah islamiyyah. Sehingga minimal telinga-telinga mereka tidak terasa “aneh” ketika mendengar: Syari’at, Khilafah, politik Islam, dakwah Islam dsb. Di masa mendatang kita butuh mereka untuk mendukung realisasi kemenangan Islam.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (Yusuf: 108)

Perbaikan (Ishlah). Inilah pembeda politik Islam (Siyasah Syar’iyyah) dengan politik pada umumnya. Esensi penting politik Islam yang menjadi beban berat aktivis dakwah kampus untuk memperbaiki (menghapus) apapun kebathilan yang ada di dalam kampusnya. Ada dua agenda menurut saya yang harus dicermati. Pertama, perbaikan agar terwujudnya biah hasanah di dalam kampus dengan berbagai sarana yang dapat ditempuh aktivis dakwah. Kedua, perbaikan system keuangan, birokrasi dan administrasi kampus. Agar tidak ada lagi mahasiswa yang terugikan oleh kebijakan kampus. Saya ingin mengutip kalimat Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna: “Mengurus persoalan pemerintahan, menjelaskan fungsi-fungsinya, merinci kewajiban dan hak-haknya, melakukan pengawasan terhadap para penguasa untuk kemudian dipatuhi jika mereka melakukan kebaikan dan dikritik jika mereka melakukan kekeliruan”Mengkritik bukan sebuah dosa. Ketika tujuannya untuk sebuah perbaikan. Maka tak ada alasan untuk diam ketika melihat kekeliruan.

Lalu, terpenting adalah menjadi benteng aktivis dakwah kampus dalam mengarungi politik (siyasah) yang tentunya penuh onak dan duri in adalah memahami bahwa kehadirannya dalam perpolitikan kampus semata-mata bukan menginginkan kedudukan, pujian dan hal-hal yang bersifat keduniawian semata. Namun berpolitik karena Allah. Kekuasaan adalah washilah untuk mewujudkan apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya. Bekerja dan bersemangat bukan untuk menyongsong kedudukan dan pujian. Ini penting sebagaimana pesan Almarhum Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah “Jangan sampai suatu saat jamaah ini dipandang orang sebagai jamaah yang memperebutkan kekuasaan saja.”

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deffriannanda

Lihat Juga

Ilustrasi (spesial)

Surat Cinta untuk Perempuan