Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhan, Pendidikan Karakter Bagi Anak

Ramadhan, Pendidikan Karakter Bagi Anak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com / Tjui Tjioe)

dakwatuna.comSelepas pulang mengaji seorang anak bertanya dengan serius, “Bu Guru, kapan kita puasa?” Ibu guru yang ditanya pun tersenyum sambil berkata, “Sebentar lagi nak. Kenapa nak? Kamu senang puasa?” Sang anak pun mengangguk dengan tersenyum sambil terus mengayunkan gandengantangan dengan gurunya.

Bulan suci yang dinanti umat muslim di dunia ini, terutama Indonesia, memang menjadi momen yang membahagiakan. Berkumpul bersama saudara. Membuat makanan berbuka dan melakukan berbagai aktivitas menyenangkan plus berpahala.

Begitu banyak pula respon dari tiap orang dengan kedatangan bulan puasa. Beberapa orang menganggap puasa sangat berat.  Menahan lapar dan haus sejak terbit hingga terbenam matahari. Tak ayal juga beberapa orang kecewa atau bersedih hati ketika bulan puasa tiba, karena tidak dapat melakukan kebiasaan “kesenangannya.” Namun sebagian lainnya memaknai lebih. Puasa sebagai momen perubahan ke arah kebaikan serta menahan melakukan perbuatan dosa.

Bulan Ramadhan bagi anak mungkin asing, sehingga perlu diperkenalkan dan dipahami dengan sebaik-baiknya. Mengetahui dan memahami hakikat bulan suci umat muslim ini. Mulai dari puasa itu sendiri, memperbanyak membaca al-Qur’an, sampai membayar zakat dan ibadah lainnya.

Berpuasa dapat diperkenalkan sebagai bentuk pembelajaran menahan dan mengatur keinginan. Menahan lapar dan haus serta menahan untuk melakukan perbuatan dosa dan sia-sia. Berlatih bersabar.

Memunculkan pula sikap berbagi dan empati. Berbagi dengan teman atau sanak saudara seperti memberi makanan berbuka. Bersedekah semampunya kepada orang yang membutuhkan. Berempati pula terhadap saudara kita yang harus “berpuasa” setiap hari.

Bulan puasa juga dapat menjadi pembiasaan anak untuk shalat. Shalat wajib dan shalat sunnah seperti tarawih. Shalat pada dasarnya mengajarkan anak untuk mengenal dan tunduk kepada Tuhannya. Shalat mengantarkan anak kita untuk senantiasa tunduk dan selalu rendah hati karena Allah yang menguasai segalanya.

Membaca Al-Qur’an atau iqro (pengantar Al-Qur’an) lebih dibiasakan lagi kepada anak. Sebagai seorang muslim, anak harus mengetahui cara membaca kitab sucinya dan terlebih memahami kandungannya. Banyak pelajaran yang bisa disampaikan kepada anak, seperti kisah para nabi beserta akhlaknya yang mulia.

“Saya tidak bisa shalat Pak karena saya tidak tahu dan mama tidak pernah mengajarkan,” ungkapan seperti ini sungguh menyedihkan. Anak memang perlu mendapat contoh kongkret seperti apa itu shalat dan ibadah lainnya. Dan terpenting mencobanya langsung sehingga menjadi pengalaman yang akan terus membekas.

Lebih miris lagi saat seorang anak diminta shalat tapi tidak mau dan berkata, “Ayah saja tidak shalat, kenapa saya harus shalat? Saya lebih senang menonton televisi!” Atau anak berbicara, “Aku lebih hebat daripada ayah…aku puasa tapi ayah nggak…ayah makan dan merokok”

Anak layaknya seperti kertas putih. Ia akan bermanfaat saat tulisan di atasnya ditulis dengan cara yang benar dan bermakna. Jika asal saja maka hanya guratan coretan di atas kertas bahkan jika terlalu keras dapat merobeknya. Lain lagi jika ditulis dengan benar tapi isi tulisan tidak bermakna maka ia akan sia-sia dan dibuang begitu saja. Begitulah perumpamaannya. Sungguh menjadi tanggung jawab besar para orangtua dan pendidik, dalam membentuk diri anak.

Dalam membentuk diri anak, proses imitasi atau meniru masih terbilang cara yang paling ampuh. Secara psikologi perkembangan, anak memiliki sifat holistik (menyeluruh/umum), kongkret, dan pengalaman langsung. Sifat seperti ini yang menjadi modal bagi orangtua dan pendidik untuk mencetak generasi seperti apa yang diharapkan.

Sepatutnyalah bulan yang penuh berkah ini dapat menjadi momen untuk anak meniru kebaikan. Wahai para orangtua dan pendidik, anak kita masih membutuhkan pendampingan dalam menjalani hidup ini.  Mereka membutuhkan teladan dan contoh yang baik. Mereka bukan orang dewasa yang mengerti dengan cepat. Mereka masih memerlukan bantuan mengenal dunia ini.

Mari ciptakan generasi yang berkarakter Islami. Jadikan Bulan Ramadhan sebagai momen perubahan pada kebaikan dan mencetak generasi yang Islami. Moga Bulan Ramadhan tahun ini, semakin banyak anak yang berkarakter Islami, cerdas, kuat dan berakhlak baik hingga waktu selanjutnya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 5,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dhiyaudzdzikrillah, SP.
Dari Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa Jakarta yang sedang pengabdian di SDN 1 Wagola, Pasarwajo, Buton, Sulawesi Tenggara.

Lihat Juga

kpai

Pandangan Hukum tentang Memukul dalam Pendidikan