Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Tanya Kenapa untuk Syariah

Jangan Tanya Kenapa untuk Syariah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com Belakangan, semangat beribadah dalam bulan Ramadhan ini menjadikan banyak dari kawan-kawan seiman kita yang juga makin giat menuntut ilmu di bulan Ramadhan ini, ilmu syariah khususnya. Banyak pertanyaan yang mereka ajukan kepada para asatidz, baik itu lewat sms, telepon, FB, Twitter dan media-media lainnya, termasuk dalam pengajian.

Tapi sangat disayangkan dalam pertanyaan-pertanyaan mereka kepada para asatidz yang saya ketahui. Yaitu pertanyaan “Kenapa begini, kenapa begitu?”. Contoh:

“Kenapa lelaki muslim boleh menikahi wanita ahli kitab, tapi tidak sebaliknya?”

“Kenapa lelaki wajib mandi wajib jika keluar air mani padahal itu tidak najis?”

“Kenapa wudhu harus mengusap muka?”

“Kenapa begini?”

“Kenapa begitu?”

“Kenapa dan sebagai……”

Pertanyaan seperti ini tidak dikenal dalam syariah dan sangat tidak layak untuk ditanyakan. Dan kita tidak bisa bertanya “kenapa” pada syariat agung ini yang telah Allah tetapkan. Karena Kalau pertanyaannya “kenapa?” ya tidak ada jawaban yang pas dan bisa untuk dijawab. Karena kalau “kenapa”, jawabannya Cuma satu, yaitu: “Allah bikin aturannya begitu!”

Yang benar bukan “kenapa?”, akan tetapi “APA HIKMAHNYA?”. Itu yang harus ditanyakan. Buka ingin mengorek kenapa begini kenapa begitu. Karena syariat ini diturunkan untuk kita bisa menjalankannya sebagai pedoman hidup. Bukan untuk dicari-cari celahnya. Dan memang tugas seorang muslim hanyalah taat dan manut apa yang telah ditetapkan oleh pembuat syariah, Allah SWT.

Karena dengan bertanya “kenapa” terhadap syariat yang telah diturunkan itu berarti kita telah menggugat Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur kehidupan dunia ini. Dan ‘Gugatan” itu lahir dari ketidaksenangan, atau ketidakridhaan seseorang kepada apa yang dihadapinya. Berarti ia tidak senang dengan syariat Islam itu sendiri, muslim yang tidak senang kepada syariat berarti imannya perlu dipertanyakan.

Pertanyaan “kenapa” lahir dari kurang kuatnya Iman dalam diri ini. Terkadang atau sering kali dalam hal agama, kita harus menanggalkan subjektifitas-subjektifitas kita sebagai manusia. Tidak bisa semuanya diukur dengan akal manusia. Tapi harusnya imanlah yang kita dahulukan dalam mengukur setiap hal dalam beragama.

Dan pertanyaan “kenapa” juga berarti kita telah menghakimi Allah tentang apa yang Ia telah tetapkan, dan ini sungguh tidak layak bagi seorang hamba. Bagaimana bisa ia menggugat dan mempertanyakan Tuhannya akan apa yang telah Ia tetapkan?

“Dia (Allah) tidak ditanya akan apa yang telah Ia kerjakan, akan tetapi merekalah (manusia) yang akan ditanya” (QS Al-Anbiya’ 23)

Kalau selalu mengukur dengan ukuran manusia, yaitu otak dan akal, akal manusia tidak akan sampai dan tak akan menemukan jawaban yang pasti. Karena seberapa pun kejeniusan manusia, manusia tetaplah makhluk yang lemah dan punya banyak keterbatasan. Tapi tidak dengan sang maha Pencipta yang tidak ada kekurangan apapun.

Sebagai muslim, kita dituntut untuk selalu tunduk dengan apa yang dibawa oleh agama ini. Baik itu perintah, larangan, atau informasi-informasi yang datang dari sumber syariah; Al-Quran dan Sunnah.  Dan juga sebaliknya, jika kita melanggar, ada konsekuensi yang harus kita terima.

Dalam Al-Quran, Allah SWT dengan gamblang mengatakan bahwa tiada cela bagi manusia untuk menolak semua yang telah diperintahkan. Surat Al-Ahzab ayat 36

“Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin; laki-laki dan perempuan, jika Allah dan rasulNya telah menetapkan suatu ketetapan untuk (mereka) punya pilihan lain dalam urusan-urusan mereka. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata” (QS Al-Ahzab 36)

Jadi sangat jelas sekali, bahwa seorang muslim wajib tunduk dengan apa yang telah diperintahkan. Bukan mencari-cari “kenapa” ini diperintahkan. Allah-lah yang berhak memerintahkan kita, Allah pulalah yang tahu apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk kita. Karena Dia-lah sang maha pencipta. Jadi Dia-lah yang tahu segala.

Terlebih bahwa di akhir ayat tersebut ada ancaman jika kita meninggalkan apa yang telah diperintahkan, “dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan rasulNya, sungguh ia telah tersesat dalam kesesatan yang nyata”.

Dalam ayat lain juga dijelaskan hal demikian, yaitu ancaman azab yang pedih jika kita meninggalkan perintah syariah.

“Dan hendaklah mereka yang melanggar perintah RasulNya itu takut akan ditimpa musibah dan siksaan yang pedih” (QS An-Nur 63)

Jadi otaklah yang harus tunduk pada syariat, bukan otak yang selalu menghukumi syariah. Karena memang akal manusia yang sehat itu pasti tunduk akan apa yang telah dibawa oleh syariat agama ini.

Rasul SAW bersabda:  

“Demi zat yang menggenggam jiwa ini, sungguh tidak beriman seseorang di antara kalian (tidak sempurna imannya) sampai hawa nafsu mengikuti apa yang telah aku bawa (syariah agama)” (Hadits shahih yang diriwayatkan di dalam kitab Hujjah yang disusun oleh Abu Al-Fath Nashr Ibnu Ibrahim Al-Maqdisy dengan sanad shahih)

Termasuk juga dalam masalah musibah atau bencana. Seorang muslim tidak dibenarkan menanyakan dan menggugat Allah dengan bertanya “kenapa musibah?”. Kenapa musibah itu diturunkan tentu karena banyak hikmah, dan Allah tidak pernah menzhalimi hambaNya kecuali hamba itu sendiri yang menzhalimi dirinya sendiri.

Dalam musibah gempa atau tsunami misalnya, penelitian dan jawaban yang diberikan oleh para peneliti atau ilmuwan tentang “kenapa” itu bisa terjadi. Itu bukan jawaban untuk sola “kenapa”, akan tetapi itu jawaban untuk soal “bagaimana” gempa atau tsunami itu bisa terjadi.

“Kenapa terjadi?” hanya Allah yang tahu itu semua.

Maka dari itu Rasul dari jauh-jauh hari telah mengingatkan dan mengajarkan kita agar selalu memohon kepada Allah untuk diberikan kelembutan hati agar bias menangkap semua hikmah dibalik setiap kejadian.

Wallahu A’lam.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ahmad Zarkasih
Mahasiswa. Lahir di Jakarta tahun 1989.

Lihat Juga

Agus Kuncoro

Terkait Musibah Mina, Agus Kuncoro: Kalau Saya Bersyukur Bisa Meninggal Saat Ibadah