Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ramadhan, Penawar Manis Keangkuhan

Ramadhan, Penawar Manis Keangkuhan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Memahami segala kondisi dan keadaan, kita akan menemukan hangatnya sebuah persaudaraan. Bahwa orang-orang merasa nyaman dengan diri kita. Dan membantu orang lain merasa tenang berada di dekat kita. Meski pertemuan singkat, namun tak menghalangi hangatnya dekapan persaudaraan yang mungkin akan terjalin dalam jangka panjang.

Buka puasa bersama di bulan Ramadhan, mungkin salah satu jalan kita bisa memahami segala kondisi. Berinteraksi dengan orang-orang yang mungkin belum dikenal, menjalin komunikasi, saling bertutur sapa, hingga akhirnya terjalin ukhuwah (persaudaraan dalam Islam). Merasakan kedekatan antar sesama muslim yang jarang bertemu. Rasa saling empati, hingga mendatangkan rasa itsar -saling mendahulukan saudara seiman- meski tinggal di negeri muslim minoritas.

Dan mungkin ini pula yang menjadi salah satu sasaran organisasi Komunitas Masyarakat Muslim Indonesia di Jepang. Sebuah organisasi perkumpulan masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di wilayah Tokyo dan sekitarnya. Mengadakan buka puasa bersama (Bukber) setiap Ahad di bulan Ramadhan. Menjamu para warga muslim di bulan suci Ramadhan, siapa saja, tak kenal warna kulit, untuk berbuka puasa bersama. Hingga manisnya ukhuwah, indahnya Ramadhan masih bisa dirasakan meski tinggal di negeri seberang.

Sangat disayangkan, jika suasana ruhiyah tinggi dalam berukhuwah pada acara buka puasa bersama, harus tereliminasi hanya karena ada keangkuhan yang dipermanis oleh orang-orang yang merasa tak nyaman dengan kondisi. Merasa terganggu dengan kunjungan beberapa warga yang membawa para jundi-jundi ciliknya, untuk ikut menikmati suasana Ramadhan. Tak bisa memahami bahwa mereka datang dengan si cilik dari tempat jauh, berganti kereta dari stasiun ke stasiun, di tengah terik musim panas, perut kosong kerongkongan dahaga, demi sebuah niatan baik. Ingin mengenalkan indahnya Ramadhan pada si cilik melalui Bukber. Lebih awal datang ke acara, menyimak live kajian taushiyah dari beberapa ustadz yang sengaja diundang dari Indonesia hingga shalat tarawih berjamaah.

Suasana tawa cilik, lari-lari kecil sang jundi, dan hiruk pikuk para ibu yang berusaha membantu penyediaan ta’jil terasa menjadi gangguan-gangguan yang harus ‘ditertibkan’. Hingga tak jarang beberapa pasang mata mulai mendelik lalu bermuka masam. Melirik kanan kiri dengan wajah tak ramah.

Hingga tak jarang terdengar peluit dari mulut “Sssttt…! Sssssttt…!” Yang berakhir pada sebuah instruksi dari mulut ke mulut agar anak-anak cilik dihentikan dari tawanya, diharuskan duduk manis menyimak kajian. Sedangkan untuk para ibu yang sudah terlanjur dicap ‘hiruk pikuk’ di tengah taushiyah, dipaksa harus terhentak dengan pertanyaan eksplisit.

“Kenapa orang Islam, tapi jarang yang memiliki perilaku Islam? Sibuk sendiri di tengah Kajian Islam….!”

Sebuah “perseteruan” klasik yang mungkin saja terjadi di manapun. Tidak hanya di Indonesia yang bermayoritas muslim, hatta di Jepang pun yang muslim minoritas, itu terjadi. Anak-anak menjadi “momok” yang mengganggu jalannya kekhusyuan tarawih, gotong royong para ibu menyediakan ta’jil menjadi “hiruk pikuk” yang merusak indahnya seruan ceramah.

Entah tepat atau tidak, saya ingin mengatakan, sebetulnya mereka yang tak nyaman dengan keadaan “aktivis” anak-anak kecil dan “hiruk pikuk ukhuwah” para ibu menyediakan ta’jil adalah orang-orang yang sedang mempermanis keangkuhan diri. Mempermanis keangkuhan dalam arti mencari kenyamanan diri, tanpa peduli kenyamanan orang lain. Menolak apa yang selayaknya diterima. Lalu menafsirkan negatif orang-orang yang sebetulnya memiliki keikhlasan –ingin memaknai Ramadhan lebih indah bagi keluarga– menjadi orang-orang yang tidak berperilaku Islami.

Mari kita belajar dari sang Rasulullah shalallahu`alaihi wassalam. Yang dengan muka masamnya pada seorang buta telah ditegur Allah.

QS Abasa menjelaskan betapa Allah tidak menyenangi orang-orang yang mempermanis keangkuhan. Meski kita tahu, alasan “Sang Utusan” bermuka masam adalah “manis”. Ingin menyampaikan indahnya Islam pada para pembesar Quraisy. Hingga merasa diinterupsi ketika sedang melaksanakan tugas mulia; Berdakwah, Lalu beliau tak nyaman oleh pertanyaan seorang buta Abdullah Ibn Ibnu Maktum. Hingga kemudian Rasulullah disadarkan dengan teguran. Yang darinya Ia, selalu mengingat kekhilafannya, berlaku manis dengan keangkuhan.

“Selamat datang duhai orang yang karenanya aku ditegur Rabbku!” Sejak peristiwa itu, Sang nabi selalu tersenyum menyambut Abdullah Ibn Maktum, yang lalu mentahrimkannya dalam majelis. Dengan menggandeng tangan, menggenggam jemarinya lalu mendudukkan di sebelahnya. Beliau memahami, setiap pribadi perlu dihargai, untuk merasa nyaman. Bahwa keangkuhan walau beralasan manis tidaklah baik.

Mari kita pun belajar tentang menghargai sang aktivis cilik dari Rasulullah. Betapa beliau tak segan bersujud panjang saat sang cucu menaiki punggungnya. Tak ada larangan khusus yang kemudian beliau berikan kepada Hasan Hussein sang cucu agar tidak bergaduh saat shalat. Semata beliau memahami, begitulah dunia anak. Belajar dari lingkungannya dengan cara bermain. Learning by doing.

Berusaha mengerti bahwa dunia anak adalah fase mula`abah (bermain). Para aktivis cilik tidak bisa langsung ditertibkan hingga terduduk manis, rapi tak bersuara, tak berlari ke sana kemari, hingga mendapat pujian. Karena dari bermainnya sebenarnya mereka tengah menyimak suasana Islami penuh keakraban.

Sesungguhnya, memahami dunia anak kecil adalah dunia yang tidak sama dengan kaum dewasa tanda bahwa kita mampu mengekang keangkuhan yang mungkin terasa manis. Dengan tidak beralasan; anak kecil berisik, mengganggu ibadah, tidak tahu adab majelis dan masjid, dsb.

Mempermanis keangkuhan adalah situasi jiwa yang sering menggoda kebanyakan kita tanpa sadar. Merasa diri perlu dihargai namun enggan menghargai. Ingin dimengerti tapi tak mau mengerti. Ingin dipahami tapi tak mau memahami. Ingin kenyamanan tapi tak mau memberi kenyamanan.

Kembali pada hakikat puasa, sesungguhnya shaum di bulan suci Ramadhan adalah kesanggupan kita menguasai diri, mengendalikan syahwat dan meredam hawa nafsu, terhadap apa saja, sekecil apapun. Pun Ramadhan mengajarkan kita untuk berjiwa sosial. Mampu merasakan kondisi tak hanya pada orang-orang “papa,” namun juga belajar berempati akan perasaan orang-orang di sekeliling kita.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum untuk menghapus manisnya keangkuhan yang mungkin terjadi pada diri tanpa disadari. Darinya sang nafsu diajarkan untuk tidak merasa angkuh melihat hal yang tak nyaman dengan diri. Dengannya sang ego diarahkan untuk sanggup menguasai diri, tak terkecuali pada berisiknya anak-anak kecil di sela-sela shalat tarawih ataupun ceramah.

Karena berpuasa Ramadhan, bukan sekadar benar secara hukum, tapi hampa secara makna. Jangan sampai Ramadhan kita terkoyak hanya karena keangkuhan yang dipermanis yang membuat beberapa hati mungkin tersakiti tanpa disengaja. Namun sebaliknya, dengan Ramadhan, mari kita temukan hangatnya persaudaraan.

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pengajar taman kanak-kanak dan guru bahasa Jepang di Sekolah Republik Indonesia Tokyo.
  • Terima kasih utk inspirasinya. Segala sesuatu kadang selalu bisa dilihat dari dua sisi. Sisi negatif dan sisi positifnya. keangkuhan kita kadang hanya selalu melihat sesuatu dari sisi negatifnya saja.

  • ya

Lihat Juga

Ilustrasi - Jamaah shalat di sebuah masjid di Pattani, Thailand. (senejet.net)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Agar Kemesraan Tak Segera Berlalu