16:23 - Kamis, 23 Oktober 2014
Heri Heryanto

Edisi Ramadhan: Taqwa

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Heri Heryanto - 03/08/12 | 09:30 | 15 Ramadhan 1433 H

Logo Olimpiade 2012. (ROL)

dakwatuna.com – Gegap gempita pembukaan olimpiade London sabtu dini hari (28/07/12) menandakan ajang pesta olahraga dunia empat tahunan itu resmi dibuka. Bukan hanya atlet, sponsor atau official yang ikut bersuka cita. Warga London dan warga dunia yang suka olahraga juga menyambut dengan versi masing-masing. Pastinya semua sudah mempersiapkan secara matang agar bisa tampil maksimal. Terutama tuan rumah dan para atlet yang sudah mempersiapkan itu semua jauh jauh hari. Para atlet sendiri ada yang mengikuti pelatihan di luar negeri ataupun hanya di dalam negeri. Begitu juga dengan atlet Indonesia. Untuk bisa tampil maksimal mereka pun rela tidak berpuasa Ramadhan selama mengikuti turnamen dunia tersebut.

Kita tidak akan membahas hukum puasa bagi para atlet. Tim olimpiade melakukan persiapan dengan gigih karena menginginkan hadiah yang istimewa di ajang tersebut, yaitu mendapatkan medali. Dan medali emas adalah primadona dari ajang tersebut. Atlet yang mendapat medali otomatis dia mendapat hadiah dari sponsor dan dari pemerintahnya.

Kita bisa menganalogikan penyambutan dan keberjalanan event tersebut dengan persiapan kita menghadapi bulan Ramadhan.  Meskipun bulan Ramadhan sudah sampai pada hari ke 11, masih belum terlambat ketika kita bisa memperbaharui semangat berpuasa di hari hari berikutnya. Tidak ada kata terlambat dalam kebaikan.

Seharusnya banyak persiapan yang harus dimatangkan sebelum Ramadhan tiba. Baik persiapan jasadi (fisik) agar kita tidak sakit selama Ramadhan dan bisa melaksanakan Ramadhan secara penuh dan totalitas. Persiapan maali (keuangan) juga perlu disiapkan agar shadaqah kita bisa maksimal. Persiapan fikri (pengetahuan) juga apalagi biar kita tidak bingung, perbuatan yang kita lakukan bisa membatalkan puasa atau tidak dan terakhir persiapan ruhy (hubungan kedekatan kita dengan Allah swt). Persiapan yang matang akan memudahkan kita mencapai tujuan Ramadhan yaitu mendapat predikat dari Allah swt.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al-Baqarah: 183)

Seruan ini di khususkan untuk orang-orang yang beriman. Manusia yang beriman ternyata belum tentu bertaqwa, karena seruan berpuasa adalah seruan untuk orang-orang beriman agar ia mendapatkan derajat takwa di sisi Tuhannya bukan di sisi manusia, dan mendapat kemenangan yang nyata.

أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ إِنَّ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Alhujurat 49:13)

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan
bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”
(An-Nur 24: 52)

Secara etimologis takwa berarti menjaga diri dari segala yang membahayakan atau berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu. Kata taqwâ (تَقْوَى) juga bersinonim dengan kata khaûf (خَوْف) dan khasyyah (خَشْيَة) yang berarti “takut”. Bahkan, kata ini mempunyai pengertian yang hampir sama dengan kata taat. Kata taqwâ yang dihubungkan dengan kata thâ‘ah (طَاعَة) dan khasyyah (خَشْيَة)

Istilah syar‘i (hukum), kata takwa mengandung pengertian “menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah Swt. dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya”. Di dalam al-Quran kata ini disebut 258 kali.

Untuk mencapai derajat takwa, ternyata pengorbanannya tidak semahal dengan pengorbanan yang harus dilakukan untuk mendapatkan kemenangan olimpiade. Cukup dengan apa yang kita miliki tanpa bantuan fasilitas mewah lainnya, sesuai kemampuan finansial dan kemampuan fisik kita.  Memang tidak mudah untuk mencapai derajat takwa, maka dari itu Allah memerintahkan kita

تَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَا  “Maka bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.”(QS. At Taghobun: 16) tapi kemampuan ini kemampuan yang maksimal maka dari itu dipertegas oleh Allah Ta’ala:

اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ  “Bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa.”(QS. Ali Imran: 102).

Syekh Abdullah Al Azzam pernah memberikan contoh terkait dengan istilah semampunya. Yang merupakan daya upaya yang kita kerjakan sampai Allah sendiri yang menghentikannya.

Suatu ketika sang syekh ditanya oleh seorang muridnya. Ya syekh apa yang dimaksud dengan semampumu (mastato’tum). Syekh pun membawa muridnya kelapangan dan meminta mereka mengelilingi lapangan semampu mereka. Startnya sama tapi finish dan jumlah putaran masing-masing berbeda. Ada yang 3 kali putaran sudah kecapean dan menyerah ada yang lebih dari itu. Setelah muridnya sudah menepi untuk istirahat syekh pun gantian berlari. Para murid pun kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua lari mengelilingi lapangan, mereka berupaya menahan apa yang akan dilakukan syekh tapi tidak berhasil. Sang murid sudah melihat muka syeikhnya pucat pasi tanda kelelahan tapi sang murid hanya bisa berteriak dan memohon “ya syekh cukup, saya tidak tega melihat yang syekh lakukan. Saya takut terjadi apa-apa sama syekh. Hentikan syekh.” Tapi syekh Abdullah al-azzam terus berlari dan pada akhirnya syekh pun jatuh pingsan. Para muridnya tambah panik dan berusaha membuat syekh Abdullah al-azzam terbangun. Beliau pun akhirnya siuman dan sadar. Beliau langsung mengatakan. “Inilah yang dinamakan semampu kita (mastato’tum). Kita berusaha maksimal sampai Allah sendiri yang akan menghentikan perjuangan kita”

Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya — Fi Zhilal al-Qur’an — taqwa adalah kepekaan hati, kehalusan perasaan, rasa khawatir yang terus menerus dan hati-hati terhadap semua duri kehidupan. Saat Umar RA bertanya kepada Ubay bin Ka’ab apakah taqwa itu? Dia menjawab; “Pernahkah kamu melalui jalan berduri?” Umar menjawab; “Pernah!” Ubay menyambung, “Lalu apa yang kamu lakukan?” Umar menjawab; “Aku berhati-hati, waspada dan penuh keseriusan.” Maka Ubay berkata; “Maka demikian pulalah taqwa!”

Keutamaan Takwa

  • Diberi pahala. Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertaqwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan Sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. Al Baqarah: 103)
  • Mendapat surga Allah. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa,(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Ali Imran: 133-134)
  • Disukai Allah.  (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertaqwa, Maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran: 76)
  • Tidak tertipu dengan kehidupan dunia Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran: 120)
  • Menjadi Orang beruntung. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran: 200)
  • Menjadi orang yang bersyukur. Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar [224], Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah [225]. Karena itu bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.
  • Diberi rahmat Allah yang berlebih dan keberkahanNYa. Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, Maka ikutilah Dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat. (QS. Al An’am: 155)

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A’raf: 96)

  • Selalu ingat Allah. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al A’raf: 201)
  • Mendapat petunjuk membedakan yang baik dan tidak. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan [607]. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al Anfal: 29)
  • Diberi jalan keluar di setiap permasalahan. Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. (QS. At Thalaaq: 2)
Heri Heryanto

Tentang Heri Heryanto

#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Topik:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (4 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
87 queries in 1,723 seconds.