Home / Berita / Opini / Benarkah Kita Kader Rohis atau Kader Sospol?

Benarkah Kita Kader Rohis atau Kader Sospol?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com Dakwah merupakan suatu keniscayaan. Gerbong kereta dakwah yang berhenti dari stasiun satu ke stasiun lain ketika menaikkan penumpang atau menurunkan penumpang akan bergerak kembali menuju tujuan akhirnya. Begitu juga dengan dakwah kampus, semuanya akan terus berjalan meskipun ada atau tidak ada kita di sana. Tapi yakinlah bahwa orang-orang yang menolong agama Allah adalah orang-orang yang terbaik yang merupakan pilihan Allah langsung. Sehingga pilihannya adalah terhormat atau terhina di hadapan Allah.

“Dan jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kalian) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kalian (ini).” (QS. Muhammad: 38).

Tapi terkadang kita sendiri tidak sadar akan hal itu (kemampuan kita). Kita masih fokus pada kelemahan dan ketidakmampuan kita. Padahal Allah telah memilih kita, dan alasan Allah memilih kita jauh lebih rasional dari pilihan manusia. Yakinlah jika kita ikhlas karena Allah maka Allah akan meneguhkan kedudukan kita. Bukan hanya di kampus, bahkan pasca kampus. Bukan hanya di dunia tapi juga pasca dunia.

“Dan Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong (agama) Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa. Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan kepada Allah lah kembali segala urusan” (Q.S. Al-Haj: 40-41).

Terkadang kemenangan dakwah tertunda oleh ulah Da’inya sendiri dengan mengkotak-kotakkan yang satu dengan yang lain (baik siyasi, da’awi dan ‘ilmi). Atau penundaan kemenangan itu karena kita ujub atau karena kita merasa tidak mampu. Bahkan menurut Ust. Fathi Yakan, Dakwah itu sendiri bisa roboh di tangan para Da’inya. Entah karena tidak bisa mengatur persoalan personal atau karena tidak bisa mengatur persoalan internal lembaga dakwah di samping persoalan eksternal yang menghalang-halangi keberjalanan dakwah. Untuk itu seorang da’i dituntut untuk bisa menguasai persoalan yang ada dan menjadi problem solver bagi masyarakat sekitar. Tidak mudah memang tapi kita mencoba berproses.

Persoalan yang menonjol di kampus adalah klaim sepihak (personal) yang menyatakan dirinya kader Rohis atau kader sospol. Padahal mereka (mohon maaf) belum bisa disebut kader sospol atau kader Rohis. Memangnya mereka bisa apa sehingga bisa muncul statement dirinya adalah hanya kader Rohis atau hanya kader sospol sehingga enggan membantu agenda lini lain (tanpa memikirkan ranah dakwah lain) yang harus kita seimbangkan? Memangnya sudah punya pemikiran apa untuk Rohis atau sospol? Memangnya sudah melakukan amal apa untuk Rohis atau sospol. Mungkin yang ada hanya bisa menyampaikan qadhaya dan qadhaya tanpa membuahkan solusi yang kongkret untuk permasalahan tersebut. Untung saja cuma bisa menyampaikan masalah, yang lebih parah lagi terkadang hanya bisa bikin masalah. Benar tidak? Kerja kita memang belum apa-apa dibanding muassis (pendiri) dakwah terdahulu. Atau yang sering terjadi adalah Kader lini tertentu enggan acaranya ditabrakkan dengan kader lini lain, mereka berlomba beralasan bahwa agenda lininya yang paling penting. Kader lini tertentu enggan membantu agenda lembaga lini lain dengan alasan sudah difokuskan di lini tertentu. Pantas saja proyek dakwah ini tak kunjung menemukan aura kemenangan. Apakah seperti itu sikap dan mental kader dakwah.

Ingat kawan, lembaga (wajihah) itu adalah wasail (sarana). Begitu juga dengan wasilah lainnya, sehingga tidak menjadikan kita sebagai kader lembaga saja. Ada misi indah yang kita rangkai dalam kita mengelola itu semua, meskipun untuk menuju mimpi-mimpi itu tidaklah mudah sehingga perlu persatuan dan kesatuan dari para mesin dakwah kampus yang ada.

Kita ditarbiyah bukan untuk tujuan dipecah belah, kita ditarbiyah bukan untuk mengkotak-kotakan semata, kita ditarbiyah bukan untuk dijadikan umpan perpecahan belaka. Kita ditarbiyah untuk menjadi kader yang rabbani. Kita ditarbiyah untuk bersatu memenangkan mega proyek dakwah ini.

Jangan-jangan tarbiyah kita selama ini hanya ikut ikutan, atau hanya karena gengsi biar tidak dibilang ndak ngaji, atau hanya mengisi kesibukan tanpa makna. Atau karena terpaksa, atau karena….. (silakan ditanya dan dijawab sendiri). Pemahaman mendalam tentang aktivitas tarbiyah yang kita lakukan insya Allah akan menjadi penyemangat kita dalam mengarungi jalan dakwah ini.

Tarbiyah membalut itu semua, tarbiyah menyatukan serpihan halus dan serpihan kasar yang tercecer guna mewujudkan kehidupan kampus yang madani. Tarbiyah islamiyah salah satu ikatan yang mengikat kita menjadi jundi-jundi Allah yang siap membela agamaNya, bukan siap membela lembaganya.

Kita kader tarbiyah yang siap memenangkan proyek dakwah yang ada. Entah itu di lini da’awi, siyasi, ilmi dan lini-lini yang lain. Pembagian lini adalah bentuk ikhtiyar dan tidak bisa dijadikan pakem bahwa orang yang sudah ditempatkan di lini tertentu tidak bisa membantu agenda dakwah di lini yang lain. Ingat Antum/na kader lembaga atau kader jamaah ini (tarbiyah)?

Ini renungan buat saya pribadi semoga bisa bermanfaat bagi yang lain.

Allahu’alam bishowab.

 

About these ads

Redaktur: Lurita Putri Permatasari

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 9,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Heri Heryanto
#Konsultan, #Alumni FSLDK, #Melingkar, Pencari Ridho Allah SWT

Lihat Juga

ilustrasi (inet)

Tentang Kader dan Wajihah Kita