Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Al-Amin Takkan Pernah Mampir, Apalagi Bermukim

Al-Amin Takkan Pernah Mampir, Apalagi Bermukim

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (dakwatuna.com/hdn)

dakwatuna.com – “Ikuutt…!” paksa sang anak saat ibunya hendak melangkah.

“Adek! Jangan! Mama mau ke rumah sakit. Mau disuntik adek? Hiss ngeri” mencoba jurus menakut-nakuti anak agar tidak menangis dan minta ikut. Ternyata berhasil. Sang ibu kemudian pergi melenggang ke hajatan tetangganya. Nyaman menanam kebohongan sejak dini.

“Diam kasep! Anak mama gak boleh cengeng. Kalau nangis terus nanti keluar hantu. Nah, tuh dengar…” si Ayah di belakang pintu sibuk memainkan suara mulutnya agar terlihat angker. Berhasil. Anak terdiam sambil memeluk ibunya erat- erat. Kolaborasi kebohongan yang apik.

“Cep, cep, cep! Anak Baik. Sakit ya kakinya jatuh. Pukul kodoknya. E eh, kodoknya lari!”.

Hampir semua anak tumbuh dengan tunas kebohongan yang dipupuk sejak dari benih. Mereka lambat laun akan mengetahui bahwa selama ini sang ibu membohonginya. Mereka mungkin hanya akan diam. Mereka tidak akan berontak marah dengan sekian banyak ketidakjujuran yang mesti ditelan setiap harinya. Akan tetapi mereka mempunyai satu modal dasar untuk menjadi seorang pembohong.

Lalu layakkah kita berteriak di mimbar-mimbar, dari satu podium ke podium lain, dari satu majelis ke majelis lain, dengan bekal sekantung keyakinan yang kuat untuk mengubah bangsa berujar dengan fasihnya “Kejujuran adalah nilai yang harus dimiliki oleh bangsa ini”, padahal sesungguhnya anak kita di rumah kerap disuguhi mentah-mentah dengan kebohongan-kebohongan yang dianggap biasa.

Anak itu sekarang sudah dewasa. Anak itu adalah kita. Mungkin kita menganggap itu hanya masa kecil dahulu. Ibu tidak berbohong lagi kok sekarang. Tapi tahukah, bahwa ternyata kebohongan itu sudah mendarah daging di dalam diri kita. Kalau kita jujur mengukur, tak terhitung jumlahnya kebohongan demi kebohongan yang terlontar. Berapa kali sudah kita bohongi orang tua saat kita duduk kongkow-kongkow dengan teman-teman dan atau berkencan dengan seorang pujaan hati? Berapa kali sudah kita bohongi guru-guru kita di setiap ujian selalu ada resep khusus yang diletakkan di tempat-tempat khusus? Sudah berapa kali kita bohongi teman-teman kita, orang-orang yang ada di sekeliling kita? Bahkan di setiap candaan kita selalu diwarnai kebohongan.

“Celakalah orang yang berbicara lalu ia berdusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Dan ketika hati ini sudah menjadi keruh maka nilai kejujuran sudah tidak berarti lagi. Bahkan nilai “sumpah” yang seharusnya tinggi dianggap sepele.

“Tidaklah seseorang bersumpah demi Allah lalu ia masukkkan ke dalam sumpahnya sebesar sayap nyamuk, melainkan itu menjadi noktah dalam hatinya sampai hari kiamat” (HR. Tirmidzi Dan Hakim dengan sanad yang Shahih)

Allah… aku merindukan sosok yang jujur sebagaimana pribadi RasulMu, hadir di tengah-tengah dunia yang penuh kebohongan ini. Mungkinkah Al-Amin dan Siddik itu mampir dan bermukim di hati kami, sebagaimana Rasulullah dan sahabat Abu Bakar?

Ketidakjujuran ini ibarat mata rantai yang tidak terputus. Turun-temurun. Mari kita mulai memotong satu mata rantai itu agar tidak ada ketersambungan dengan generasi yang akan datang.

Dalam sebuah pidatonya saat Rasulullah wafat. Abu bakar dengan mata yang sembab berujar “Rasulullah pernah berdiri di hadapan kita sebagaimana aku berdiri saat ini” kata-kata terpotong dan Abu Bakar menangis hingga air matanya menetes. Ia melanjutkan “Beliau bersabda: kamu harus berlaku jujur karena kejujuran bersama kebajikan dan keduanya berada di surga”.

Dalam kitab yang masyhur Tazkiyatun Nafs, Said Hawa menuliskan bahwa dusta merupakan dosa menjijikkan dan aib yang keji.

Subhanallah… begitu tingginya nilai kejujuran.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Dede C Habibillah
Mahasiswa PSKG, FK Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Lihat Juga

Hati-Hati dengan Ar-Ruwaibidhah