Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Wanita di Balik Panggung Sejarah

Wanita di Balik Panggung Sejarah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

Khadijah RA, Sang Wanita dengan Syarat Sempurna

dakwatuna.com Sungguh, Beliau paham benar atas apa yang diucapkannya: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena harta, karena keturunan, karena kecantikan, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.”

Khadijah, merupakan seorang istri pertama Rasulullah SAW yang menemani beliau hingga Muhammad SAW berusia 50 tahun. Atau sekitar selama 25 tahun hidup bersama pada masa awal berdakwah dalam fase sulit penuh tekanan.

Wanita satu ini begitu istimewa di hati Rasulullah SAW. Pernahkah kita terpikir akan keterkaitan keempat syarat wanita untuk dinikahi yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW tersebut dengan sang Khadijah? Ya, keempat kriteria wanita yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW tersebut, semuanya ada pada Khadijah.

Atas alasan agama, nyata benar bahwa Khadijah-lah yang pertama kali mengamini saat Muhammad SAW mengutarakan perihal kenabiannya tersebut.  Bahkan Ia lah yang menegarkan hati Muhammad SAW saat bertemu pertama kali dengan Jibril di Gua Hira’.

Faktor keturunan, Khadijah tidak diragukan lagi. Ia merupakan anak dari, Khuwailid, salah seorang bangsawan Quraisy. Bapaknya merupakan salah seorang yang sangat terpandang pada masanya. Dan nashab Rasulullah dan Khadijah bertemu pada kakek buyut mereka, Qushai.

Terkait harta, tidak perlu diperdebatkan. Karena kita semua tahu bahwa Khadijah merupakan wanita saudagar kaya pada masa itu. Khadijah pun sempat melakukan relasi bisnis dengan Muhammad SAW, sebelum akhirnya mereka menikah. Khadijah sebagai shahibul maal (pemilik modal), sedangkan Muhammad SAW sebagai mudharib (business manager), yang melakukan bisnis ke seantero jazirah Arab dengan membawa barang-barang dagangan Khadijah.

Dan, masalah kecantikan, jangan sekali-kali meremehkan. Khadijah memang telah menjadi seorang janda dua kali sebelumnya, dan juga telah memiliki empat orang anak dari dua perkawinan sebelumnya tersebut. Namun jangan sekali-kali terburu-buru membayangkan wanita satu ini sebagai sosok ibu-ibu yang sudah tua dan tidak menarik.

Kita pasti lumrah dengan nama artis wanita yang bernama Yuni Shara, seorang janda yang kabarnya dekat dengan artis muda Raffi Ahmad. Yah, analoginya hampir mirip seperti kedua artis ini. Yuni Shara kelahiran 1972, kini berusia 40 tahun. Sedangkan Raffi Ahmad, merupakan kelahiran 1987, atau berusia 25 tahun. Usia mereka terpaut 15 tahun. Meskipun Yuni Shara berstatus janda (kebetulan dua kali juga), namun bisa kita lihat, kecantikan masih melekat pada dirinya.

Tepatlah apa yang disampaikan Rasulullah SAW di awal tulisan ini tadi. Ternyata, ketika beliau mengucapkannya, Ia telah mendapatkan keempat point lebih tersebut dalam satu pernikahan awalnya, dengan Khadijah.

Khadijah merupakan sesosok yang begitu mempesona Rasulullah SAW. Bahkan bukan hanya karena kedalaman dien-nya. Tetapi juga memang karena point exciter yang disebutkan Rasulullah SAW tersebut melekat pada Khadijah, kecantikannya.

Anis Matta, dalam Serial Cinta-nya mengungkapkan bagaimana sebuah riset kecil di Perancis membuktikan pengetahuan dan keindahan memiliki korelasi positif. Dalam riset tersebut, diteliti para buruh imigran yang didatangkan dari Aljazair ke Perancis. Buta huruf, dan jelek. Itulah gambaran wajah mereka. Mereka kemudian diajarkan baca-tulis. Bertahun-tahun kemudian wajah-wajah mereka berubah menjadi lebih baik. Sentuhan peradaban telah meninggalkan goresan keindahannya pada sorot mata dan garis-garis wajah mereka.

Hal ini pula yang menegaskan kecantikan Khadijah dari sisi lain. Selain dari keturunan bangsawan, dan cantik secara konvensional, faktor pengetahuannya pun turut membentuk inner beauty-nya. Seperti yang kita dapatkan dari sejarah bahwa Khadijah selain sibuk berbisnis, ia pun ternyata pernah menerjemahkan dan menyalin kitab injil dari bahasa ibrani ke bahasa Arab.

Kecintaan pada kecantikan itu merupakan sebuah keniscayaan, sebuah fitrah dalam diri setiap manusia. Hal ini pula yang ada pada diri Rasulullah SAW. Selain karena kesetiaan dan pengorbanan sang Khadijah yang tinggi, tentu pesona Khadijah tersebut yang membuat Rasulullah SAW sangat mencintainya. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah SAW hampir memutuskan untuk tidak menikah lagi. Dan ketika akhirnya menikah, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,” ujar Rasulullah SAW.

Tetapi bagaimanapun, antara Aisyah dan Khadijah tak perlu dibedakan. Karena mereka berdua memiliki keutamaan masing-masing di sisi Rasulullah SAW. Khadijah mengiringi periode paling sulit di Mekah. Aisyah mengiringi pada periode pertumbuhan yang rumit di Madinah. Khadijah mengawali kehidupan kenabian Rasulullah SAW. Tapi di pangkuan Aisyah lah Rasulullah SAW menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyelesaikan misi kenabiannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mubaroq Dinata
Aktivis KAMMI Daerah Lampung, Mahasiswa Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Lampung.

Lihat Juga

Menengok Sejarah Pancasila: Ideologi Kebangsaan Berlandaskan Islam