Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Curhatan Cinta dari Seorang Al-Akh

Curhatan Cinta dari Seorang Al-Akh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Oleh Al-Akh dalam suatu rapat pemenangan dakwah di menjelang pagi.

Dalam perih yang mengiris sendi, karena lama terpapar angin malam menjelang pagi, nyaris setiap hari.

Benar apa yang di katakan Asy-Syahid Ust. Rahmat Abdullah, “maka jika dakwah adalah cinta, maka ia akan menyedot energy mu, hingga saripatimu. Tubuh yang ringkih dipaksa berlari”.

Dalam pikiran yang menyesakkan kepala, karena lama ia terus digunakan 24 jam, karena umat yang ia cintai.

Benar apa yang dikatakan Asy-Syahid Hasan Al-Banna “seandainya saja tubuh ini seluruhnya otak, agar kapasitas yang dibutuhkan untuk memperbaiki umat bisa maksimal”.

Dalam kesegeraan yang melelahkan, karena tubuh dan pikiran ini di dorong untuk terus hidup.

Maka benar apa yang dikatakan Alm. Ust. Yoyoh Yusroh “amanah ini terlalu besar untuk diselesaikan sendiri, namun jika bukan kita, siapa lagi? Allah bersama orang-orang yang terus berjuang”.

Dalam pengorbanan nyaris seluruh harta dan jiwanya, karena kezhaliman terlalu besar, namun ada Allah yang Maha Besar.

Maka benar apa yang dikatakan Asy-Syahid Sayyid Quthb “kata-kata itu akan hidup, setelah pengorbanan itu menemui puncaknya, dalam kesyahidan”.

Maka Asy-Syahid Ust. Rahmat Abdullah menemui takdirnya, syahid saat menjelang shalat, setelah rapat panjang untuk membahas umat Muhammad yang dicintainya. Ia yang menapaki pelosok-pelosok negeri, dengan atau tanpa kendaraan, dengan atau tanpa uang, Allah menemuinya dalam kondisi terbaiknya, Allahu Akbar.

Maka Asy-Syahid Hasan Al-Banna menemui kesyahidannya, ditembak seseorang bentukan zionis Israel, menemui Rabb-nya setelah lama setiap rumah sakit yang dijaga antek-antek durjana militer Mesir menolak untuk mengobatinya, pun ia kehabisan darah, tersenyum menghadap Rabb-nya, Allahu Akbar.

Maka Alm. Ustz. Yoyoh Yusroh menemui kemenangannya, di usia mudanya, dalam kiprahnya nasional dan internasional, bersama 13 anaknya yang terus di kesibukannya mengecek hafalan Al-Qur’an masing-masingnya, syahid dalam perjalanan selepas silaturahimnya dari wisuda anaknya, kini Allah SWT yang menyilaturahimi-nya.

Maka Asy-Syahid Sayyid Quthb menemui prediksinya, syahid di tiang gantungan, rezim militer memang memenjarakannya belasan tahun, namun kata-katanya dari balik penjara meresap hingga puluhan tahun, pun kini ia bebas untuk menemui Rabb-nya dalam kemenangan.

Akankah kisah heroik ini berlanjut?

Masih Akhi, masih ada Ukhti, kita masih menyaksikan sekarang, Allah azza wa jalla sebagai saksinya.

Dideru terjangan peluru zionis pada ibu-ibu Palestina yang mendekap terus berdzikir melindungi anak-anaknya di kemencekaman malam. Kita masih menyaksikan, cincin-cincin manis tercinta lambang sejarah pernikahan seorang ukh, harta terbaiknya, masuk ke dalam kantung-kantung sedekah pemenangan, ia tak bisa melindungi ibu-ibu itu, namun cincin emas ini merupakan doa dan simbol, janji itu masih ada, Palestina harus merdeka.

Di detik-detik ledakan bom syahid pemuda Palestina. Kita masih menyaksikan, tubuh gemetar seorang al-akh dipaksa berdiri. Kakinya memerih, syaraf-nya kini kembali kambuh, namun ia tak peduli walau sahabat-sahabat lainnya menghalau untuk menyuruhnya pulang, namun ia tetap meninggikan spanduk-spanduk doa itu, ia berkata kita belum apa-apa, saudara-saudari kita lebih menderita, pun ledakan Bom itu yang jaraknya ribuan kilometer itu menyatu, dalam doa dalam juang.

Di hadapan moncong senapan zionis pada anak kecil di Gaza. Kita masih menyaksikan, bayi-bayi itu terlelap, malam menjelang pagi, Umminya menyusuinya sesekali, setelah itu Umminya berbicara mengutarakan pendapatnya dalam rapat, esok paginya Umminya ini langsung bergerak, pelayanan kesehatan ia pegang penuh, sesekali ia mengecek bayinya. Suara tembakan itu terdengar di nun kejauhan ribuan kilometer. Ummi itu melihat anaknya, semoga ia besar, untuk kemudian menuntaskan angkara murka itu, dan kembali bekerja melayani kesehatan, menyapa rumah-rumah penduduk. Pun bayi dan anak kecil itu, Allah satukan dalam doa-doanya, malaikat-malaikat pun mengaminkan, manusia tanpa dosa tersebut.

Akhi dan ukhti, resap dalam makna-makna itu. Maka kini kita bergerak atau tidak, Allah pemilik langit dan bumi. Dalam kuasa-Nya, kisah-kisah heroik itu akan tetap ada, Surga masih teramat luas, dan Neraka tiada habis-habisnya memasukkan kaum-kaum Kafirun dan munafiqun. Dalam getar doa dan perjuangan, kita ucapkan takbir dalam lirih, dalam kesakitan fisik kita. Namun, berbahagialah, dan jadikan jiwa kita sehat. Biarkan takdir itu menemui kita dalam keadaan sebaik-baiknya kita, hingga Islam menang, hingga ajal menjelang, hingga Rabbul Izzati menemui kita dalam jiwa-jiwa yang tenang…

Allahuma aamiin…

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ketua RMNI (LDK STEI Rawamangun), anggota FSLDK 2005-2008, sekarang aktif di masyarakat, beristrikan Sri Maryati, di amanahi anak putri Azmi Azizzah Akhras Az-Zahra dan putra Muhammad Azzam Ayyash Syadid.
  • anggoro winindito

    Ilham… kamu belum tahu konsekuensi dari yang apa kamu tulis… begitu menyeramkan !! Tiang gantung itu menyeramkan… (jari dan minyak itu lebih menyeramkan…?! Mohon doakan !)

Lihat Juga

Cinta Sebagai Energi Kemenangan