Home / Pemuda / Cerpen / Drama Bintang tak Bersinar

Drama Bintang tak Bersinar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comDari suatu malam yang terus bergelimang bintang, Aku hanya menyaksikan dua orang sedang kompetisi kata-kata. Aku mendapati bintang saat keluar barusan, mencari sesuatu untuk dimakan bersama. Yang aku dapati ketika masuk, mata menyalang dengan emosi, raut mukanya tak manis sama sekali dipandang. Oh My Lord

Mestinya tak ada perdebatan macam setan kesetanan yang terlanjur ditelanjangi angin.

Ah, mereka bijak? Di mana letak kebijakannya? Saling tumpang tindih mengajukan yang terhebat opininya.

Aku hanya bisa mengapresiasi kebaikan yang tersisa pada mereka. Kebaikan yang ada hanya musiman belaka. Aku tertawa hanya sisa.

Satu tokoh sangat verbalitas yang kosong arti. Paham? Oh, tentu tidak! Macam-macam kata yang tak lebih dari sampah malam.

Nasi goreng itu kering. Sedapnya menguap dan dingin ulah angin. Dimana letak penghargaan perjuangan membeli dan menjemput sejumput nasi goreng. Kecewa, pastinya.

Ada yang tertohok di ujung sana. Mata-mata yang telah sangat tertunduk sekali. Angin kantuk yang menggeliat berujung menggerutu dan membiarkan kemubaziran berserakan.

Sediakah kau menyapunya? Ah, cetak-cetak neraka telah diukir. Di mana letak kedakwahannya? Bullsh**t!!!

“Kau salah, kau harus koordinasi dan terlalu banyak pertimbangan…!!!”

“Aku akan keluar dari forum ini dan keluar dari Lembaga Dakwah Kampus ini jika tak ada kelanjutan sama sekali dari diskusi ini. Buat apa? Lha wong, banyak umat di sana yang menunggu diri kita.”

Jus alpukat itu enak. Lebih enak dari suasana yang dekat enek. Satu lagi ada yang ngomong. Aku akan mendengarkan dengan seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kalau bisa sambil tidur-tidur curi.

Pffuuh… panjang kali lebar kali tinggi dibagi emosi jadi dua, perlombaan kata-kata intelek, ini intelektual atau tekstual yang penuh membual.

Yang duduk tenang menjadi terdakwa malam ini, merasa dipojokkan dan terkucilkan oleh alam.

“Yang pasti harus ada ikhwan, sekalipun ada yang tak takut menghadapi kejadian. Tapi, ya… itu tadi kurang ahsan. Pada dasarnya kita butuh ikhwan untuk didampingi. Ana pikir hanya komunikasinya yang kurang, kan ada sms atau telepon kek. Akhirnya, ana tanya ke bawah ada nggak yang telah disampaikan ke bawahan. Ana kecewa ada komunikasi yang selalu ter-cancel.”

“Ana melihat dia dan dia seperti ada sesuatu. Dibilang Tom & Jerry bukan, entah apaan.”

Sang pemimpin itu menyahut dengan nada seperti biasa, “Ana kasih kebebasan kepada kaderisasi, silakan berhubung dengan langsung Dewan Syura, jangan ke Ana selaku Mas’ul.”

“Kalau ke Dewan Syura, apa gunanya seorang pemimipin kepengurusan ini!”Sambut lain agak ‘sarkastis’.

Baju batik melekatnya dan menemani pembicaraan di depan, yang lain terpancing suasana yang tak pernah ada senangnya sama sekali.

Yang lain ikut mentahtakan hal yang tak paham sama sekali. Pakai bahasa-bahasa yang bergaya cendekia namun bobot minta ampun parahnya.

“Yang lain kroco-kroco, nunggu keterbukaan. Harus ada yang berlaku sebagai bapak dan sang Kaput jadi layaknya ibu”

Satu perempuan ikut berbicara. Dengan nada yang menculas, disahut laki-laki berbatik yang sok hebat menuangkan kata yang sebenarnya sangat klasik sekali.

Bah! Apa yang perlu dipertanyakan lagi kalau sudah pada kesudahan yang terdampar pada kebaikan.

Apakah dunia Rohis seperti ini? Ataukah aku tak pantas masuk ke dunia yang katanya penuh kedamaian ini.

 

Begitu SMS  dari sesama pengurus ikhwan masuk ke inbox hapeku, yang duduk tak jauh dimana aku duduk. Seperti sepenari segenderang dengan hatiku yang baru satu setengah tahun gabung di LDK ini.

Apakah karena cintaNya aku gabung?

Apakah karena ingin mendapat predikat mahasiswa berprestasi – peraih beasiswa unggulan kampus – yang shalih?

Atau karena cinta yang… aargh beragam kecamuk Tanya memenuhi ruang pikirku.

“Koordinasi harus bertambah sedari awal.”

“Namun, Antum perlu menyadari bahwa strukturalnya salah sekali”

Dimulai lagi, waktu telah menunjukkan ayam berkokok. Memolor terus tak ada keprofesionalan sama sekali.

“Sudah selesai pembahasan kita!” ucap sang Moderator, namun itu hanya berlaku pada sesi yang ketiga, terus menerus berulang.

“Jadikan LDK sebagai syiar, bukan syiar jadikan LDK”

“Alhamdulillah sekarang kan saya tinggal di Bekasi, sehingga bisa memantau kinerja mereka. Dana kas mereka mencapai 5 juta. Dana tersebut diperoleh dari sisa bakti sosial Bantar Gebang “tutur yang lain agak melegakan dengan kabar baik itu.

Aku sendiri seperti memasuki dunia yang asing, bukan pencerahan sama sekali. Bintang yang kulihat di luar tadi tak ada sinarnya di sini.

Aku pun hilangkan kalap, dalam lelap.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Muhammad Sholich Mubarok
Koordinator Syiar Humas Badan Dakwah Rohani Islam (Badaris) BSI Jakarta. Menulis bagi saya adalah kebutuhan tak ubahnya makanan jiwa. Kebahagiaan sebagai seorang penulis ketika tulisan saya mendatangkan manfaat buat orang lain.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Sri W)

Bintang Dalam Hidupku