Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Menolak ‘Zulaikha’ Sejantan Yusuf

Menolak ‘Zulaikha’ Sejantan Yusuf

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (Victor/Svensson)

dakwatuna.com – Bismillaahirrahmaanirrahiiim.

Suatu sore ana pernah melihat segerombolan muda-mudi, yang terdiri dari satu orang pria yang dikelilingi oleh para wanita.

Saat itu terlihat pria yang seorang diri itu seperti sedang dirayu oleh para wanita tersebut. Ana jadi ingat salah satu dari tujuh golongan yang dijamin Allah masuk surga ialah Seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’, tapi ana rasa adakah kisah seperti itu pada zaman ini setelah kisah nabi Yusuf yang mulia?

Kisah nabi Yusuf itu sungguh menakjubkan. Seorang pria shalih yang menolak dengan tegas seorang wanita cantik jelita yaitu Zulaikha. Ana benar-benar kagum. Dan kekaguman ana semakin bertambah, ketika ana membaca sebuah kisah yang tak kalah mengagumkan dengan kisahnya nabi Yusuf yang mulia. Kisahnya seperti ini,

Diceritakan Sulaiman ibn Yasar, demikian Al-Ghazali mengisahkan dalam Al-Ihya’, adalah seorang laki-laki yang dikenali paling tampan di zamannya. Satu waktu, bersama sahabatnya, dia berangkat menunaikan haji ke Mekah, di kota kecil bernama Abwa, tempat makam ibunda Sang Nabi berada, mereka beristirahat.

Setelah selesai makan, sang kawan meminta izin pergi berbelanja beberapa bekal perjalanan. Sulaiman ibn Yasar duduk sendiri di kemahnya. Dari kejauhan, seorang perempuan Badui yang cantik memperhatikannya. Wanita itu begitu terpesona pada paras Sulaiman. Dia turun dari ketinggian dan menghampiri kemah itu, lalu meminta izin masuk.

“Apa keperluanmu?” Tanya Sulaiman sembari menahan pandangan pada wanita cantik itu.

“Senangkanlah aku!” jawabnya.

Sulaiman pun membuka bekal makanannya dan menyerahkan semua makanan yang tersisa pada wanita itu. Dia mengira itulah yang dikehendaki sang perempuan gurun.

“Aku tidak menghendaki makanan,” ujar si Perempuan gurun sambil tersenyum. “Aku menginginkan apa yang biasa dilakukan seorang suami kepada istrinya.”

“Jadi Iblis yang telah mengutusmu padaku!” teriak Sulaiman.

Dia meletakkan wajah di antara kedua lututnya kemudian menjerit meraung-raung. Tangisnya begitu keras dan pilu. Perempuan gurun itu terkejut dan ketakutan dibuatnya. Dia berlari dan kembali kepada keluarganya.

Tak lama kemudian sang kawan pulang. Didapatinya mata Sulaiman merah sembab dan dia masih terisak-isak.

“Ada apa denganmu, demi Allah?’ Tanya kawannya itu.

Sulaiman pun menjelaskan kejadiannya dan mengisahkan kedatangan wanita Badui yang cantik itu. Mendengar cerita Sulaiman, kini sang kawan yang menangis keras-keras. Dia menutupkan kedua tangan ke wajahnya.

“Hei, mengapa kini engkau yang menangis?”

“Demi Allah, wahai Sulaiman,” ujarnya disela senggugu, “Aku lebih pantas menangis daripada dirimu. Aku sangat takut sekiranya aku yang diuji Allah dengan cara demikian. Aku khawatir jika aku yang mengalami kejadian ini, dan aku takkan mampu menahan hawa nafsuku sebagaimana yang kau lakukan.”

Mereka pun bertangisan.

Setibanya di Mekah, Sulaiman ibn Yasar melakukan thawaf, sa’i, dan menyelesaikan umrahnya. Setelah itu dia pun menghampiri Hijr Isma’il dan duduk berselonjor hingga dipagut kantuk. Dia tertidur dan bermimpi. Dalam mimpi, dia melihat dirinya didatangi oleh seorang lelaki yang tinggi, tegap, dan sangat tampan. Bau tubuhnya begitu harum dan semerbak mewangi.

“Semoga Allah menyayangimu, siapakah engkau?”

“Aku adalah Yusuf,” kata sosok itu.

“Yusuf As-shiddiq? Nabi yang sangat setia?”

“Benar,” beliau mengangguk.

“Demi Allah, dalam peristiwa antara engkau dan istri pejabat negeri Mesir itu adalah hal yang menakjubkan.”

Nabi Yusuf tersenyum. “Bahkan,” kata beliau ‘Alaihis Salaam pada Sulaiman ibn Yasar,
“Kejadian antara engkau dan wanita Abwa itu jauh lebih mengagumkan.”

***

Subhanallah.

Mengapa Nabi Yusuf berkata demikian? Mungkin karena Sulaiman ibn Yasar bukanlah seorang Rasul seperti dia yang diberikan keistimewaan-keistimewaan oleh Allah.

Sanggupkah kita seperti mereka? Bersama bimbingan-Nya, Jawabannya Ya. Bukankah orang-orang di atas ialah orang-orang yang hidup di masa kekhalifahan, akan lebih menakjubkan lagi jika kita yang hidup di zaman yang jauh dari masa-masa kenabian ini, tetapi kita menjaga hawa nafsu serta berusaha menjadi golongan yang dijamin masuk surga tersebut.

Dan jangan heran jika kisah kita akan jauh lebih mengesankan, jika kita dapat berpegang teguh melawan nafsu kita, menjadi pemuda-pemudi yang tegas menolak ancaman godaan arus zaman atas izin Allah… Semoga.

Aamiin.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (37 votes, average: 9,73 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Seorang Penulis asal Palembang, pernah menuntut ilmu di Universitas Sriwijaya.
  • oki alkahfi

    suka

Lihat Juga

Ilustrasi - Candi Borobudur. (komunikasi.fisip.undip.ac.id)

DDII Tolak Wacana Konversi Borobudur Jadi Wihara Buddha Internasional