Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Apa yang Ditanam Itulah yang Dipanen

Apa yang Ditanam Itulah yang Dipanen

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comJika kita menanam benih cabai pasti nantinya yang akan dipanen adalah cabai, bukan tomat ataupun sayuran kubis. Sama halnya ketika kita menebar amal saleh maka kita akan menikmati manisnya hasil dari perbuatan yang dilakukan saat di bumi dan ataupun nanti di surgaNya. Begitu pun ketika kita menyemai perbuatan yang membuat diri akrab dengan dosa, maka kita juga akan mendapatkan balasannya di bumi dan atau di akhirat nanti. Maka bisa ditarik sebuah simpul bahwa setiap kerja-kerja amal yang kita lakukan akan ada balasannya dan diri kita nantinya yang akan merasakan balasan tersebut, bukan sahabat, ataupun keluarga dan saudara kita.

Ya. Saya yakin kita sudah menyadari hal itu. Sadar bahwa setiap benih-benih amal yang kita tabur pada langkah-langkah kehidupan ini akan berbuah nantinya. Dan manis, pahit, getir, dan asam rasa dari buah tersebut tergantung amal yang kita lakukan. Apakah menyemai benih kebaikan yang membuat kita mendekap taat pada-Nya. Atau menyemai benih keburukan karena kelalaian, hingga membuat diri berteman akrab dengan dosa. Jangan biarkan diri ternahkodai oleh nafsu dalam mengarungi samudera kehidupan, hingga membuat dirimu tenggelam dalam lautan nikmat-Nya karena lalai. Ingatlah, terlena menikmati kehidupan duniawi bagaikan orang yang sedang kehausan tetapi meminum air laut. Bukan kesegaran yang dirasakan, tetapi dahaga yang semakin terasa.

Tetapi sudahkah kita jalani hidup kita dengan sepenuhnya sadar?

Maka sadarlah. Kesadaran membuat kita bisa mempersiapkan diri dan perangkat-perangkat untuk menyelami lautan kehidupan ini. Kesadaran adalah anugerah agar kita bisa memilih yang terbaik di antara pilihan-pilihan yang tersaji. Kesadaran membuat mata kita terbuka, tubuh lincah bergerak, dan semua indera peka merasakan berbagai keindahan hidup. Ketika mereka yang ternahkodai oleh nafsu, akan tenggelam lalu mengutuk, mengumpat dalam lautan nikmat Tuhan.   Mengapa manusia bisa beriman, beribadah, bersyukur, dan bersabar? Salah satu jawaban termudah adalah karena dia sadar. Karena dia tidak lalai.

Hal yang akan membuat kita berbeda yaitu bagaimana kita menentukan pilihan menjalani hidup, karena hidup bergerak dalam ruang pilihan.  Keputusan yang diambil akankah membuat diri semakin dekat kepada Ilahi atau pilihan itu semakin membuatmu jauh dariNya.

Ingatlah, bahwa hidup ini bergerak dalam ruang pilihan, dimana kita berhak memilih apa yang akan dijalani. Dan setiap pilihan yang dijalani, akan menentukan setiap episode kehidupan berikutnya dan pada setiap pilihan itu butuh keberanian.  Kita sadar, bahwa setiap pilihan akan disandingkan dengan nilai baik atau buruk, yang nantinya dirasakan saat menjalani pilihan tersebut.  Dirimu nantinya akan menjelma menjadi pribadi yang baik atau jahat kitalah yang memilihnya, ingin menjadi insan yang beriman atau tidak itu juga pilihan.

Pada hari ini pula, mari mencurahkan seluruh perhatian, kepedulian akan setiap amal, dan kerja keras demi cita serta mimpimu. Maka azzamkanlah dalam diri hingga mengakar dan berdiri kokoh, untuk mempersembahkan kualitas amal yang terbaik di setiap derap langkah. Bergiat di setiap amal, karena setiap amal hanya tertuju pada-Nya. Maka persembahkan kualitas shalat yang paling khusyu’, bacaan Al-Qur’an yang sarat tadabbur, dzikir dengan sepenuh hati, keseimbangan dalam segala hal, keindahan dalam akhlak, ikhlas tanpa batas atas yang Allah berikan.

Tapi tak cukup hanya kata. Jalan di mana kata belum bermakna. Manusialah yang memberinya makna. Dengan amal. Dengan tindakan. Semoga kita bisa menghiasi hari-hari yang dilalui dengan amal-amal kebaikan. Mari berikhtiar sekuat raga, niatkan setulus jiwa dan bersandar penuh harap hanya pada-Nya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,13 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Ali Fuadin
Mahasiswa. Lahir di Ciamis dan saat ini tinggal di Purwokerto.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Al ‘Aliim