Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Datangnya Tamu Istimewa

Datangnya Tamu Istimewa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.comBeberapa pekan lalu tetangga saya melangsungkan acara pernikahan putri sulungnya. Persiapan untuk acara itu sudah dilaksanakan beberapa bulan sebelumnya, mulai dari bersih-bersih rumah, mengecat, setting tempat sampai konsep acara. Ya, ini merupakan moment spesial, moment pernikahan. Segala persiapan disiapkan sematang mungkin untuk menyambut kedatangan tamu istimewa mereka, rombongan dari mempelai pria. Mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk tamu istimewanya dan juga berusaha menyuguhkan yang terbaik pula dalam acara pesta pernikahan di hari itu.

Hal semacam ini juga pernah saya lakukan ketika saya masih sering terlibat di berbagai kegiatan kampus. Untuk acara seminar misalnya, beberapa bulan sebelumnya kami telah berusaha mengumpulkan berbagai ide, konsep acara, serta mencari sumber pendanaan. Semakin mendekati hari H, persiapan semakin dimatangkan, mulai dari rundown acara, perlengkapan sampai transportasi dan akomodasi untuk pembicara. Kami berusaha memberikan yang terbaik demi kelancaran acara waktu hari H. Satu hari menjelang hari H, biasanya kita melakukan gladi resik terkait acara kita, pembagian tugas dan peran. Kami pun juga sibuk menyambut tamu istimewa kami, para narasumber, pembicara atau para trainer. Kami berusaha menyambut mereka dengan sebaik mungkin, mulai dari penginapan, transportasi, konsumsi, sampai segala hal yang dibutuhkan para pemateri. Kami sangat senang dan bahagia jika pembicara yang kami undang berkenan hadir untuk mengisi acara kami. Seakan-akan rasa lelah kami hilang karena merasa puas dengan acara yang kami gelar.

***

Sahabat, tentunya Anda juga pernah mengalaminya bukan? Mempersiapkan segala sesuatu untuk kesuksesan acara kita, atau menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu istimewa yang bertandang ke rumah kita. Ya, seandainya tamu itu seorang pejabat, ulama atau presiden tentunya kita akan menyiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Kita akan merasa sangat senang dan bahagia karena tamu istimewa itu berkenan berkunjung ke rumah kita.

Sahabat, marilah kita sejenak merenung, ketika bulan Ramadhan segera menghampiri kita, apakah kita merasa senang dan merasakan kebahagiaan yang sama seperti kita menyambut tamu-tamu istimewa yang datang bertandang ke rumah kita? Apakah kita juga menyambut Ramadhan secara “luar biasa” sebagaimana kita menyiapkan segala sesuatu dalam menyambut tamu kita? Apakah kita juga mempersiapkan dengan sungguh-sungguh bekal kita agar “acara” di bulan Ramadhan kita sukses sebagaimana kita bersungguh-sungguh menyiapkan segala sesuatu untuk kesuksesan acara kita?

Sahabat, tentunya keutamaan bulan Ramadhan lebih besar dari keutamaan dari seorang pejabat yang datang ke rumah kita. Di bulan Ramadhan ada satu hari yang lebih baik dari seribu bulan, di bulan Ramadhan pintu neraka ditutup dan pintu jannah dibuka. Di bulan itu amalan sunnah yang kita tunaikan bernilai amalan fardhu, sedangkan amalan fardhu digandakan 70 kali .Begitu banyak keutamaan dari bulan Ramadhan ini.

Sahabat marilah kita bersama-sama menyiapkannya dari sekarang, menyiapkan segala sesuatu untuk kesuksesan kita di bulan Ramadhan, mengkaji kembali fiqih shiyam dan qiyam Ramadhan, menebalkan kembali keimanan kita, meluruskan kembali niatan–niatan kita. Kita juga perlu latihan agar kita tidak kaget dan bisa menikmati ibadah kita di bulan Ramadhan. Marilah kita perbanyak melakukan amalan-amalan sunah seperti shaum senin-kamis, memperbanyak infak dan shadaqah, memperbanyak membaca Al-Quran, menjaga qiyamullail dan tentunya tetap menjaga amalan–amalan wajib kita. Semoga dengan membiasakan diri melaksanakan shiyam, qiyam, dan banyak membaca al-Qur’an di bulan Rajab dan Sya’ban, kita berharap nantinya di bulan Ramadhan kita sudah bisa langsung “tancap gas”, beramal dengan sungguh-sungguh tanpa dihinggapi rasa malas atau berat dalam menunaikannya, karena kita telah melakukan pemanasan di bulan-bulan sebelumnya.

Dan yang terakhir, marilah senantiasa kita berdoa kepada Allah semoga kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. “Allahumma baariklanaa fi Rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan” “Ya Allah berikanlah berkah-Mu kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan pertemukan kami dengan Ramadhan.” Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

Wallahua’lam bi showab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Laki-laki biasa,lahir di salah satu desa di ujung timur jawa tengah,Sekarang bekerja sebagai salah satu pegawai di Instansi Pemerintah
  • ” Allahumma baariklanaa fi Rajab wa sya’ban wa balighna Ramadhan “, amin ya robbal alamin

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Nyalakan Iman Dalam Kehidupan, Refleksi Ibadah Puasa Ramadhan

Organization