Home / Berita / Opini / Ini Juga Intoleran, Bung!

Ini Juga Intoleran, Bung!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comPenolakan terhadap kehadiran Irsyad Manji dan Lady Gagal beberapa waktu terakhir hadirkan stempel “Indonesia Religious Intolerance” di mata Internasional. Berbagai media internasional secara global menyuarakan “kebobrokan” Indonesia dalam penyelarasan dan toleransi kehidupan beragama, bahkan turut menjadi isu hangat dalam sidang PBB. Beragam berita tanpa cek dan kroscek yang jelas pun dibeberkan secara sepihak oleh berbagai pekerja HAM Internasional yang mengaku melihat langsung aksi-aksi intoleran di Indonesia tersebut di berbagai media.

Lantang Hasyim Muzadi dan Yunahar Ilyas selaku perwakilan dari dua ormas keislaman terbesar di Indonesia – NU dan Muhammadiyah – membantah tudingan-tudingan tersebut. Upaya pencerahan yang selayaknya di terima dengan hati dan pikiran terbuka oleh pihak-pihak yang selama ini melakukan tudingan-tudingan bahkan upaya provokatif, baik pihak manca Negara maupun orang Indonesia sendiri.

Sedikit menyinggung masalah intoleransi beragama, melalui tulisan ini saya ingin memberikan pandangan dari sudut mata kaum papa, yang selama ini selalu terpinggirkan. Realita yang seharusnya disadari oleh banyak pengusung HAM namun bungkam! Kisah sedih dan pilu yang secara nyata menimpa saudara-saudara kita yang tersebar sebanyak 175.000 di Taiwan, 120.000 di Hongkong dan 117.000 di Singapura . Ya… mereka adalah pekerja migran Indonesia.

Beraneka macam tindakan diskriminasi dan pembelengguan hak-hak dasar bukan merupakan hal yang aneh bagi pekerja migran yang mayoritas muslim ini. Mereka dipandang sebelah mata dan hanya di pandang sebagai komoditas yang tidak pernah dioptimalkan upaya perlindungannya, apalagi diberikan perhatian khusus bagi kenyamanan beragamanya.

Berapa banyak dari para pekerja ini yang harus sembunyi-sembunyi membawa jilbab dan peralatan shalat, karena tidak diizinkan oleh pihak agen untuk membawanya hanya karena alasan majikan mereka takut warna putih?  Berapa banyak para pekerja ini harus shalat secara sembunyi-sembunyi bahkan melakukannya di kamar mandi karena tidak diizinkan beribadah? Berapa banyak para pekerja ini harus berbohong atau berpura-pura agar bisa melaksanakan ibadah puasa? Berapa banyak para pekerja ini harus memeras air mata dan menahan perih di dada ketika setiap hari harus mememasukkan sesuap demi sesuap zat haram ke dalam tubuhnya? Berapa banyak para pekerja yang 80% di antaranya wanita ini tidak mendapatkan hak untuk menutup aurat? Berapa kali Shalat Jumat yang harus dikorban para pekerja pria karena tidak tercantum dalam kontrak kerja izin pada jam kerja?

Ini juga religious intolerance bung! Dan mengapa tidak ada pembela HAM yang berteriak-teriak memperjuangkannya? Mengapa PBB bungkam dan tidak bersuara? Padahal tidak sedikit tindakan kekerasan terhadap emosi dan spiritual ini memberikan tekanan mental yang begitu dalam bagi jutaan pekerja Indonesia. Tidak sedikit yang mengalami gangguan psikologis, yang tentunya menggerogoti sumber daya manusia Indonesia.  Mengapa?

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 8,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Jaufa
Seorang pelajar yang suka bercerita...
  • Rahayu Setianingsih

    ajibbbbbbbbbb……

  • Dewi Rohayati

    Terus semangat nulis, dik! n_n

  • bagus ulasannya mbak………

  • Good…semoga tulisanmu dibaca oleh mereka yang selama ini berteriak soal HAM di Indonesia

Lihat Juga

Ilustrasi. (kawanimut)

Di Manakah Engkau Wahai Penggenap Separuh Agamaku