Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Aku Tidak Lebih Baik Darinya

Aku Tidak Lebih Baik Darinya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wordpress.com/bintangumilang)

dakwatuna.com – Malam itu saya ada janji bertemu dengan seorang kawan, bukan sebuah janji untuk membicarakan suatu yang penting. Hanya ingin bertemu untuk melepaskan rasa rindu yang telah kami pendam karena kesibukan kami. Kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta.

Iseng-iseng aku mengajak dia untuk bertanya harga hape, karena memang aku sedang mensurvey harga hape. Karena kawanku pun baru membeli hape baru di pusat perbelanjaan tersebut, maka ia merekomendasikan toko tempat ia membeli hapenya padaku. Sampai ke toko yang dimaksud, kami disambut oleh pramuniaga dan pemiliknya (mungkin). Kami dijamu dengan baik, pemiliknya itu masih mengingat kawan saya karena baru kemarin ia membeli hape.

Dibalik penyambutan yang hangat, ada kejanggalan yang menggelayut dalam hatiku. Pramuniaga toko itu. Bajunya mungkin biasa saja. Kaos lengan pendek, tapi… bahannya sangat tipis dan ukurannya kecil sehingga tampak baju dalamannya terlihat jelas. Entah sengaja atau tidak, ia tidak mempedulikan baju dalamannya yang terlihat. Padahal pemilik toko tersebut adalah laki-laki. Saya menatapnya dengan rasa heran dan memendam dalam hati tanya saya

Hanya sejenak kami bertanya harga hape di sana. Tidak jauh kami meninggalkan toko tersebut, saya refleks berkata kepada kawan saya, “wanita itu kok nyaman saja ya berpakaian seperti itu, apa ia tidak merasa jengah jika pakaiannya itu dapat menimbulkan efek buruk bagi dirinya?”

Yang saya kira kawan saya akan mendukung saya dengan ikut tidak menyetujui cara pakaian wanita tersebut justru menjawab pertanyaan saya dengan lembut namun mampu menohok saya seketika.

“Kenapa kamu tidak berbicara langsung saja di depannya?” kata kawan saya.

Glekk!!

Perkataan yang lembut namun sangat dalam. Saya langsung tidak bereaksi apapun dan mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

*****

Hingga kini, perkataan itu selalu terngiang dalam ingatan saya. Saya tidak lebih baik darinya jika saya belum mampu mengingatkannya tapi justru menggunjingnya dengan segala kekurangannya. Padahal bisa jadi orang yang saya gunjing itu belum tentu akan bernasib lebih buruk daripada saya di akhir hidupnya. Who knows?? Hanya Allah yang tahu pastinya.

Saya jadi teringat cerita kawan saya yang lain. Ia tidak akan pernah mau mendengarkan perkataan khadimatnya jika perkataannya itu mengandung unsur membicarakan keburukan orang lain. Alasannya, karena kawan saya tidak ingin ia dibicarakan orang lain di belakangnya.

It’s simple… Jangan menggigit jika tidak ingin digigit.

Saya juga tidak akan senang pastinya jika ada orang lain yang membicarakan saya di belakang saya. Saya harus belajar merasakan ketidaksukaan saya itu ketika saya mulai membicarakan orang lain di belakangnya. Harus bisa. Insya Allah…

Namun tidak semudah jika dalam praktek. Ada rasa tidak enak jika langsung berbicara di depan seseorang mengenai keburukannya. Meskipun membicarakan di belakangnya pun juga tidak lebih baik kecuali untuk maksud mencari jalan keluar dan bukan sengaja membuka aib. Jika pada akhirnya tidak bisa merubah dengan cara apapun, minimal dengan sebuah doa yang terukir tulus dari hati untuk perubahan saudara-saudara kita –juga kita sendiri- menjadi lebih baik. Aamiin…

Tidak mudah, sungguh tidak mudah. Tapi saya yakin, juga bukan perkara yang sulit. Dibalik ketertatihan kita -terutama saya- untuk terus belajar mengendalikan diri mengungkap sesuatu yang tidak pantas diungkap, akan menjadi sebuah ibadah.

Karena saya, kamu, mereka hanya sedang berjalan di roda kehidupan, sedang berjalan dalam lingkaran keimanan. Di sudut mana berdiri, insya Allah selalu berupaya untuk menjaga diri dalam balutan keridhaanNya. Baik buruknya kita semoga terbingkai dengan kata-kata yang indah. Dan baik buruknya kita semoga menjadi hikmah.

Apapun yang terlihat -meskipun tidak menyedapkan pandangan- tahanlah dalam hati jika belum mampu menyampaikannya langsung. Olahlah menjadi sebuah petunjuk bagi diri pribadi dan yang lainnya ke dalam wadah yang bermanfaat. Semoga segala usaha kita semua dalam menyampaikan kebaikan selalu dalam ridhaNya. Dan semoga segala tingkah laku kita selalu dalam pengawasanNya. Aamiin.

Allahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 8,44 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • Jazakillah atas tausiahnya….terkadang bahkan mungkin sering kita sangatlah mudah membicarakan keburukan saudara kita di belakang mereka…..

  • membicakan aib orang adalah dorongan nafsu, manakala menasihati seorang muslim adalah jihad

Lihat Juga

Ilustrasi (klinik fotografi Kompas)

Puasa dan Perbaikan Akhlak Bangsa

Organization