Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Seperti Itulah Kalian Maka…

Seperti Itulah Kalian Maka…

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSeperti itulah kalian maka pemimpin pun seperti kalian”

Saya teringat untaian kalimat di atas pernyataan yang dikutip dari seorang tokoh besar dan namanya pun sudah tak asing lagi di telinga umat Islam. Siapa kalau bukan Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah. Ketokohan dan keilmuannya sangat disegani. Hal ini dikarenakan luasnya ilmu yang dimiliki serta ribuan buku yang menjadi karyanya. Sejumlah julukan diberikan Ibnu Taimiyah, antara lain Syaikhul Islam, Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid, Da’i, dan lain sebagainya.

 “Seperti itulah kalian maka pemimpi pun seperti kalian”

Mengarah pada apa yang menjadi bahan pemikiran bersama. Rasanya kalimat itu pas jika kita sinkronkan pada keadaan bangsa kita saat ini. Mengapa demikian? Sebelum ke arah sana, sedikitnya saya mencoba untuk menggambarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada bangsa kita.

Permasalah yang menjadi perhatian kita saat ini adalah bagaimana setiap hari dari beberapa media baik media elektronik atau media cetak kasus-kasus yang menggelayuti bangsa ini kian memalukan. Mulai dari kasus korupsi, penipuan, moral pejabat pemerintahan ataupun yang lainnya. Melihat sedemikian banyaknya kasus yang terjadi rasanya kita miris menyaksikannya. Bahkan rasanya rasa optimis pada bangsa ini untuk maju sebagian luntur. Semoga tidak demikian!

Yang menjadi sorot perhatian adalah bagaimana setiap kasus-kasus yang terjadi seringkali kita sebagai rakyat atau masyarakat yang menempati bangsa ini merasa bahwa permasalahan tersebut adalah murni kesalahan para elit pemerintahan. Apakah demikian?

Kemarin ketika saya berada dalam angkutan kota di kabupaten Bogor. Saya mencoba berbincang dengan supir angkot yang saya naiki saat itu. Lama perbincangan, hingga akhirnya supir angkot melontarkan pertanyaan. Kalau bangsa ini seperti ini yang salah rakyat apa pemerintah mas? Saya jawab semuanya yang salah Pak. Supir itu pun menyanggah ini murni pemimpin kita yang salah. Oke saya terima pendapat beliau karena beliau pun tak salah.

Apa yang ingin diperjelas adalah seringkali di antara masyarakat atau khususnya diri kita. Apa yang terjadi pada bangsa ini sepenuhnya kesalahan pemerintah atau para elit pemerintahan. Padahal menurut pandangan saya tidak selamanya seperti itu. Di sini saya tidak berada dalam konteks Pro pemerintahan. Tapi bagaimana saya ingin mencoba mengajak untuk kita semua berfikir. Karena ini menjadi penting untuk kemajuan bangsa kita ke depan.

Ketika dikatakan Pemerintah dan elit pemerintahan dikatan salah. Saya katakan dengan tegas IYA. Bagaimanapun seorang pejabat pemerintahan adalah yang bertanggung jawab penuh terhadap bangsa ini. Saya terkadang riskan terhadap keadaan masyarakat kita saat ini. Bagaimana budaya menyalahkan sering kali di nomor satukan! Padahal sebagai masyarakat kita memiliki peranan penting dalam konteks kemajuan bangsa. Bukan demikian?

Saya tertarik menyorot sebuah satu kasus yang menjadi trend di negeri kita. Katakanlah kasus “KORUPSI”. Berbagai macan kasus korupsi dari beberapa sektor lingkungan pemerintahan kita bisa saksikan seperti kasus Century, Wisma Atlet, dll. Yang menjadi pertanyaan apa yang sebetulnya menjadi akar permasalah korupsi?

“Seringkali jargon tolak korupsi, hukum mati koruptor tak sejalan dengan realita yang ada

Mengutip dari pernyataan Ust. Anis Mata ketika menghadiri agenda Milad sebuah partai di Hotel Brajamustika Bogor setahun yang lalu. Apa yang sebetulnya menjadi akar permasalah korupsi? Dengan menunjukkan data statistik saat itu, beliau mengatakan 65% masyarakat Indonesia setuju dengan Money Politics. Inilah yang sebetulnya menjadi permasalahan maraknya korupsi pada bangsa ini. Kalau demikian siapa yang salah?

Oke, di sini kita tidak untuk berniat untuk menyalahkan satu dengan yang lainnya. Saya sepakat rasanya dengan ungkapan Ust. Anis Mata tersebut. Menu hajatan yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali rasanya menjadi menu yang lezat bagi sebagian masyarakat saat itu. Money Politic Tidak hanya terjadi pada menu hajatan lima tahun sekali. Hal seperti ini terjadi pula pada masa pemilihan RT/RW, Lurah, Bupati/Walikota, Gubernur, hingga pemerintahan.

Mengarah kembali pada kalimat di atas “Seperti itulah kalian maka pemimpi pun seperti kalian”, ini menggambarkan begitu jelas bahwasanya masyarakat khususnya kita perlu sadar akan hal ini. Ketika kita berharap mendapat pemimpin-pemimpin yang baik, para elit pemerintahan yang baik sehingga nantinya berharap pada bangsa yang baik. Maka sejatinya harus diiringi dengan kesadaran diri kita untuk nantinya mewujudkan apa yang kita harapkan.

Oleh karenanya mari kita persembahkan untuk negeri. Sebuah masyarakat yang sehat, masyarakat yang madani, masyarakat yang cerdas. Yang mana dari masyarakat inilah terciptanya tatanan bangsa yang lebih baik.

Bagaimana untuk mewujudkan masyarakat seperti itu. Rasaya ini menjadi PR kita bersama dalam mewujudkan syakhsiyah islamiyah “kepribadian muslim” di masyarakat kita. Maka di sini peran Tarbiyah akan menjadi sangat penting untuk mewujudkan hal itu.

Inilah yang akan menjadi salah satu solusi untuk kemajuan bangsa ini “Tarbiyah bukan segala-galanya tapi segala-galanya bisa diraih dari tarbiyah”. Perlunya pengintesifan tarbiyah dalam diri, masyarakat, bangsa dan negara.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ramadhan Aziz
Sebagai seorang mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta, yang mencoba untuk senantiasa bisa memperbaiki diri dengan terjun dalam dunia dakwah. Mencoba aktif di berbagai organisasi. Seperti KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) komisariat Madani, FLP Jakarta (Forum Lingkar Pena), Mencoba untuk konsern pula di ADS (Aktivitas Dakwah Sekolah) dengan mengisi agenda mentoring per pekan di sekolah yang ada di kabupaten Bogor. Dengan moto Melangkah dan Berkarya.
  • DHANI WU

    pemimpi apa pemimpin? 
    but i agree anyway. pemimpin kita yg sekarang khususnya para bupati, walikota, gubernur, presiden smuanya dipilih rakyat. contoh kasus; dlm suatu pemilukada di kabupaten A, yg trpilih adalah calon yg terindikasi korup dan tdk berintegritas, krn keberhasilan aksi money politik. msh banyak di antara kita yg lebih mementingkan 50ribu rupiah scr instan drpd ratusan ribu bahkan jutaan rupiah (bila diuangkan) dr manfaat yg diperoleh melalui terpilihnya pemimpin yg baik, lwt pengurangan biaya pndidikan, kesehatan ato peningkatan brbagai fasilitas, dan lebih jauh lagi dr hisab di akhirat; dr mana uang yg kita dapatkan dan utk apa dibelanjakan?
    Sebuah PR kita brsama utk mentarbiyah umat.

Lihat Juga

Jakarta Magnet Kepentingan, Warga Jakarta Harus Rasional Pilih Pemimpin