Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Penjara Kemuliaan

Penjara Kemuliaan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)

dakwatuna.com Wahai Saudaraku, kita telah banyak menikmati hidup ini, telah berapa tahun waktu yang kita lewati. Badan yang sehat telah kita nikmati, rizki yang cukup telah kita rasakan, ilmu yang memadai telah tersimpan, dan banyak lagi yang seharusnya kita ungkapkan sebagai wujud rasa syukur kita kepada kekasih dambaan. Sekarang saatnya kita berbuat, untuk memperkuat barisan umat, menepis semua penghujat, tampil ke medan juang bersama penyelamat. (Alm. Ustadzah Yoyoh Yusroh)

Sebuah pesan besar dari pahlawan negeri, pejuang yang selalu gigih mempersembahkan langkah cinta untuk umat, Indonesia dan keluarganya, hingga Allah pun merindukannya untuk bersegera menghadapNya. Aamiin

Pelangi itu terlalu sederhana seandainya hanya memiliki satu atau dua warna saja. Harmoni nada itu terlalu sumbang seandainya hanya satu atau dua kunci saja. Akan tetapi butuh banyak warna yang berbeda hingga keindahan itupun tercipta dengan indahnya. Islam itu indah, karena pejuangnya memiliki pesona dan keindahan yang berbeda-beda. Lahir dengan warna yang berbeda menuju tujuan yang sama di atas iman dan taqwa.

“Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku……” (QS. Alhujurat: 13)

Saat saya menonton sebuah video renungan yang mengisahkan negeri ini, bahwa negeri ini tertata rapih, damai, indah, orang-orang nya sejahtera, duduk di sofa dll, tapi ternyata kondisi itu adalah lukisan dalam mimpinya.

Seandainya dahulu saat Rasulullah ke sidratul muntaha, kemudian meminta kepada Allah agar tidak dikembalikan ke dunia, mungkin bisa saja. Akan tetapi Cinta Rasulullah kepada Allah dan umat manusia lebih besar dibandingkan perasaannya sebagai manusia dengan kondisi dunia ini. Sungguh Rasulullah kembali untuk kita.

Dalam kesesakan dunia dan keunikannya, ada kemuliaan yang Allah berikan kepada kita, ada isyarat kemuliaan di dalamnya “Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan sebagai surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)

Wahai engkau yang merasakan iman, begitulah dunia tengah digambarkan kepada kita dan itulah kebenaran yang ada. Dunia yang penuh dengan segudang keindahan dan permasalahan, kejenuhan, lautan darah dan kesesakan. Sungguh tidak lebih buruk dibandingkan dengan siksa Allah SWT dan tidak lebih indah dibandingkan dengan keindahan kelak di sisi Allah. Mari kita jemput keindahan itu dengan memperbaikinya bersama. Justru dalam penjara ini kita bersama-sama mematangkan bekal untuk memperberat neraca timbangan kelak.

“Hidup di dunia wawayangan” begitulah sebuah peribahasa mengungkapkan. Hidup di dunia itu seperti wayang, sudah ada yang menentukan dan sudah ada yang menggerakkan.

Ibnu hajar al asqalani ; penulis kitab fathul bari, seorang qadhi (hakim), saat itu beliau sedang berjalan jalan melewati pasar dengan keledainya, kemudian di tengah jalan datang seorang Yahudi menghadang dan mengambil tali keledai itu seraya berkata “Anda menyatakan bahwa nabimu bersabda, dunia itu penjara orang beriman dan surganya orang kafir. Dengan penampilan Anda saat ini, sebenarnya Anda dipenjara seperti apa? Sedangkan kondisi saya saat ini, saya berada di surga seperti apa?

Ibn hajar kemudian menjawab pertanyaan orang Yahudi itu “Dengan kondisi seperti ini, saya dibanding dengan kenikmatan yang Allah janjikan kelak di akhirat, seolah saya dalam penjara. Sedang engkau dengan kondisi seperti ini, dibandingkan dengan siksa dan hukuman yang Allah ancamkan kelak di akhirat, sekarang engkau berada dalam surga”. Setelah mendengar jawaban dari sang qadhi tersebut, orang Yahudi itu kemudian bergetar hatinya, tubuhnya melemah seolah energinya habis diterpa gelombang membadai yang sangat besar. Hingga akhirnya ia menyatakan keislamannya.

Jadikan penjara ini sebagai ladang kemuliaan, tempat mendendangkan kebaikan dan tempat melahirkan karya besar, tidak sedikit pahlawan-pahlawan besar yang lahir dari pintu-pintu penjara. Karena kelak surga yang Allah janjikan telah menanti kita semua. Mari kita berdoa kepada Allah SWT, semoga kita semua termasuk ke dalam orang-orang yang tercatat sebagai penghuni surganya kelak dan bertemu dengan Allah SWT, Rasulullah SAW dan para syuhada yang telah meneteskan darahnya untuk umat. Wallahu’alam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Nada Ash-Shubhi
Lahir di Bandung 21 September. Anak ke empat dari enam bersaudara; Amal, Maruf, Hodam wijaya, Gigin Ginanjar, Wiguna Syukur Ilahi. Inilah keenam lelaki yang selalu disebut-sebut dalam doa orang tua itu. Doa kesuksesan untuk masa depan. Mereka adalah anak sejarah yang akan menggoreskan tinta di lembaran sejarah peradaban sebari penguak dinding sejarah. Semoga menjadi pemimpin di negeri sarat nestapa ini. Lahir dari pasangan Solihat dan Adeng. Setelah menyelesaikan studi S1 program studi perbankan syariah, STEI SEBI, Depok. Kini aktivitas melanjutkan studi di STIS Nurul Fikri, Lembang jurusan siyasah syariah. Mulai mencoba menulis setelah lulus dari SMA, meskipun saya tidak tahu apa yang saya tulis. Beberapa karyanya diantaranya adalah Buku Belajar merawat indonesia, serial kepemimpinan alternatif (Bersama beastudi etos DD), Buku Talk Less Do More (SEBI Publishing), Paper Model agricultural Banking, Paper Peran LPZ dalam pengembangan ekonomi umat di Indonesia, Buku Catatan sang surya (Bersama Komunitas MOZAIK Sastra)

Lihat Juga

Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM), Prof. Dr. KH. Ali Musthofa Ya'qub - (Foto: kaskus.co.id)

KH Ali Musthofa Ya’qub Dinilai Sebagai Ulama yang Berani