Home / Pemuda / Cerpen / Si Penyulut Api

Si Penyulut Api

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Al-Quds, Palestina (inet)

dakwatuna.comSemua aroma ada di sini. Semua orang berpeluh dan mengeluarkan bau menyengat. Ditambah lagi dengan bau nafas yang sejak kemarin belum tersentuh odol dan sikat gigi. Aku merapatkan punggung ke dinding. Entah sampai kapan aku akan berada di sini.

Terbayang wajah Ibu yang berpesan padaku untuk berhati-hati dalam perjalanan ke sekolah kemarin. Tentara Basyar ada dimana-mana. Mereka tak akan memilah lagi siapa yang akan ditangkap. Tak peduli siapa yang mereka jebloskan ke dalam jeruji besi. Tak peduli apakah dia hanya seorang murid SMA seperti aku. Ya, aku mereka paksa masuk ke dalam truk ketika aku baru saja akan memasuki halaman sekolah. Mereka terus saja mendorong dan memukul punggungku meski aku meronta dan berteriak bahwa aku cuma seorang murid sekolah. Mereka bahkan tidak melihat seragam dan lencana sekolah di pundakku. Ah, kampung halamanku semakin menakutkan.

“Geser sedikit. Kau terlalu dekat denganku. Kau menghimpitku!” tiba-tiba terdengar suara.

“Sssst…..” serta merta orang-orang mengatupkan bibir dan meletakkan telunjuk ke atasnya sambil memandang tajam kepada lelaki yang duduk di sebelahku.

Semua orang takut bersuara. Tentara-tentara itu tak peduli apakah kami kepanasan atau kelelahan. Semua orang harus diam.

Al ardlu lana
Walqudsu lana
Wallaahu biquwwatihi ma’anaa
Wajumuu’ul kufri qadijtama’at li tahzimana
Lan tahzimanaa

Terdengar suara lirih mengumandangkan sebuah nasyid. Lirih namun menyentuh kalbu. Aku yakin bukan hanya aku yang mendengarnya
Al ardlu lana
Walqudsu lana
Wallaahu biquwwatihi ma’anaa

Wajumuu’ul kufri qadijtama’at li tahzimana
Lan tahzimanaa

Suara itu terdengar lagi. Merdu dan menegakkan bulu roma. Apalagi dalam kondisi di penjara ini yang penuh dengan manusia. Satu bilik ini diisi penuh lebih dari 30 orang. Namun suara itu tetap dapat didengar.

Wahai lelaki Syria

inilah AlQudsmu

ia ada di depan matamu

menunggu pembebasan darimu

jangan menunggu Shalahuddiin

karena engkaulah Shalahuddiin

pembawa kunci pintu kemerdekaan dari seorang berkuku besi

rebut kemuliaanmu dengan perkasa!

 

Aku bergidik ngeri. Pastilah serdadu-serdadu itu akan segera menyiksanya. Oooh! Tatapan mata orang-orang di sekelilingku pun beraura ngeri. Siapakah lelaki pemberani itu?
Wal aqsha yantazhiru shalaahan
Fallaah Allaah asyaawisana

Wal aqsha yantazhiru shalaahan
Fallaah Allaah asyaawisana

“Diiiiaaaammmm…….” tiba-tiba sebuah suara terdengar menggelegar diikuti derap suara sepatu dan “booom” terdengar suara pintu dibanting. Aku ingin bangkit dan melihat apa yang terjadi namun sebuah cengkeraman kuat menghalangiku untuk berdiri. Aku menoleh dan menjumpai lelaki di sebelahku menggelengkan kepala melarangku bergerak.
“Masukkan dia dalam lubang dan potong!” terdengar suara keras dan tegas.

Mata kami terbeliak menyaksikan sebuah tubuh ringkih berdarah diseret di hadapan kami. Tubuhnya terlalu lemah melawan serdadu-serdadu bersepatu lars itu.

“Inilah alQudsmu….. dia menanti tanganmu untuk membebaskannya. Wahai lelaki Syria, tanah airmu merindukanmu. Bebaskan alQudsmu…..” suara itu lirih namun masih mampu kudengar terucap dari lisan lelaki itu.

Lelaki Syria terkenal sebagai pembela Al Quds di Palestina. Perjuangan kami tercatat dalam sejarah. Al Quds memang tanah air umat Islam. Ikatan aqidah yang menyatukan kami dengan bumi Palestina. Namun sekarang ini, Syria sedang membutuhkan uluran tangan dari penindas diktator penguasa negeri ini. Memang selayaknya Syria harus mampu kami bebaskan sebagaimana tekad kami membebaskan Al Quds di bumi Palestina…

Kengerian masih menghinggapi diri kami. Bahkan berhari-hari setelah lelaki bernasyid itu digelandang pergi. Aku pun sudah tak ingat lagi sudah berapa lama tinggal dalam bilik penjara yang pengap ini. Baju seragam sekolah yang masih melekat di tubuhku sudah tak dapat dikenali lagi warnanya. Kengerian dan ketakutan yang diciptakan oleh serdadu-serdadu antek Basyar terasa mencengkeram hingga ke dalam sum-sum.

Basyar terlalu takut oleh pikiran-pikirannya sendiri. Dia takut akan keruntuhan sahabat-sahabat politiknya di berbagai belahan jazirah Arab akan menimpa dirinya. Oleh karenanya ia memerintah dengan tangan besi agar rakyatnya menurut. Namun musim semi kebangkitan tengah mewabah di semua tempat, termasuk di Hulayfilah, kota kecil kami.

“Allaahu Akbar! Kita bebas! Kita bebas!” sekonyong-konyong seorang lelaki bersujud syukur dan kemudian menciumi serta memeluk kami semua. Pintu jeruji pun telah terbuka. Kuamati serdadu-serdadu beringas sudah tidak ada lagi.

“Basyar dan musnah. Kita bebas…. Kita bebas….”

Kami semua bersujud syukur dan saling berpelukan. Aku tak sabar ingin pulang dan bertemu Ibu. Aku ingin memeluknya dan berbagi kebahagiaan bersama.

Sore ini kami berkumpul di alun-alun untuk merayakan kemerdekaan dari cengkeraman Basyar dan serdadu-serdadunya. Sebuah panggung sederhana beratap kain tenda berdiri di tengah. Beberapa lelaki berbicara di atas podium. Aku yang berdiri agak jauh menemani ibuku tak jelas melihat mereka satu persatu.

Al ardlu lana
Walqudsu lana
Wallaahu biquwwatihi ma’anaa

Wajumuu’ul kufri qadijtama’at li tahzimana
Lan tahzimanaa

Aku tersentak. Lelaki itu!

Dengan menggenggam tangan ibu, aku merangsek ke depan. Aku ingin melihatnya. Aku ingin menjumpai lelaki itu. Si penyulut api semangat untuk membebaskan tanah air kami.

Tanganku terus menyibak kerumunan orang. Lantunan suara mengikuti nada lelaki itu bernasyid. Lantunan kesyukuran.

Langkahku terhenti tepat di depan panggung. Mataku bertatapan dengan lelaki berperawakan kecil dengan janggut dan kumis yang dicukur rapi. Di bahunya terlampir selendang khas kami. Senyumnya mengembang dan bersemangat melanjutkan nasyidnya.

Al ardlu lana
Walqudsu lana
Wallaahu biquwwatihi ma’anaa

Aku tergugu. Suaranya sangat jelas terdengar. Merdu dan bersemangat. Ya Rabb, inikah kuasaMu? Air mataku menetes deras. Lelaki itu….. bernasyid tanpa lidah. Serdadu Basyar telah memotongnya!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 8,69 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.

Lihat Juga

Supporter Indonesia membuat Aksi Atraktif dengan membentuk Koreo Bendera Palestina saat Laga Timnas dengan Malaysia, Selasa (

(Video) Penampakan Koreografi Bendera Palestina dan Indonesia di Laga Indonesia vs Malaysia