Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pare Kehidupan

Pare Kehidupan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Seorang anak segera menutup tudung saji meja makan saat tahu bahwa yang terhidang adalah lauk yang tak ia sukai, pare. “Ummi, kenapa harus masak pare sih? Kan pahit Mi…” keluh sang anak.

Sang Ummi yang masih menggunakan celemek usai masak mendekat ke arah sang anak yang ngambek. “Sayang, kenapa tidak jadi makan? Kan sudah Ummi masakin udang kesukaan Abang. Oya, pare juga sangat bermanfaat untuk temani si udang loh,” Ummi sang anak berusaha membujuk.

Sadar tak sadar, kita sering berperilaku seperti sang anak. Dalam menyikapi kehidupan ini, tak jarang kita sangat menyukai apa yang kita rasa enak, baik, dan indah. Padahal, bisa jadi apa yang di pandangan kita baik itu justru buruk untuk kita, pun sebaliknya.

Allah secara indah memberikan pada kita hikmah terhadap hal ini. Dalam sebuah ayat dalam KalamNya, Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Pandangan mata manusia memang sangat terbatas. Ia hanya terbatas pada apa yang nampak di luaran dan tertangkap oleh indera. Untuk itulah, Allah ciptakan pada diri manusia berupa hati, akal, dan nurani. Dengannya diharapkan apa yang manusia pandang jauh lebih dalam dan berdasar.

Dalam contoh kasus di atas, sang anak merasa bahwa apa yang ia rasa pahit, pare, adalah sesuatu yang tidak enak dan tidak bermanfaat. Padahal, jika kita tahu manfaat yang terkandung pada pare, sepahit apapun akan kita terjang. Demi kesehatan yang kini mahal harganya, pare yang pahit sangat sayang jika kita lewatkan.

Pare, di balik rasa pahitnya, memiliki banyak sekali khasiat untuk kesehatan. Disebutkan dalam banyak situs, pare bermanfaat menyembuhkan disentri, gula darah, bisul, penambah ASI, bahkan mencegah virus HIV/AIDS.

Nah, wajar memang jika sang anak, atau mungkin kita tidak menyukai apa yang nampak tidak enak. Namun, seiring dengan semakin matangnya akal dan hati yang terasah, maka sebaiknya kita melihat segala hal dengan pandangan yang lebih integral dan luas.

Memandang hal di sekitar dari dua atau lebih sisi memang sangat dibutuhkan. Dan, yang lebih penting lagi, kembalikan pandangan itu pada dasar yang paling baik yakni Quran dan Sunnah. Maka, insya Allah kita akan terhindar dari salah pandang dan salah aksi dalam menyikapi segala sesuatu.

Wallahu a’lam bish showab.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (12 votes, average: 9,92 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa semester 1 di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Saat ini aktif di KAMMI dan menjadi kepala departemen Pemberdayaan Perempuan KAMMI Komisariat Madani.

Lihat Juga

Ilustrasi. (asepdotcom.blogspot.co.id)

Larangan Berangan-angan Mengharapkan Kematian