Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Seribu Mawar untuk Mawar

Seribu Mawar untuk Mawar

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Judul di atas di ambil berdasarkan salah satu iklan terbaru dari provider terkemuka di Indonesia. Mengisahkan, tentang cerita dua anak manusia berlainan jenis yang saling menyukai. Keduanya berada di kota yang berbeda. Sayangnya, ayah dari wanita itu tidak menyetujui hubungan keduanya, entah apa sebabnya. Tapi di cerita tersebut, sang ayah akan memberikan restu jika si pria mampu membawakan bunga mawar seribu buah kepada Mawar, nama wanita tersebut.

Singkat cerita, seribu bunga mawar berhasil di kumpulkan atas bantuan kawan-kawan si pria itu. Seribu bunga mawar di kumpulkan di depan rumah Mawar dan si pria itu berteriak “maukah kamu menjadi pacarku?” Tanpa berpikir lagi Mawar menjawab “mau” dengan wajah yang sangat sumringah. Tidak di hiraukannya sang ayah yang berada di sampingnya.

****

Apa yang akan kamu rasakan jika menjadi wanita tersebut?? Di bawakan seribu bunga mawar langsung ke hadapanmu. Bahagiakah??

Kalau saya bisa menjawab, saya akan sangat bahagia jika seribu mawar itu yang di kumpulkannya penuh dengan perjuangan adalah pemberian dari suami saya. Atau paling tidak, pengorbanan tersebut di tujukan kepada saya sebagai bentuk pernyataan perasaan untuk menjadikan saya sebagai istri.

Sebaliknya saya tidak akan mau, jika saya menerima seribu mawar itu padahal hanya sebuah ungkapan hati untuk berpacaran. Ya, pacaran. Hubungan tanpa akad tanpa suatu perjanjian tanpa pernyataan hitam di atas putih yang kapan pun dan di manapun hubungan tersebut bisa bubar.

Sayangnya di gambarkan bahwa di wanita itu terlihat sangat bahagia mendapat kejutan seribu mawar. Walau hanya menjadi seorang pacar.

Tidak ada perjanjian di dalam hubungan tersebut apakah akan di lanjutkan menikah atau tidak. Karena kebanyakan hubungan itu di jalani sekedarnya saja. Jika cocok bisa menikah atau bisa juga berakhir di tengah jalan. Hanya “jika”. Seperti sebuah undian, jika dapat ya syukur, jika tidak, ya sudah mau di apakan lagi. Dan menikah bukan lagi mencari suatu keshalihan yang melekat pada diri pasangan tapi bagaimana hati mampu menimbulkan rasa cinta dan sayang. Dan keshalihan menjadi urutan kesekian, yang penting ada rasa cinta. Cinta pada seseorang tepatnya. Tidak salah memang, tapi jika menyuburkan cinta hanya kepada hamba maka akan bisa menjadi suatu kekecewaan nantinya. Lain halnya jika menjadikan Allah sebagai sumber cinta dan menjadikan pasangannya sebagai sarana dalam menggapai cinta Illahi, insya Allah tidak ada namanya “cinta buta”. Cinta buta yang kadang mampu menerjang segala macam logika dan nasihat karena penuh dengan lumpur nafsu.

Selain itu sungguh tidak sebanding, jika derajat wanita hanya di hargai dengan seribu mawar. Padahal Allah telah meninggikan derajat wanita untuk di perlakukan dengan baik. Tapi semua kembali kepada wanita tersebut, perlakuan bagaimana yang dia dapatkan sesuai dengan keinginannya. Layaknya berlian yang makin mahal karena jarang tersentuh, begitu juga hakikatnya seorang wanita. Insya Allah.

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari cinta kepada selainNya dan mampu menjaga kemuliaan diri sebagai wanita. Aamiin.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (41 votes, average: 8,68 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • subbhanallah..
     

  • hhahaha…mawar maafin marwan ya….??? XL buanget….

  • Soal pacaran, pacaran yg seperti apa dlu, jngn langsung menjustifikasi pacaran itu tidak benar… Tergantung berpacaran’y bagaimana.. Jodoh memang ditangan tuhan… Apakah mungkin ketemu trus langsung nikah, kemungkinan yg kecil sekali..

    Tentu ada proses sbelum menikah.. Dan pacaran adalah salah satu proses itu.. Salam..

    • memng, ada proses sebelum menikah , proses yang dianjurkan islam yaitu ta’aruf, tentunya dengan melalui pihak ke3 atau perantara, jadi ttap terjaga kesucian dan kehormatan sebelum menikah,, seperti itu,,

      • setuju banget sama ta’aruf

      • khoirur hani

        Ta’aruf memang adalah pilihan terbaik, akan tetapi jika melihat dari budaya kita yang sudah terkontaminasi budaya barat, apakah mungkin dibudayakan budaya ta’aruf dalam mencari jodoh, sedangkan mayoritas wanita muslim di negara ini berpikiran liberal dan banyak dari mereka yang menganggap ta’aruf adalah hal yang aneh dan tidak perlu dilakukan . Kecenderungannya mereka ingin mengenali calon pasangan mereka melalui hubungan pacaran. Lalu apakah yang harus dilakukan jika dia terlanjur mennyukai wanita yang mempunyai pola pikir seperti ini? Mohon saranya.

        • bukankah setiap orang yg berpacaran diawali dengan ta’aruf (perkenalan)? mengapa tidak mungkin jika ta’aruf dibudayakan dalm mencari jodoh? yang perlu diluruskan bukan mungkin atau tidaknya budaya ta’aruf itu, tetapi apakah ta’aruf itu sendiri (alias perkenalan) benar2 diniatkan u/ mencari pasangan yang sekufu’ dan halal, atau sekedar untuk mencari “kenikmatan” sementara. Yang menjadi koreksi saat ini adalah, muda-mudi hari ini memahami bahwa ta’aruf itu = dijodohkan, yg mau tidak mau harus nurut. Padahal ketika kita memiliki pasangan yang semasa hidupnya belum pernah disentuh (dilihat, diraba, dan diterawang) oleh orang2 yg bukan muhrimnya, itu merupakan satu kebanggaan dan kebahagiaan yang LUAR BIASA.

           Jika kita terlanjur menyukai laki2 atw wanita seperti yg diceritakan akhi khoirur hani di atas, maka merenunglah, libatkan Zat Penentu Takdir untuk memberikan kita solusi terbaik, pernikahan bukan semata utk memuaskan nafsu biologis saja, tapi kita berharap dari pernikahan itu akan lahir generasi Robbani, yang akan memuluskan jalan kita (sbg ortu-nya) menuju JANNAH-NYA

  • anda sebagai admin jangan Klewat PERFECT dalam menulis dan klewat nge’JUDGE…
    krna hanya ALLAH SWT saja’Lah yang punya kuasa atas itu..

    • khoirur hani

      Setuju gan, tapi gimana dong pacaran kan ndak ada didalam islam, adanya ta’aruf. Ada saran? 

      • saya sepenuh’nya mendukung ta’aruf,krna saya sudah mnjalani’nya dgn wanita yg kini mnjadi istri saya..
        (Alhamdulillah bnyk berkah yg saya dapat’kan atas proses ta’aruf trsebut..)

        dan,kini saya mnjalani proses PACARAN,setelah kami sudah SAH sebagai suami istri n’ HALAL bagi Hukum ALLAH SWT n’ Hukum NEGARA..

        saran saya,kita hrs mnggalak’kan sistem ini kepada generasi penerus ISLAM dengan melakukan pendekatan serta pengertian atas guna’nya proses ta’aruf trsebut (trmasuk akan berkah serta hikmah yg PASTI di dapat’kan) secara STEP BY STEP ..

        akhir’nya tidak akan timbul kesan ” ada unsur paksa’an n’ nge’judge bhwa proses pacaran yg di jalani muda mudi skrg itu SALAH jalan “..

        terima kasih..:)

  • Ta’aruf itu mang jalan terbaik MENURUT HUKUM ALLOH SWT,jadi sebagai umat nya mang kita harus mengikutinya dan menjalani nya,cobalah menerung sejenak adakah hukum yg dibuat oleh ALLOH SWT itu merugikan???  sy percaya ga ad satupun yg dibuat merugikan kita! cba liat larangan tentang babi haram,miras haram,dan termasuk larangan pacaran,semuanya menguntungkan kita dan bukan hanya bagi umat islam tpi umat beragama lain krn memang Rosul Muhammad diutus untuk semua umat di dunia ini. klo sekarang umat islam sendiri aj uda ga mau mengikuti ajaran sang baginda rosul,apa jadinya umat islam,mau seperti dalam hadist rosul berikut ini : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa
    takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’
    dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi :“apakah penyakit
    ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada dunia dan
    takut mati!”. (Silsilah hadist shahih no.958).

  • setuju banget !

  • iya, tdnya kirain si marwan bakal bilang… “Mawar, maukah kau jadi istriku?”, gitu…. eh ternyata, mengecewakan…. hmm… jd pacar doang?? gak mau banget klo sy mah…

Lihat Juga

Cover buku "Apa Salahku Sayang?".

Apa Salahku Sayang?