Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Cinta, Lagi-Lagi Soal Cinta

Cinta, Lagi-Lagi Soal Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wallpapers-place.com)

dakwatuna.com Cinta, lagi-lagi soal cinta. Semenjak saya bergabung dengan bidang pers dan media saat kuliah dulu, memang mau tak mau saya harus menulis hampir tiap pekan untuk mengisi buletin. Dan flash back, kebanyakan tulisan saya tak jauh dari tema itu, cinta. Karena dalam sehari-hari pun tak lepas dari perbincangan seputar cinta. Bahkan sebenarnya, apa yang manusia lakukan itu mengandung unsur cinta.

OK, membuat batasan pada tulisan kali ini, izinkan saya mengambil salah satu makna cinta yaitu cinta dalam arti perasaan menyukai, simpati, dan berharap kepada lawan jenis. Dan izinkan pula saya batasi usianya yakni masa penantian sampai bertemu dengan jodoh. Masa penantian itu bisa dimulai sejak mahasiswa atau bahkan sejak SMA. Jadi kalau mahasiswa yang mengaku cinta, tembak-menembak, pacaran, putus-nyambung, tidak termasuk dalam bahasan ini ^_^

Dalam batasan kali ini, menurut saya cinta itu bisa dibagi dalam tiga warna. Pertama cinta sebagai anugerah dari Allah, kedua dia adalah ujian dari Allah, dan ketiga adalah nafsu yang mengatasnamakan dirinya cinta.

Yang pertama, cinta sebagai anugerah dari Allah adalah cinta yang dikaruniakan Allah kepada mereka yang menikah karena Allah. Mereka adalah orang-orang yang berusaha sekuat tenaga menjaga hati dan dirinya dalam masa penantian hingga dipertemukan dengan jodohnya dan disatukan dalam ikatan pernikahan yang sah oleh Allah. Witing trisno jalaran saking kulino, peribahasa Jawa yang berarti cinta tumbuh karena bersama. Kira-kira seperti itulah Allah menganugerahkan cinta itu.

Yang kedua, cinta sebagai ujian. Cinta itu fitrah manusia, terkadang jatuh sebelum waktunya. Jadilah dia sebagai ujian. Bisa jadi, melalui ujian cinta ini Allah mempertemukan hamba dengan pasangannya. Contohnya ibunda Khadijah yang cinta pada akhlaq Rasulullah. Dengan profesional beliau mengusahakan cintanya hingga akhirnya beliau halal untuk Rasulullah. Lalu seperti Fatimah dan Ali. Sebelum menikah, Fatimah diuji cinta oleh Allah. Tapi Fatimah bisa melalui ujian itu dengan sempurna, hingga setan pun tak tahu.

Kalau dianalogikan dengan masa sekarang, bisa jadi (dan sepertinya sering, sangat sering, dan paling sering) seorang perempuan atau laki-laki yang dalam masa penantian telah mencintai seseorang sebelum halal untuknya.

Saya punya seorang teman, semoga Allah menjaga dan merahmatinya. Saat ini dia sedang mengerjakan sebuah proyek dengan seorang laki-laki. Teman saya itu mengagumi akhlaq laki-laki tersebut. Yea, mungkin dia sedang diuji cinta oleh Allah. Teman saya berusaha bersikap seprofesional mungkin dalam melaksanakan proyeknya. Dia sama sekali tidak menunjukkan perasaannya pada laki-laki itu.

Bahkan sampai suatu saat si laki-laki itu mengabarkan bahwa dirinya akan melamar perempuan, entah siapa. Ya sebenarnya teman saya itu patah hati. Tapi? Dia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Walau pun bisa jadi, laki-laki itu hanya ngetes teman saya, karena sampai saat ini nyatanya si laki-laki itu belum melamar siapa pun. Bisa jadi juga si laki-laki itu juga sedang diuji cinta oleh Allah. Entah mereka nantinya berjodoh atau tidak.

Yeah namanya jodoh itu memang harus dijemput dengan usaha. Kalau laki-laki gampang, tinggal lamar aja tu perempuan! Kalau diterima ya Alhamdulillah. Kalau ditolak? Ya lamar lagi! Lho? Kalau perempuan ya cuma bisa menunggu dan memantaskan diri sambil berdoa. Jarang sekali yang berani minta dilamar.

Ya. Cinta datang sebagai ujian. Cinta sebagaimana definisi di awal tulisan ini. Cinta sebagai rasa suka, simpati, dan berharap bisa bersama dengan seseorang. Maka selanjutnya adalah bagaimana seseorang melalui ujian cinta ini. Bagaimana dia menjaga diri dan hatinya. Dan bagaimana dia mengusahakan cintanya hingga Allah pun ridha.

Dan yang ketiga, nafsu yang mengatasnamakan cinta. Bisa jadi awalnya cinta datang sebagai ujian, tapi lama-lama ternyata nafsu yang mengatasnamakan cinta. Masa penantian adalah masa yang rentan. Saling memberi perhatian lebih, saling panggil sayang, papa-mama, dst. Pergi berduaan, dan lain-lain. Padahal kan belum tentu berjodoh. Ujung-ujungnya sakit hati. Mengutip analogi Ustadz Salim A. Fillah dalam bukunya ‘Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan’, ibarat sup kaldu yang bumbunya dimakan dulu. Yang akhirnya bikin sup jadi tidak senikmat kalau bumbunya masih utuh. Seperti itu, kalau pun akhirnya berjodoh, akan mengurangi kebarokahannya.

Menutup tulisan ini, saya mengutip lagi quote seorang trainer, “mencintai lalu menikah itu biasa. Tapi menikah lalu mencintai, itu baru luar biasa!” Jadi, mau pilih mana?

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 8,82 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Sujiati
Seperti orang pada umumnya.
  • Dien Mn

    bisa jadi lelaki juga menunggu untuk melamar.

  • Yang menarik ketika kemaren di forum bedah buku “sakinah bersamamu” asma nadia di surabaya, ada seorang akhwat yang dituntut untuk segera menikah oleh orang tuanya (meski belum ada calon) sedangkan si akhwat tersebut masih ingin meneruskan pendidikannya, mengupgrade kapasitasnya sampai ia ‘berani’ menikah. tak dinanya di bangku ikhwan ada yang berbisik ke aku setelah si akhwat itu bicara, “kok kontra yaaaa. aku yang sejatinya ingin segera menikah, tapi ijin orang tua hanya berlaku ketika aku berpenghasilan sakian juta… hadeh, nasib”. 

    maka dalam masa penantian menjemput/dijemput cinta, adalah kita bisa melakukan upgrade kapasitas diri, sehingga sosok cinta ideal akan kita rengkuh, sebagaimana kita menjadi sosok ideal baginya. dan menikah bukan menyatukan kesempurnaan, tapi menuju kesempurnaan. dan cinta tidak akan tertukar…..

Lihat Juga

Ilustrasi. (buzzerg.com)

Laila Majnun dan Lailatul Qadr

Figure