Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Membangun Peradaban Baru

Membangun Peradaban Baru

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (demosainscreative.wordpress.com)

dakwatuna.comJika kita menelusuri setiap peradaban yang ada di bumi maka kita akan mengetahui bahwa sebuah peradaban besar tidak terlepas dari perjuangan panjang manusia yang memerankan panggung peradaban tersebut. Banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik dari setiap peradaban yang pernah ada di muka bumi ini.  Tak terkecuali Peradaban Islam yang sudah banyak terlupakan oleh mayoritas Umat Islam itu sendiri pada masa-masa akhir ini.

Bagaimana dengan Islam? Ketika kita menelusuri bagaimana Islam itu bisa merubah dunia Arab khususnya dan umumnya seluruh dunia, ternyata peradaban yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw adalah dengan memulai dari dalam dirinya sendiri. Masa-masa itu berlangsung sampai Nabi Muhammad saw resmi menjadi Utusan terakhir sebagaimana yang termuat dalam buku-buku sirah seperti Ibnu Hisyam. Dengan Kejujuran dalam dirinya maka Beliau saw dijuluki al-amin (orang yang bisa dipercaya) oleh kaumnya pada waktu itu, sangat terlihat sepele namun dari sifat inilah ternyata peradaban pun bermula, karena dengan sifat ini banyak menarik simpati orang banyak sehingga sangat tidak layak baginya untuk dituduh berbohong. Its great! Sebuah peradaban yang dimulai dengan “kejujuran” dalam artian tidak ada yang ditutupi sedikit pun dari peradaban ini.

Itu sebelum turunnya wahyu, lalu apa yang dapat kita ambil setelah turunnya wahyu? Setidaknya kita harus mengetahui apa yang pertama kali turun ketika Nabi Muhammad saw telah diutus. Sebagai muslim tentu kita tahu ayat yang pertama turun adalah ayat “iqro” surat Al-Alaq 1-5. Lalu apa isi dari ayat-ayat tersebut? ada dua point yang kita ambil dari ayat-ayat tersebut yaitu: Perintah mengenal sang Pencipta dan membaca/belajar.

Di tengah kebodohan yang dilakukan manusia, di tengah kebobrokan moral sang penguasa, di tengah keterbelakangan ilmu pengetahuan dan etika, di tengah manusia terlelap dengan gemerlap dunia, turunlah Al-Quran memerintahkan Nabi Muhammad saw membaca dan mengenal Tuhannya, karena Tuhan yang sesungguhnya tidak seperti yang dianggap manusia pada waktu itu berupa dewa-dewa atau mengingkari Tuhan. Khitob (perintah) yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw adalah Khitob untuk umatnya, sedangkan umatnya adalah rahmat bagi alam semesta, dengan begitu Umat ini sebenarnya telah diperintahkan “Iqro” oleh Tuhan semesta alam.

Sekarang mari kita lihat dan telusuri apa hikmah dari awal surat al-Alaq tersebut. Yang pertama adalah mengenal Tuhan karena dalam ayat tersebut disebutkan “bismirobbikalladzi kholaq” dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dalam tafsir jalalain kata “kholaq/menciptakan” membutuhkan kata objek, namun pada ayat ini objek tidak disebutkan, jika kita mengatakan “Tuhan telah menciptakan bumi”, objek di sini adalah bumi, dengan begitu maknanya pun jelas tertuju hanya pada bumi. Namun jika kita mengatakan “Tuhan telah menciptakan” maknanya pun masih umum dan luas, pada ayat ini tidak ada objek dengan begitu makna yang terkandungnya pun umum mencakup semua ciptaan, dalam artian bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi terlihat ataupun tak terlihat dengan jumlah yang tak terhitung, sebagai bantahan bagi manusia kala itu bahwa Tuhan itu bermacam-macam (dewa-dewa) yang tak dapat sedikit pun memberi manfaat dan kecelakaan.

Lalu poin kedua adalah “Iqro/membaca” apa hikmahnya? Mari kita lihat. Dalam tafsir Al-wasit karangan Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi dalam kata perintah “iqra/membaca” seperti kata “kholaq” di atas membutuhkan objek misalnya dikatakan “bacalah !” maka kita akan bertanya “baca apa?”, namun jika kita mengatakan “bacalah buku ini !”, maka kita tidak perlu lagi bertanya untuk membaca apa. Namun pada ayat ini kita tidak menemukan objek dari kata perintah “Iqra/membaca”. Lalu apa rahasia dari ini semua? Dari sini kita bisa mengerti bahwa yang diperintahkan Tuhan adalah membaca apa saja tidak terbatasi dengan begitu kata “iqra/membaca” pada ayat ini bisa berarti meneliti, membaca, menelaah, mengamati tidak terbatas pada membaca tulisan.

Lalu apa yang terjadi setelah wahyu pertama itu turun? Kehidupan pun turut berubah terutama bagi sang Pembawa Risalah Nabi Muhammad saw. Namun tak sekonyong-konyong beliau meraih kemenangan, banyak fase dan rintangan yang dilaluinya selama 23 tahun lamanya, dengan menjalankan misi rahmat/kasih sayangnya untuk menyebarkan ajaran tauhid dengan strategi yang telah ditentukan oleh sang pencipta. Sampai pada akhirnya Allah memberikan kemenangan pada puncak perjuangannya ketika fathu makkah.

Para pembaca budiman pada kali ini penulis tidak akan terlalu meluas, dari tulisan di atas penulis hanya ingin mengajak diri penulis khususnya dan umumnya kepada semua orang muslim dan umat manusia di dunia dengan mengambil hikmah dalam sirah Nabi Bahwa awal dari kebangkitan sebuah peradaban yang paling penting adalah 3 point dari diri sendiri yaitu: Kejujuran, Mengenal Tuhan dan kemudian baru membaca.

Kejujuran; karena dengan begitu peradaban pun akan bersih dari segala kebohongan dalam berjuang, mengenal sang pencipta; karena dengan begitu kita akan berjuang tanpa kenal lelah, membaca karena dengan membaca kita mempunyai sinergi juga visi dan misi.

Bagi para ahli Matematika yang mengenal Tuhannya berarti dia telah iqra karena meneliti pun berarti membaca, bagi Ahli bahasa yang mengenal Tuhannya berarti dia telah membaca karena dengan mengetahui banyak bahasa berarti dia telah membaca. Bagi ahli tafsir yang mengenal Tuhannya berarti dia telah membaca karena dengan menafsirkan pun berarti membaca.

Kata terakhir dari penulis, mari kita budayakan point-point peradaban yang telah dibawa kanjeng Nabi Muhammad saw, mudah-mudahan dengan mengamalkannya kita bisa menjadi pemeran sejarah di masa kita mendatang, amien.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Al-Azhar tingkat 3 Fak. Syariah Islamiyyah.

Lihat Juga

Ilustrasi. (haikudeck.com)

Kritik yang Membangun, Tidak Membully