22:10 - Kamis, 30 Oktober 2014

Wanita Tangguh Mencari Cinta

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Kiptiah Hasan - 31/01/12 | 19:30 | 07 Rabbi al-Awwal 1433 H

Ilustrasi (fanpop)

dakwatuna.com – Teringat akan kisah seorang kawan menemukan jodohnya, cukup membuat diri ini semakin yakin akan ketetapanNya tanpa melanggar atau mencari celah pembenaran untuk melakukan hal-hal yang di langgar Allah.

Kisah ini berawal dari tahun lalu, di mana masa perjuangan seorang kawan itu menemukan si pemilik tulang rusuknya. Sebut saja namanya Zahra, dia belum pernah yang namanya berpacaran sekalipun. Subhanallah, sungguh keadaan yang sangat jarang terjadi sekali terjadi di zaman ini. Tetap teguh dalam rasa yang hanya di niatkan untuk Rabbnya. Menginjak usia dua puluh empat tahun, naluri ingin di cintai oleh lawan jenis pun muncul. Tapi ia hanya ingin menggapainya melalui jalur yang halal bukan pacaran. Zahra ingin menikah.

Suatu saat, ia memiliki suatu rasa (bisa di bilang cinta) kepada kawan sekolahnya semasa di kampung. Meskipun kini tinggal di pulau yang berbeda namun rasa itu kian hari kian tumbuh. Sebuah rasa yang di sebabkan oleh keshalihan si pria idaman tersebut (karena kebetulan Zahra mengenal keluarga kawannya itu dan keshalihan keluarganya) bukan karena fisik atau kekayaannya. Tapi Zahra bukanlah seorang perempuan “lebay” yang menggembor-gemborkan perasaannya langsung kepada pria itu. Rasa itu, ia tahan sedemikian rupa hingga hanya ia dan Allah saja yang tahu rasa itu. Hingga kemudian Zahra berusaha mencari solusi dengar meminta nasihat seorang kakaknya.

Kakaknya memberi nasihat, supaya bisa menahan segala rasa yang ia simpan. Kakaknya bersedia menjadi perantara Zahra kepada si pria itu. Namun dengan syarat, agar Zahra bisa meningkatkan ibadahnya. Memperbanyak membaca Al Qur’an, puasa sunnah dan sebagainya. Hal itu bertujuan untuk lebih meluruskan niatnya untuk menikah hanya karena Allah, untuk menjaga hatinya. Bukan berdasarkan hawa nafsu semata.

Beberapa waktu kemudian, ternyata terdengar kabar bahwa pria yang di cintai Zahra akan segera menikah dengan wanita pilihannya. Subhanallah, mendengar kabar itu Zahra tak lantas kecewa. Meskipun ada sebersit rasa sedih tapi ia bisa mengendalikan perasaannya hingga tak berubah menjadi patah hati yang berlebihan.

Usahanya tak putus sampai di situ, ia pun membuat proposal nikah yang ia berikan kepada guru ngajinya dan kepada kerabatnya yang memiliki pemahaman ilmu yang baik. Ia memang sangat berniat menikah untuk menjaga kehormatannya dan bisa melindungi dirinya dari segala macam fitnah.

Hebatnya, mengalami satu kegagalan tak membuatnya putus asa atau bermurung diri. Karena ia memang berniat menikah karena Allah, bukan karena siapa-siapa. Yang terpenting baginya adalah keshalihan.

Dalam bilangan minggu, ternyata Zahra mendapat kabar dari guru ngajinya bahwa ada seorang pria yang siap menikah. Mereka pun saling bertukar biodata proposal. Kedua pihak pun setuju untuk melakukan pertemuan. Dengan di dampingi oleh guru ngajinya masing-masing maka pertemuan di lakukan. Pertemuan pertama berjalan lancar dan untuk pertemuan selanjutnya masing-masing pihak akan mempertimbangkannya kembali.

Setelah beberapa lama di tunggu, ternyata belum ada kabar dari pria itu apakah proses ta’aruf di lanjutkan atau tidak. Maka Zahra pun menghubunginya perihal kelanjutan ta’aruf di antara mereka. Jawabannya yang di terima Zahra adalah bahwa pria itu belum mengkomunikasikan tentang rencana pernikahannya kepada orang tuanya. Orangtua pria itu adalah tipikal orang yang merasa aneh jika pernikahan tidak di awali dengan berpacaran. Zahra terkejut dengan jawaban pria itu. Kenapa sebelum melakukan ta’aruf tidak dulu di bicarakan dengan orang tuanya sehingga sewaktu-waktu ia sudah siap untuk menikah maka orang tuanya bisa menerima. Karena si pria itu tidak memberikan waktu yang pasti mengenai kelanjutan ta’aruf mereka, maka Zahra memutuskan untuk mengakhiri ta’aruf mereka. Hal itu di pilih Zahra untuk menghindari hal-hal yang bisa menjerumuskan mereka ke dalam jurang maksiat di karenakan tidak adanya kepastian waktu.

Dua kali Zahra mengalami kegagalan. Tapi ia tak putus asa. Untuk ikhtiarnya yang ketiganya pun Zahra masih gagal meneruskan proses ta’aruf ke jenjang pernikahan karena sesuatu sebab.

Masih pantang menyerah, Zahra melanjutkan usahanya yang ke empat kali. Kali ini Zahra di beri informasi oleh seorang ustadzah di kampung halamannya di kota X, bahwa ada seorang pria yang siap menikah dan sedang mencari calon istri yang sama kampung halamannya yaitu kota X juga tetapi berdomisili di Jakarta. Mendengar informasi itu Zahra langsung memberikan proposal nikahnya kepada ustadzah tersebut. Selang beberapa hari, terjadilah pertemuan antara kedua pihak di dampingi perantara.

Pada pertemuan pertama lebih di tekankan pada pengenalan pribadi yang merupakan penjabaran dari isi proposal, masing-masing pihak bertanya mengenai hal-hal yang kurang di pahami dan bagaimana pandangan tentang rumah tangga dan seluk beluknya. Pertemuan pertama bisa di bilang penentuan, maksudnya jika ada hal-hal yang tidak di pahami mengenai calon atau ada pertanyaan yang mengganjal, bisa langsung di tanyakan. Karena jawaban dari pertanyaan yang di ajukan pada saat itu juga dapat memperlihatkan ekspresi kejujuran tanpa di buat-buat juga dapat di nilai mengenai sifat asli melalui jawaban yang di lontarkan. Jika ada kecocokan masa dibilang di jadwalkan untuk pertemuan berikutnya yaitu pertemuan antara dua keluarga.

Merasa ada kecocokan antara Zahra dan calonnya. Maka pertemuan kedua langsung berbicara mengenai pernikahan. Bagaimana teknis dan hal lainnya. Awalnya pernikahan akan di laksanakan dua bulan setelahnya, namun khawatir kurang bisa menjaga hati maka dengan berbagai pertimbangan pernikahan di majukan menjadi sebulan dari di laksanakannya pertemuan pertama.

Akhirnya pencarian Zahra akan jodohnya berakhir. Zahra dan calonnya menikah di kediaman Zahra di kota X, dengan acara yang sangat sederhana. Hanya selang sebulan dari masa ta’aruf mereka.

*****

Itulah cerita yang saya ambil berdasarkan kisah nyata dari kawan baik saya. Betapa gigihnya dia menjemput jodohnya. Karena niat dia baik, maka siapa pun prianya yang penting shalih maka ia akan terima. Niatnya tulus karena Allah.

Allah telah memberikan imbalan atas kegigihan Zahra dan kesabarannya dalam mencari pendamping hidup. Allah memberinya seorang suami yang shalih yang mampu memimpin dirinya menuju keridhaan Allah. Kini usia pernikahan mereka memasuki bulan ketiga. Dan singkatnya perkenalan mereka, tak membuat mereka mempermasalahkan perbedaan yang ada. Justru pasca pernikahan, mereka gunakan untuk penjajakan guna pengenalan pribadi masing-masing secara mendalam.

Maha Suci Allah yang telah mempertemukan hambaNya dalam ikatan yang suci. Zahra dan suaminya tak membutuhkan proses yang lama untuk perkenalan pra nikah. Karena jika niat sudah lurus karena Allah saja, maka tak ada celah untuk mencari-cari alasan untuk berkata tidak apalagi melakukan hubungan yang sudah jelas haram (baca: pacaran). Cukup Allah saja yang menjadi alasan.

Mungkin cerita saya di atas hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang jarang terekspos. Ketika niat hanya kepada Allah sudah bulat, maka tak ada yang bisa menghalangi. Dan Allah pun langsung mengganjar kesabaran dengan sesuatu yang indah. Indah pada waktunya.

Tentang Kiptiah Hasan

Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu' [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (32 orang menilai, rata-rata: 8,47 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Info

    Semoga aku bisa menjadi seperti Zahra

  • http://twitter.com/anisamirda anies

    wonder women yang Islami…

Iklan negatif? Laporkan!
71 queries in 2,154 seconds.