Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Apalagi yang Tersisa Kini

Apalagi yang Tersisa Kini

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Apalagi yang tersisa kini

Dari  erangan panjang

Menembus rasa sakit maha dahsyat

Merintih tak terperi

Bertahan  menghadang serangan maut

Apalagi  yang tersisa kini

Dari buaian hingga dekapan yang melenakkan

Air susu membaur

Menyatu dalam raga

Keluh dan peluh pun luluh

Disambut tawa jundi pemberani

Apalagi yang tersisa kini

Kala cita merangkak naik

Langit pun kian  nampak di hadapan

Sementara gurat pilu

Bernaung dipersembunyian malam

Mata pun berair

Sang buah hati

Luput hadirkan riang

Menoleh pun terasa enggan

Apalagi yang tersisa kini

Kala kerinduan menjadi irama desah nafasnya

Biar  raga menyapa tapi hati kian berjarak

Sunyi kini dalam kerentaan

Hanya mampu  menabur jejak-jejak doa

Akhirnya apalagi yang tersisa kini

Kala usia berfatwa

Sehembus hawa melayang di angkasa

Dengan bunda tiada bernyawa

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 6,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Tidur yang baik dan menyehatkan ala Rasulullah, SAW (ilustrasi) - heruno.me)

Kala Ibu Terlelap