Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kebahagiaan Hakiki?

Kebahagiaan Hakiki?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comAllah SWT menciptakan semua makhluk hidup di dunia ini dilengkapi dengan penciptaan tempat bahagianya masing-masing. Seluruh makhluk hidup baik di darat, udara, ataupun air memiliki telah ditetapkan masing-masing tempat dimana mereka bisa hidup bahagia. Bagaimanapun kondisi mereka, hidup akan terasa bahagia manakala masih berada di tempat tersebut. Sebaliknya, mereka akan merasa gelisah, khawatir, bahkan bisa terancam binasa apabila keluar dari tempat bahagianya.

Kita ambil contoh saja ikan. Sebagaimana kita tahu, ikan adalah makhluk hidup yang telah ditetapkan untuk hidup dengan bahagia di dalam air. Semakin banyak air dan luas tempatnya, maka si ikan akan lebih bahagia. Sehingga apabila bisa memilih tentu dia akan lebih memilih hidup di sungai, laut, atau tempat dengan air melimpah lainnya daripada di dalam akuarium, sekalipun akuarium itu terbuat dari emas misalnya. Apabila ikan keluar dari air, maka dia tinggal menunggu kapan saat binasanya. Seperti ketika kita memancing di sungai, ikan yang kita dapatkan tentu akan mendapatkan kebinasaan apabila dia tergoda untuk memakan umpan kita. Mungkin kita akan menggorengnya apabila sudah sampai rumah atau minimal kita akan memeliharanya di tempat kecil (akuarium), dimana di sini dia tidak bisa lagi merasakan kebahagiaan sejatinya lagi.

Contoh lain ialah cacing yang tentu saja kita ketahui semua bahwa habitatnya ialah di dalam tanah atau lumpur. Apabila dia berusaha keluar dari fitrahnya ini, mungkin pada awalnya dia akan merasa bahagia karena melihat dunia beserta seluruh kegemerlapannya. Tetapi, pada saatnya nanti dia akan dimakan ayam, bebek, atau hewan darat lain. Bisa juga dia terinjak manusia atau terlindas kendaraan yang lewat di sana. Atau dia juga bisa mati kepanasan saat matahari bersinar terik sekali.

Begitu pula burung yang sudah Allah SWT tetapkan fitrahnya untuk hidup bahagia di udara bebas. Dia bebas terbang ke mana saja yang dia inginkan. Makanannya pun bisa lebih banyak dia dapatkan. Berbeda dengan burung yang berada di dalam sangkar. Meskipun sangkarnya terbuat dari emas dan diberi makanan pilihan yang enak, tentu dia tidak akan sebahagia ketika hidup bebas di udara. Buktinya ialah, coba saja sang pemilik burung tersebut membuka tutup sangkar burungnya. Apabila burung itu sedang dalam keadaan normal (tidak sakit), tentu dia akan segera keluar dari sangkar menuju tempat bahagianya di dunia ini, yaitu udara.

Lalu, timbul pertanyaan, di manakah Allah SWT menentukan tempat bahagianya kita sebagai manusia? Apakah pada harta, pangkat, atau jabatan yang kita miliki? Ternyata tidak. Firman Allah SWT:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar Ra’du: 28)

Dan masih banyak ayat serta hadits lain yang senada dengan ayat ini. Misalnya ayat yang mengatakan bahwa seluruh manusia pada hakikatnya sudah bersaksi bahwa Allah SWT adalah Rabb kita semua (QS Al-A’raf: 172). Rasulullah SAW pun bersabda bahwa ketika manusia dilahirkan sebenarnya dalam keadaan fitrah (suci), akan tetapi kemudian orang tuanya yang akan menggiringnya masuk Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR Bukhari).

Intinya, sebenarnya kalau kita simpulkan tempat bahagia manusia yang sejati di dunia ini ialah agama (ad-diin). Tentu saja agama yang dimaksud di sini ialah Ad-diinul Al-islaam (agama Islam). Tentu kita familiar dengan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS Ali Imran: 19)

Juga firman-Nya:

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS Ali Imran: 85)

Jadi, sudah jelas manusia akan hidup bahagia manakala dia berusaha beragama dengan baik. Kita akan hidup bahagia jika kita selalu berusaha mengamalkan ajaran Islam dengan konsisten (istiqamah). Apabila ada yang mengatakan, “Pak Fulan itu kan tidak pernah shalat. Dia juga makan dengan tidak merasa berdosa di tengah-tengah ruang kantor saat yang lain masih menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Tapi dia memiliki harta yang melimpah. Dia juga terlihat sangat bahagia dengan seluruh fasilitas yang bisa dia nikmati hanya dengan menjentikkan jarinya saja.” Maka, kita harus mengatakan kembali kepadanya bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa diukur dengan harta, pangkat, jabatan, dan status keduniaan lain. Ukuran kebahagiaan seseorang adalah ada di dalam hatinya. Dan ketika kita coba kalkulasi berapa lama kebahagiaan versi Pak Fulan tadi bertahan, maka tentu tidak akan seimbang dengan kebahagiaan sejati saat kita menghadap Al-Kholiq nanti. Bolehlah misalnya kita hidup dengan harta yang tidak seberapa di dunia ini. Namun dengan amalan agama tadi, tentu hidup kita sudah terasa amat bahagia. Ditambah lagi dengan pengharapan kita kepada Allah SWT bahwa nanti kita akan ditempatkan ke dalam surga-Nya dengan syarat kita mendapat ridha dari-Nya.

Oleh karenanya, marilah jadikan momen Muharram ini sebagai titik tolak kita untuk meningkatkan pengamalan segala yang diperintahkan oleh Allah SWT. Jika tahun lalu kita lebih banyak lalai pada perintah-Nya, maka mari kembali kepada “pangkuan” Allah SWT dengan memperbaiki amalan ibadah kita. Semoga kebahagiaan hakiki akan meliputi kita semua baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin.

Tulisan ini terinspirasi oleh ceramah kultum yang biasanya disampaikan salah satu jamaah dakwah yang cukup populer di Indonesia.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

10 Tips Hidup Bahagia dan Penuh Percaya Diri