Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Rumus Cinta Wanita Karir

Rumus Cinta Wanita Karir

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (123rf.com/Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Tulisan ini saya peruntukkan bagi para wanita karir baik yang belum menikah, akan menikah ataupun sudah menikah dan mempunyai anak, dengan maksud tidak menggurui, hanya ingin sedikit berbagi pengalaman ataupun berbagi informasi dari kejadian di sekitar saya.

Bermacam-macam posisi wanita pekerja (wanita karir) di berbagai tempat baik dari tingkatan terendah sampai tertinggi pasti memiliki cara pandang tersendiri tentang cinta. Ada yang mengartikan cinta itu indah seperti sebuah taman penuh dengan bunga berwarna-warni, teduhnya pepohonan serta menghadap sebuah danau dengan air yang jernih atau bahkan ada gemericik air mancur, di dalamnya ada ikan yang hilir mudik berkejaran dengan riang gembira, ditambah sejuknya udara, rasanya kita ingin berlama-lama menghabiskan waktu di sana. Sebaliknya, ada yang mengartikan cinta itu kejam, di saat kita merasa disakiti oleh orang yang kita cintai atau kita tidak mendapat balasan atas rasa cinta kita terhadap seseorang atau sesuatu yang menurut kita berarti.

Cinta tertinggi tentunya hanya kita peruntukkan kepada Allah SWT, atas segala nikmat dari-Nya yang selalu tercurah untuk kita, dengan keindahan cinta kepada-Nya membuat kita menjalani hidup ini dengan bahagia karena seberat apapun beban yang menghimpit, jika kita dekat kepada-Nya, Insya Allah semua akan terasa ringan.

Kaitannya cinta dengan wanita karir, menurut saya, jabatan tertinggi untuk seorang wanita karir bukanlah sebagai direktur atau komisaris tetapi sebagai seorang istri dan seorang ibu di mana jabatan tersebut tak dapat dibayar dengan nominal tertentu karena memang sangat mulia dan tak ternilai harganya, di posisi istri atau menjadi seorang ibu banyak ladang amal yang menghasilkan pahala-pahala yang nilainya tak sebanding dengan rupiah.

Di saat seorang wanita karir harus memilih antara cinta atau karir, dia dihadapi oleh 1001 macam alasan yang datang, baik dari dalam dirinya ataupun dari lingkungan sekitarnya. Namun tidak sedikit wanita karir yang idealis dengan karirnya dan mengesampingkan cinta bahkan kehidupan pribadinya, baginya karir adalah prioritas utama dari segala hal.

Di saat cinta datang menawarkan untuk bersama-sama melaksanakan sunnah Rasulullah SAW memenuhi separuh dari agama, hanya sedikit wanita yang langsung merespon tawaran itu. Jawaban klasik yang sering terlontar adalah “belum siap”, entah dilihat dari sisi usia, kondisi keuangan, kondisi keluarga, kondisi pekerjaan atau kondisi hatinya yang merasa belum mampu untuk menghadapi segala macam problematika dalam rumah tangga.

Saudariku,

Dalam kehidupan ini kita dihadapkan dengan berbagai macam pilihan yang mau tidak mau atau suka tidak suka menuntut kita harus menentukan pilihan, jangan sampai kita tidak memilih karena terlalu takut memikirkan permasalahan yang belum tentu terjadi atau kita merasa tak mampu menghadapinya jika permasalahan itu datang. Berbekal cinta kita kepada Allah SWT harusnya membuat kita mantap untuk bisa memilih.

Di saat saya memutuskan untuk menikah 9 tahun yang lalu di usia 21 tahun, banyak yang beranggapan usia saya terlalu muda. Jika saat itu saya berfikir belum siap, dari segi usia, kondisi keuangan dan belum memiliki rumah sendiri untuk ditempati setelah menikah, dan lain sebagainya, entah kapan pernikahan saya akan terealisasi. Saat itu saya menyerahkan semua kegalauan hati saya kepada-Nya, dalam pandangan-Nya semua yang mustahil bagi manusia akan menjadi mungkin terjadi, karena Allah SWT Maha Segalanya.

Selama mengarungi bahtera rumah tangga bersama suami tercinta, sudah pasti ada rasa suka maupun duka serta masalah yang mengikuti di setiap langkah cinta kami. Dengan kondisi sama-sama bekerja, terkadang perselisihan datang dikarenakan hal sepele, mungkin karena kita sudah sama-sama lelah, ada masalah di kantor, ada masalah di keluarga besar yang belum terungkapkan, ada masalah terkait anak-anak atau hanya karena miskomunikasi. Setiap permasalahan kecil yang tidak segera diselesaikan suatu saat akan menjadi gunung berapi yang siap meletus kapan saja. Hal-hal seperti itulah yang mungkin ditakutkan oleh wanita karir, mereka lebih suka menghabiskan waktu di kantor, bahkan pulang hingga larut untuk “sesuatu” yang mereka cintai dan tidak mau direpotkan oleh kesibukan mengurus suami, mengurus rumah tangga bahkan mengurus anak-anak, terkadang ada wanita karir yang takut kecantikannya berkurang setelah menikah dan melahirkan, bahkan yang lebih menyedihkan sampai memutuskan untuk tidak menikah.

Saudariku,

Mari kita menata kembali hati kita untuk meluruskan niat kita dalam berumah tangga semata-mata untuk mengharap Ridha Allah SWT, Insya Allah semua permasalahan yang kita hadapi diberi jalan keluar oleh-Nya. Sebagai seorang wanita pekerja (wanita karir) yang sudah memutuskan untuk berumah tangga dan menginginkan semua berjalan seimbang, ada baiknya kita mencoba rumus sbb:

Karir + Komunikasi + Konsistensi = Cinta

Perlu kita ingat kembali bahwa waktu yang diberikan oleh Allah SWT bisa kita pergunakan seefektif dan seefisien mungkin jika hak dari masing-masing bagian sudah kita penuhi. Dalam waktu kita ada hak untuk Allah SWT, ada hak untuk keluarga, ada hak untuk bermuamalah dan ada hak tubuh kita untuk istirahat. Sebagai wanita karir diusahakan fokus pada tempat dimana kita berada, saat di rumah jangan terlalu memikirkan kantor begitu juga sebaliknya, kita upayakan tetap menjalin komunikasi dengan suami ataupun orang-orang di rumah yang menjaga anak-anak kita, Insya Allah jika itu semua dijalani dengan konsisten maka kita akan meraih cinta dari Allah SWT, dari Suami & anak-anak, dari keluarga, dari teman dan dari orang-orang di sekitar kita.

(Penuh cinta untuk suamiku Darwanto dan anak-anakku: Ahmad Rajab Fahrezi dan Nadya Asy Syifa)  *271002 – 271011*

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (57 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...Loading...

Tentang

Anie Rezna
Lahir di Jakarta pada tahun 1981. Dan kini juga tinggal di Jakarta. Seorang karyawati swasta, menikah, mempunyai 2 org anak dan sedang mengikuti program Bahasa Arab di PSI Al Manar, Jakarta Timur.

Lihat Juga

Ilustrasi. (Foto: onislam.net)

Cinta Sahabat Pada Rasulullah SAW

  • Ummu_fadhil

    Bila kondisi tidak mendesak wanita untuk berkarir, bahkan suami sanggup memenuhi kebutuhan keluarga dgn cukup, maka akan menjadi jauh lebih bijak, bermanfaat dan diridhoi Allah, jika seorang istri/ibu, berkarir hanya di rumah….karena secara naluriah seorang anak akan merasa aman dan nyaman bila melihat ibunya ada di rumah, bgtupula dng suminya akan jauh mrs tentram htinya jk melihat istrinya di rumah…it’s right?

  • Afnidawati

    saya seorang wanita telah bekerja selama 12 tahun, posisi saya dalam karier telah cukup mapan.
    kebanyakan pria yang saya temui, dan melamar saya sangat menginginkan saya tetap bekerja jika menikah dengan mereka. saya sangat tidak setuju dengan pendapat tersebut.DAN……. akhirnya saya memutuskan menikah pada usia 30 tahun,
    ketika menemukan seorang pria yang mau memenuhi satu syarat yang selalu saya ajukan kepada setiap pria yang ingin meminang saya. saat saya bertaaruf saya berngajukan syarat:
    “saya bersedia menikah dengan anda, jika anda mengizinkan saya TIDAK bekerja lagi diluar rumahselama saya terikat dalam perkawinan dengan anda”
    alhamdulillah, calon suami saya setuju, bahkan dengan mantap dia berkata
    “kalau masalah keuangan tersebut adalah tanggung jawabnya” .
    alhamdulillah perkawinan kami berjalan lancar meski saya tidak berkarier.
    saat ini saya adalah ibu rumah tangga pada umumnya, yang membedakan :
    pada pagi saya hari mengajar di PAUD dekat rumah (karena saya menyukai dunia anak),dan menjalankan bisnis on line ( untuk menjaga kemampuan marketing, yang saya pelajari saay bekerja) serta menerima jahitan disela-sela waktu (yang memang hobby saya).syukurnya suami tidak penah keberatan dengan keibukan yang saya cari-cari. asal saya tetap di sekitar rumah dan selalu bersama anak-anak.

    • Suzy Ambar

      waduh Bu…saya 14 tahun kerja, trus sekarang hijrah buka TK..kita sama ya Bu..alhamdulillah ada yang seide dengan saya…senang berkenalan dengan Ibu

  • http://limacahaya.blogspot.com/ Amikhomisah

    saya suka lelaki yang pertama kali memnta istrinya bukan dari pekerjaannya…. ataw kedudkannya.
    karena ada juga lelaki yg bertaarufan menginginkan isterinya juga bekerja bahkan lebih baik posisinya jika lebh tnggi dr si pria…
    sebaik2 wanita karir.. adalah wanita yg bisa menjaga dan membina rmah tangga dgn baik.

  • Agatha_rizky

    IMHO, proporsional dan profesional aja. masing2 aktifitas ada porsi na, baik ketika berkarir maupun tidak kita dituntut bertindak profesional.. :)

  • Uminya Taqi

    Bagi saya karir terbagi dua yaitu karir dakwah dan karir konvensional, kalau suami saya mengizinkan di pilihan karir pertama karena lebih berkah dan jam kerjanya pun biasa. Tujuh tahun saya menjalaninya dan alhamdulillah keluarga tetap harmonis karena keluarga kami dibangun atas pilar dakwah. Meski gaji tak seberapa namun lingkungannya dipenuhi oleh orang-orang sholeh sehingga nyaman dan sejalan dengan fikrah kita.
    Usulan saya  bagi ibu yang memilih karir konvensional baiknya konsisten dengan jam pulang, minimalisir lembur dan jangan terobsesi dengan naik pangkat/jabatan. Pentingkan dahulu keluarga. Daripada menjadi manager namun pas pulang anak-anak sudah lelap tertidur Lebih Baik menjadi staf biasa namun bisa berkumpul dengan keluarga tepat waktu, setuju? ^_*

  • Anie Rezna

    jazakalloh khoiron katsiir atas semua responya :)

  • padmi atmojo

    kuliah+kerja+organisasi= nikah, bisa ndak ya??

  • Suzy Ambar

    Alhamdulillah saya udah hijrah per September 2011…malah saya sekarang nyesel banget kenapa nggak dari dulu2 mikir jadi ibu rumah tangganya..dan kenapa nggak dari dulu dulu nikahnya (krn baru ketemu suami 7 tahun yg lalu)…sekarang lebih bisa memahami kesulitan Ibu saya waktu mengurus saya..masak, mencuci, menyetrika..tak habis habis setiap hari..Alhamdulillah suami sangat mendukung saya..Alhamdulillah orangtua sekarang mulai bisa menerima keputusan saya mengakhiri karir saya di perbankan..krn saya pikir, di kantor saya menghabiskan waktu2 berharga saya utk org yang tidak saya kenal dan dibayar dengan sesuatu yg tak sebanding dgn jerihpayah saya..padahal yang lebih berhak utk waktu2 emas saya adalah keluarga saya-anak-suami-orangtua-saudara. Saya takut nanti di hari akhir saya ditanya dihabiskan untuk apa waktu saya??..utk hal-hal tak berguna..Naudzubillah min Dzalik

    Ya Allah..ampunilah dosa-dosa hamba Mu ini…dan masukkanlah hamba ke dalam golongan ahli surga Ya Allah…

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=1252852887 Agustin Sudjono

    assalammualaikum wr wb
    ukhti, bagaimana kalau ternyata belum juga ada lelaki yang belum berani mendekati bahkan menyatakan keinginannya meminang? jujur, saya sekarnag berusia sama seperti ukhti 9 tahun lalu. sy nggak pernah pacaran karena entah saya mikir apa saya terlalu jelek fisik dankepribadian, di samping itu orang tua memang melarang apcaran jika belim selesai menuntut ilmu. godaan lingkungan sekitar begitu menyakitkan! jangankan pacaran, disuaki lelaki saja nggak pernah, dinyatai perasaan oleh lelaki saja nggak pernah. sampai sy berpikir, begitu jauhkan jodohku? rasanya pengen nangis kalo ngelihat orang yang disukai ternyata pacara dengan wanita lain, sakit kalo ada tmn yang aktivis kerohanian ternyata juga pacaran, bener2 benci setengah mati saya. apa, ya, kok saya doang yg kurang beruntung. oke, ada tmn yang teguh dengan pendiriannya dalam jomblo di jalan Allah, tapi ada lelaki yang menyukainya sementara saya? rasanya benar2 sakiit. gimana saya harus menghadapi ini ukhti? saya nggak mau hidup dg ‘topeng’ kepura2an bahwa saya baik2 saja. syukron balasannya
    wassalammualaikum wr wb

    • Julia Deep Stars

      ini kisahnya sama persis dgn saya …

  • http://www.facebook.com/profile.php?id=100005011569219 Dagok Formoza

    like

  • Az

    assalamualaikum.. an mau tanya sbnarnya wanita itu boleh ber karir atw tdk krn, an prnh bca jga artikel2 islami yg intinya wanita itu hnya di peruntukan bagi suami nya dn mengurus kebutuhan rmh tangga? sukron..