Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Geliat Dakwah Pekerja di Luar Negeri, Catatan dari Johor, Malaysia (1)

Geliat Dakwah Pekerja di Luar Negeri, Catatan dari Johor, Malaysia (1)

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Sebuah acara Tarhib Ramadhan di Johor (IKMI)

dakwatuna.comJumlah warga Indonesia yang tinggal di Johor, negara bagian ujung selatan Malaysia, mencapai satu juta jiwa. Jumlah ini merupakan nomor dua terbanyak setelah Kuala Lumpur sebagai ibu kota negara Malaysia. Yang membedakan, warga Indonesia di Johor tidak terpusat bekerja di pabrik-pabrik atau sebagai pelayan toko dan rumah makan. Luasnya negeri Johor membuat pemencaran warga Indonesia juga merata mencakup perkebunan, ladang dan peternakan. Para pekerja rumah tangga juga cukup banyak tersebar di pusat-pusat pemukiman penduduk.

Selain itu, pekerja profesional seperti dosen, tenaga medis, ekspatriat dan pelajar/mahasiswa juga cukup signifikan jumlahnya mengingat Johor memiliki dua kampus negeri, beberapa perguruan tinggi swasta, kawasan perindustrian dan sekolah-sekolah bertaraf Internasional.

Beragamnya profesi dan jumlah yang cukup besar ini merupakan potensi yang sangat berharga mengingat mayoritas dari warga Indonesia ini menganut agama Islam dan kerajaan Johor adalah kerajaan Islam. Islamisasi negeri Johor tampak secara simbolik dan esensi. Salah satunya adalah keharusan murid Sekolah Dasar Negeri untuk mengikuti sekolah agama, di Johor dikenal sebagai kelas Fardhu Ain. Yang menarik, setiap orang dari bangsa Melayu harus beragama Islam dan menjunjung tinggi norma-norma Melayu. Hal ini dengan jelas tertuang dalam artikel 160 Perlembagaan Persekutuan yang dianut sebagai undang-undang di Malaysia yang mengatur bahwa bangsa Melayu dan bangsa lain yang beragama Islam harus tunduk dengan syariat Islam dan perundangan Mahkamah Syariah di Malaysia.

Kondisi ini sangat potensial untuk menumbuhsuburkan dakwah Islam di kalangan warga Indonesia yang tinggal di Johor. Karena mayoritas adalah para Tenaga kerja Indonesia (TKI), maka dakwah di kalangan TKI harus mendapat perhatian serius dari kalangan dai dan lembaga keIslaman tanah air.

Kondisi Pekerja Indonesia di Johor

Ironisnya, citra pekerja Indonesia di Malaysia tidak terlalu baik. Para TKI wanita sering dicap sebagai perempuan murahan, sedangkan pekerja lelaki identik dengan perilaku kriminal. Oleh karenanya adalah sebuah kewajiban besar bagi kita mengingat mayoritas mereka beragama Islam.

Hal demikian, salah satunya, disebabkan kondisi Johor sangat jauh berbeda dengan desa tempat asal para pekerja. Fasilitas dan kemudahan di Johor sebagaimana di negara-negara maju memiliki efek hedon yang sangat tinggi. Dunia hiburan dan kehidupan malam sangat gemerlap mengingat Johor adalah salah sebuah negeri yang paling maju di Malaysia. Selain itu, lokasi Johor yang berdekatan dengan Batam dan Singapura menjadi tempat yang sangat strategis bagi transitnya beragam kemaksiatan. Sudah lazim diketahui bahwa di Johor, prostitusi yang melibatkan beraneka bangsa dan ras sangat diminati. Pekerja kita pun terjebak di dalamnya. Adanya uang gaji dan kemudahan menjadi sebuah peluang yang sangat besar untuk terjerumus ke dalam kemaksiatan. Professor Madya Dr. Mariani Md Nor, pakar psikologi Universiti Malaysia membuat penelitian yang cukup menggemparkan mengenai wanita-wanita Indonesia yang merusak rumah tangga warga Malaysia.

Kondisi demikian tak lepas dari keadaan dimana pekerja-pekerja berada di tanah rantau yang jauh dari pengawasan orang tua. Ketiadaan mereka menjadi pembuka bagi bermacam perilaku dan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Pengaruh teman dan keinginan coba-coba membuat banyak pekerja kita terjebak dalam pergaulan bebas dan kemaksiatan yang lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi minuman keras. Keadaan ini semakin menjadi-jadi karena lemahnya iman dan rendahnya tingkat pendidikan mereka. Meskipun beragama Islam, tidak sedikit di antara para pekerja ini yang buta agama. Tingkat pendidikan serendah Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah bisa menjadi pekerja pabrik di Malaysia dengan gaji paling sedikit dua juta rupiah. Pemalsuan identitas tidak jarang dijumpai sehingga banyak anak gadis yang baru tamat SMP berusia 15 atau 16 tahun sudah menjadi buruh pabrik. Lemahnya iman, rendahnya tingkat pendidikan dan mudanya usia menjadikan permasalahan ini semakin kompleks.

Keadaan yang demikian diperparah dengan karakter masyarakat lokal yang cuek dan tidak ambil pusing dengan urusan orang lain. Bobroknya moral warga Indonesia di Malaysia langsung maupun tidak langsung juga dipengaruhi oleh kultur dan norma masyarakat sekitar. Maraknya seks bebas dan menenggak minuman keras ikut terwarnai dengan karakter masyarakat setempat. Minum minuman keras di tempat umum di Malaysia adalah pemandangan yang biasa, asal pelakunya bukan orang Islam. Berpakaian seminim apapun dianggap biasa asalkan bukan orang Islam. Bagi warga kita di sana, hal yang demikian adalah sesuatu yang aneh bin ajaib dan menarik untuk dicoba. Maka tidak sedikit orang-orang kita yang mencoba minuman keras, merokok dan mentato tubuh. Perilaku ini tidak hanya dilakukan oleh kaum Adam namun juga para wanitanya. Praktek prostitusi terselubung juga demikian. Antrian mobil-mobil mewah di depan asrama pekerja wanita saat sore hari adalah pemandangan yang banyak terjadi. Jadi, perilaku seks bebas ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan karena adanya peran serta warga lokal.

Di antara penyakit sosial tersebut, yang paling memprihatinkan adalah perzinahan. Dari data yang diperoleh Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, lebih dari 60% TKI wanita pernah melakukan seks bebas. Kondisi ini tentunya sangat disesalkan mengingat kepergian mereka ke negeri jiran ini adalah untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Tidak sedikit di antara mereka yang kemudian mengaborsi bayi dalam kandungan, kabur dari agen dan hidup di jalan atau dipulangkan dalam keadaan hamil. Ada juga beberapa yang tertangkap oleh polisi dari mahkamah syariah dan meringkuk dalam penjara mempertanggungjawabkan perbuatannya. Maka terlahirlah bayi-bayi tak berdosa. Ada yang berwajah Melayu, tapi ada juga yang berwajah Cina, India atau Bangladesh. Kondisi semacam ini jelas kontra produktif dengan tujuan individu ataupun negara dalam mengirim TKI ke luar negeri. Kasus-kasus semacam ini menambah beban negara dalam membesarkan bayi-bayi ini, demikian juga dengan para TKI wanita yang kembali ke tanah air sebelum cukup membawa devisa tentu menjadi PR tersendiri.

Dengan kondisi demikian, seharusnya yang menjadi pemimpin adalah orang yang memiliki sense keIslaman yang tinggi untuk mengembalikan para muslim ini kepada Islam. Akan tetapi, konsul RI di Johor justru bukan muslim. Di negeri muslim dan mengayomi masyarakat muslim tapi yang memimpin bukan muslim. Masalah ini semakin menambah deretan sebab kenapa harus ada sebuah gerakan dakwah yang akan mengembalikan para pekerja Indonesia ke dalam pangkuan Islam yang rahmatan lil alamin.

Next: Membangun Gerakan Dakwah Pekerja di Johor

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Qonitatillah, MSc.
Ibu rumah tangga dengan empat orang anak. Menyelesaikan studi master dalam bidang Solar Cell di jurusan Kimia, Fakulti Sains, Universiti Teknologi Malaysia pada tahun 2010. Aktif di Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI) Johor, sebuah organisasi pemberdayaan TKI di Malaysia. Pengurus PIP PKS Johor. Tinggal di Johor Bahru, Malaysia.

Lihat Juga

Innalillahi, KH Ruslan Effendi Meninggal Dunia