Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Iman dan Amal Diciptakan Saling Melengkapi

Ketika Iman dan Amal Diciptakan Saling Melengkapi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ameenlinuxer.blogspot.com)

dakwatuna.com “Amal adalah sebuah konsekuensi yang wajar dari iman, sebagaimana bunga yang tak kuasa untuk menahan bau harumnya yang menyebar” (Sayyid Quthb)

Analogi yang cantik dari seorang Sayyid Quthb memaknai indahnya iman yang dilengkapi amal.

IMAN dan AMAL, dua hal yang bersinergi. Sudah satu paket Allah ciptakan bagi hambaNya yang memuliakan ihsan hingga dalam setiap langkahnya niat amal itu selalu menyertai iman. Jika seorang telah jatuh cinta dan terus merasa dilihat dan dijangkau oleh yang Tercinta, tak hanya kalimat-kalimat manis yang terucap, tapi realisasi pada kenyataan yang dilakukan. Begitu pula hubungan ihsan dengan iman dan amal. Iman memang diyakini dalam hati, diucapkan secara lisan, namun belum lengkap jika tak diamalkan dalam bentuk perbuatan.

Lantas muncul pertanyaan menarik, bagaimana jika iman berdiri tanpa amal atau sebaliknya?

Untuk iman yang berdiri tanpa amal, wallahu a’lam hanya DIA sebaik-baik penilai dan pengganjar niat. Namun mutiara liqa’ kemarin membahas ada dua kemungkinan untuk seseorang yang beriman tanpa beramal, yakni iman palsu atau iman yang telah mati. Sebagaimana yang diibaratkan oleh Sayyid Quthb, bunga tak mungkin kuasa menahan bau harumnya. Pun begitu dengan tumbuhan yang mempunyai akar yang kuat, akan tumbuh dengan baik, berbunga atau berbuah, menghiasi maupun bermanfaat bagi sekelilingnya. Jika tak berbunga maupun berbuah, mungkin saja akarnya rusak, atau memerlukan banyak siraman ‘air’. Mereka yang ikhlas beriman tak kan merasa cukup tanpa memberikan sesuatu kepada yang diimaninya.

Lalu bagaimana jika amal tanpa iman?

Jelas, jawabannya ada di dalam QS. An-Nuur: 39,

“Dan orang-orang yang kafir itu, amalan-amalan mereka laksana fatamorgana di sebuah tanah yang datar, yang dikira air oleh orang-orang yang haus, namun manakala didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dia hanya menemukan Allah di sisinya, lalu Ia sempurnakan perhitungan amal-amalnya, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Begitulah iman dan amal, mereka diciptakan untuk saling melengkapi. Iman yang kokoh kan berbuah amal yang cantik, tiada amal yang buruk jika dilandasi iman yang tinggi. Pertanyaan lainnya, bagaimana jika iman telah kuat terasa namun amal itu tampaknya terlalu sulit tuk dilakukan? Kita dapat mengambil hikmah dari pertanyaan dari Abu Dzar Ra kepada Rasulullah berikut,

“Wahai Rasulullah, amal apa yang paling utama?” 

Rasulullah SAW bersabda: “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” 

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku tidak mampu melakukan sebagian amal.”

Rasulullah SAW kembali bersabda: “Engkau dapat mengekang kejahatanmu terhadap orang lain. Karena, hal itu merupakan sedekah darimu kepada dirimu.”

Karena memang mereka tercipta untuk saling melengkapi, maka tak ada alasan yang dapat memisahkan. Semuanya tentu butuh proses. Jika amal secara langsung terbatasi oleh fitrah, materi, waktu, atau yang lain, maka telah tersedia jalan lain yang lebih mudah, tak perlu bermodalkan yang nyata hanya niat dan ikhlas kuncinya, yakni menghindari kezhaliman diri terhadap orang lain. Wallahu a’lam, sekali lagi, hanya DIA sepantasnya penilai. Saya pernah membaca kisah Isa AS. yang sangat berhikmah, yakni ketika murid-muridnya menanyakan kenapa dia membalas cacian dan kata-kata yang menyakitkan dari seseorang dengan pujian dan kata-kata yang menyenangkan. Begitu pula dia memberikan anggur dan minyak wangi kepada orang tersebut setelah kotoran hewan dilemparkan ke mukanya. Jawab Isa, “Karena setiap orang, hanya bisa memberikan apa-apa yang dia punya”. Subhanallah, begitulah indahnya amalan seseorang ketika iman yang menjadi landasannya.
Sebagai penutup, mari kita mengkaji ulang QS. Al-Ashr: 2-3,

“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman DAN mengerjakan amal saleh…”

Frase penghubung yang digunakan adalah “dan” bukanlah “atau”, hal ini bisa menjadi satu bukti, bahwa iman dan amal selalu berdampingan, diciptakan untuk saling melengkapi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (19 votes, average: 9,47 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Al ‘Aliim