Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Never Ending Sedekah

Never Ending Sedekah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Aku sangat senang berdagang, apalagi kata Rasulullah 9 dari 10 pintu rezeki yang dijanjikan datang melalui berdagang. Wii.. siapa atuh yang nggak seneng??

Tapi berdagang/berusaha juga butuh mental pedagang/pengusaha supaya survive, adanya keberanian atau hampir nyerempet ke arah nekat, sangat dibutuhkan. Dengan modal yang ada tentunya, berpikir taktis dan cerdas terhadap selera pasar, inovatif, ada value edit yang membedakan dagangan/usaha kita dengan dagangan/usaha orang lain, n so many lah. Jika mental itu sudah ada pun, akan ada banyak kendala lain yang menghadang.

Banyak di antaranya yang mampu melewati kendala itu, namun sedikit di antaranya yang mampu meraup sukses menjadi pedagang/pengusaha yang survive, bisa membuka lapangan kerja, atau bisa memperluas usahanya dengan membuka cabang-cabang ditempat lain.

Sukses dengan keinovatifan kita dalam menjual dagangan, adalah suatu hal biasa.

Sukses dengan keistiqamahan kita dalam menjual dagangan, adalah suatu hal biasa pula.

Sukses dengan memunculkan value edit dalam berdagang, udah biasa.

Tapi sukses berdagang/berusaha karena sedekah adalah hal yang luar biasa.

Yup. Seorang teman terbaik saya telah membuktikannya, hanya dengan sedekah, maka akan ada inovatif, akan ada istiqamah, dan akan ada value edit yang ditawarkan kepada konsumen/klien. How could be??

Ok.. dengan melihat kenyataan yang terjadi pada teman saya, saya akan jawab bahwa itu bisa!!

Teman saya ini, bukan orang yang melakukan usaha dan langsung sukses, karena baginya kesuksesan adalah jatuh bangunnya para pedagang /pengusaha dalam menjalankan tiap usahanya.

Saat hamil anak kedua, suaminya resign dan berniat membuka usaha. Otak kirinya saat itu mulai menghitung, biaya melahirkan, biaya perawatan bayi, dan biaya –biaya tak terduga lainnya saat sang suami jobless, pasti akan jauh dari kata cukup. Hingga tiba saat melahirkan, uang di dompet sang suami hanya ada 350 ribu kala itu. Itupun habis saat sopir taksi yang mengantarkan mereka ke rumah sakit, entah mengapa bercerita tentang kondisinya yang sangat membutuhkan dana untuk biaya cucunya yang dirawat di rumah sakit, dan kondisinya lebih payah dari kondisi kami. Seorang kakek tua, berjuang mencarikan dana untuk cucunya yang sakit, dengan menyopir taksi. Padahal kakek tua itu lebih pantas berleha di rumah sambil bermain dengan cucu-cucu daripada harus menyopir taksi. Akhirnya tanpa pikir panjang dan bismillah, sang suami pun mengeluarkan semua uang di dompetnya. Wacks..

Dengan tenang, sang suami berusaha menguatkannya dengan mengatakan bahwa pemberian saat kondisi sempit akan menghadirkan banyak keberkahan melalui rezeki yang berdatangan. Setelah itu, proses bersalin yang mudah, pinjaman dana yang begitu mudah, proses pengembalian dana yang kami pinjam pun menjadi sangat, sangat mudah, kondisi si bayi yang sehat membuat teman saya tertegun, bahwa nikmatNya akan semua kemudahan ini berasal dari sedekah.

Tak lama berselang, usaha sang suami yang belum bisa dibilang menampakkan hasil yang baik, dirundung masalah, sang suami ditipu oleh teman kepercayaannya sendiri yang pergi tanpa kabar, mengkorup dana serta meninggalkan utang yang besar pada usaha yang dijalankannya. Alhasil, sang suami menjalankan usahanya hanya untuk membayar utang-utang teman kepercayaannya, yang lari dengan dana korup.

Dengan sabar, pelan tapi pasti, klien pun mulai berdatangan, proses pengembalian utang peninggalan sang teman kepercayaan lagi-lagi mudah dan tanpa kendala, tak lupa mereka sedekahkan dana yang masuk meski tak seberapa. Meski sedang sempit menghimpit atau lapang tanpa ruang.

Hingga suatu hari, mereka kedatangan tetangga yang hendak menawarkan rumah dengan harga murah. Kebetulan sang tetangga baru saja kena PHK dan jobless, ia hanya memiliki usaha percetakan yang juga hampir gulung tikar, karena bingung mau melakukan apa, akhirnya tanpa pikir panjang, ia jual murah rumah yang ditinggali bersama istri dan 3 orang anaknya. Kebetulan pula sang tetangga adalah aktivis masjid di daerah mereka tinggal, sikapnya yang selama ini baik, membuat teman saya dan suaminya tergerak ingin membantu, namun untuk membeli rumah sang tetangga meski dengan harga murah, mereka tak sanggup.

Akhirnya, sang suami berkata,
“pak, rumahnya jangan dijual, nanti bapak dan keluarga mau tinggal dimana?? Apakah bapak berkenan kerja di tempat saya, dan bersama-sama membangun usaha yang tak seberapa ini?”

Olala..padahal sang suami belum kenal dekat dengan si tetangga. Traumanya pada sang teman kepercayaan dulu, tak membuatnya phobia untuk kembali percaya pada orang lain. Sang suami hanya yakin, bahwa si tetangga adalah orang baik. Dengan niat membantu si tetangga, maka Bismillah, faidzaa azamta fa tawakkal alallah..

Biidznillah, dan akhirnya mei 2011 diresmikanlah sebuah lembaga training pertambangan , dengan 5 orang karyawan (si tetangga dengan ke 3 anaknya ; mengurusi pamflet, dan urusan cetak mencetak dan satu orang di bagian finance), hingga kini, 7 bulan berjalan sejak diresmikan karyawan mereka sudah mencapai 8 orang. Sudah mengadakan 4 kali training besar, sudah memiliki puluhan alumni training, dan omzet pun tak perlu ditanya.

Subhanallah, temanku yang hanya full time mother dan tak pernah membayangkan usahanya akan eksis, kini menjadi presiden direktur lembaga trainingnya, kantor yang tadinya hanya bertempat di rumah, sudah sebulan terakhir ini mengontrak ruko di bilangan yang cukup bergengsi di Graha Raya. Dan kini lembaga training yang didirikannya beserta suami termasuk lembaga training yang cukup diperhitungkan.

Subhanallah, hanya dengan sedekah yang istiqamah dalam sempit dan lapang, teman saya dan suaminya mampu sukses menjalankan usaha tanpa menunggu lama. Hingga kini, tak ada yang menjamin usaha mereka akan terus survive, kecuali dua hal: Never Ending ibadah dan Never Ending Sedekah.

BinJay City, 20 Oktober 2011

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (29 votes, average: 9,76 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Seorang ibu rumah tangga, dengan satu anak. Aktifitas saat ini adalah mengurus TPA Al Aqsho Permata Bintaro. Lulusan S1 Psikologi, dan sedang giat menekuni dunia tulis menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (blogspot.com)

Umar dan Era Kompetitif