Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Muhasabah Syukur

Muhasabah Syukur

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (shintarizal.blog.com)

dakwatuna.com – Bismillahirrahmanirrahim… “Fabiayyi alaa’irabbikuma Tukadzibaan…???”

Saudara ku…. ingatkah kita akan segala nikmat yang telah diberi-Nya…? Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah. Kita memang bukanlah para nabi yang tidak pernah luput dari dosa, bukanlah para sahabat yang senantiasa setia kepada Allah dan Rasul-Nya atau shohabiyah yang zuhud terhadap dunia… Tapi semoga rasa syukur yang telah kita ucapkan dengan tulus masih mampu menggetarkan Arsy Allah…  “Nikmat Tuhan mu yang mana yang kau dustakan?”

Bila kita hitung mungkin milyaran bahkan lebih nikmat Allah yang telah kita terima sampai saat ini. Salah satunya adalah nikmat Iman dan Islam. Sebuah nikmat yang luar biasa jika sampai hari ini kita masih bisa merasakannya melalui tilawah harian kita, sujud-sujud panjang di sepertiga malam, ibadah-ibadah sunnah yang kita jalani, kesabaran dalam menerima setiap ujian-Nya atau bahkan melalui sedekah yang kita keluarkan dengan keikhlasan…..

Apakah kita termasuk orang yang berpikir bahwa Allah tidak adil terhadap diri kita? Terhadap segala nikmat yang telah diberikan-Nya untuk kita karena orang lain mampu mendapatkannya lebih, terhadap cobaan yang ditimpakanNya pada kita padahal itu sebenarnya adalah bentuk rasa cinta Allah pada kita karena kita dianggap pantas untuk mendapatkan tingkatan Iman yang lebih tinggi…

Astagfirullahaladzim…………

Saudara ku apa pantas bila kita bersanding dengan Rasulullah di surga atau setidaknya memiliki derajat yang sama dengan para sahabat dan shahabiyah rasul bila bersyukur saja tidak mampu….? Renungkanlah…. Jika saja kita tahu bagaimana perjuangan Sang Pembawa Risalah, kehidupan para khalifah atau bahkan beratnya perjuangan saudara-saudara muslim di Palestina saat ini yang mempertahankan Al-Aqsha maka tidak henti-hentinya hati ini tergetar untuk mengucapkan tahmid pada Allah….

Bersyukurlah bila nikmat telah diterima, bersabarlah bila keputusan sudah ditetapkan. Malaikat tidak akan menangis jika kau menangis tapi malaikat akan menyebut nama mu dan memohon pada Allah untuk segera menambah nikmat-Nya bila kita senantiasa bersyukur akan segala ketetapan-Nya…

Saudara ku mata yang saat ini kita gunakan untuk membaca, kaki yang saat ini masih bisa digunakan untuk menopang tubuh, telinga yang masih bisa kita gunakan untuk mendengar hiruk-pikuk suara manusia, tangan yang masih bisa kau ulurkan untuk memberi dan lisan yang senantiasa kau gunakan untuk mengatakan hal-hal baik….. itu adalah sedikit nikmat Allah yang bisa kita rasakan.

Saudara ku… jangan sampai kau buta dengan kehidupan duniawi yang bisa melupakan akhirat, jangan kau terlena dengan kesenangan di dunia yang bisa melupakan mu dari siksa kubur.

Ingatlah saudara ku… waktu kita tidak banyak untuk mengumpulkan pahala, untuk mendapatkan bekal akhirat…. Bersyukurlah selama usia masih dalam genggamanmu, selama nikmat sehat masih dapat kau rasakan, selama kesempitan belum kau hadapi. Kemudian… berusahalah menjadi yang terbaik di hadapan-Nya…

Semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkah kita menuju kebaikan… Aamiin

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (46 votes, average: 8,85 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Hanya seorang manusia biasa dengan segala kelemahannya. Namun, dengan berbekal sebuah azzam dalam hati dirinya bertekad untuk memanfaatkan apa yang dimilikinya sebaik mungkin agar menjadi insan yang dapat memberi manfaat bagi sesama (Khoirunnas An'fauhum Linnas).

Seorang manusia biasa yang sedang menunggu ketetapan Rabb nya disetiap waktu, menjalani setiap skenario yang menjadi garis kehidupannya dari Sang Khalik.

Seorang pemimpi yang menjadikan ikhtiar, doa, tawakkal dan ridho orang tua sebagai modal utamanya.

 

Ketika dengan tulisan menjadikan seseorang berilmu sehingga ilmu itu berubah menjadi sebuah amal

Maka itulah sebuah nilai yang mampu ku berikan agar manfaat itu membersamai hidup ku hingga berbuah pahala dalam lingkaran Ridho Ilahi....

Lihat Juga

Ilustrasi (cdn.k.dk)

Saat Menderita Penyakit, Tak Halangi Rasa Syukur