Home / Berita / Internasional / Asia / Palestina Diterima sebagai Anggota UNESCO

Palestina Diterima sebagai Anggota UNESCO

Logo UNESCO

dakwatuna.com – Paris. Palestina telah meraih kemenangan diplomatik pertama dalam upaya memperoleh negara saat komite pelaksana UNESCO mendukung usahanya untuk menjadi anggota, tindakan yang dipandang “tak dapat dijelaskan” oleh Amerika Serikat.

Sekutu Palestina di dunia Arab tak peduli dengan tekanan diplomatik AS serta Prancis dan mengajukan mosi tersebut ke negara anggota komite tersebut, yang mensahkannya dengan 40 suara mendukung dan empat menentang, serta 14 abstein.

Upaya Palestina sekarang diajukan ke Sidang Majelis Umum badan kebudayaan PBB itu pada akhir Oktober untuk pengesahan akhir.

Amerika Serikat mendesak semua delegasi agar memberi suara “tidak” di Sidang Majelis Umum, demikian laporan AFP –yang dipantau ANTARA di Jakarta, Kamis pagi.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan keputusan UNESCO tersebut “membingungkan” saat Dewan Keamanan PBB mempertimbangkan permintaan dari Palestina bagi keanggotaan PBB –yang ditentang oleh Amerika Serikat.

Ketika berbicara kepada wartawan selama perjalanan ke Republik Dominika, ia menjawab, “Saya mendapati sangat membingungkan dan agak tak bisa dipercaya bahwa ada organ PBB membuat keputusan mengenai negara atau status negara sementara masalah itu telah diajukan ke PBB.”

Hillary berkeras “keputusan mengenai status harus dibuat di PBB dan bukan di kelompok pembantu”.

Anggota parlemen dari partai Republik Kay Granger, yang memimpin subkomite yang menyalurkan uang buat tujuan diplomatik mengatakan dalam satu pernyataan ia “akan menyarankan agar semua dana dihentikan”, kalau UNESCO menerima Palestina sebagai negara.

Dalam beberapa pekan Dewan Keamanan PBB akan melakukan pemungutan suara mengenai permintaan sebagai anggota, yang diajukan Presiden Palestina Mahmoud Abbas Ban Ki-moon pada 23 September.

Amerika Serikat memiliki hak veto di Dewan Keamanan, dan telah menyatakan akan memveto setiap upaya menjadi negara sebelum Palestina mencapai kesepakatan dengan sekutu AS, Israel, mengenai sengketa wilayah –yang telah berlangsung lama.

Tapi tak ada negara yang memilik hak veto di komite UNESCO, dan suara “tidak” Washington di Paris tak cukup untuk menghentikan mosi tersebut. Para pemimpin Palestina telah mengatakan mereka menghadapi tekanan kuat diplomatik agar meninggalkan permohonan sebagai anggota.

Namun, Spanyol menyatakan negara itu tampaknya akan mendukung rekomendasi komite pelaksana. (Uu.C003/Ruslan Burhani/AFP/Ant)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,79 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Ekalita Saripiesant

    hak veto yang disalahgunakan adalah minoritas yang berusaha memaksakan kehendaknya dan menimpakan keputusannya yang ceroboh tersebut kepada semua pihak yang terlibat…Tidak memprovokasi dan mempertajam penyebab peselisihan adalah tindakan bijaksana….Menahan kebebasan Palestina sama saja dengan menahan laju pembebasan terhadap perbudakan yang pernah terjadi di Amerika yang memicu terjadinya perang antara utara dan selatan dan akhirnya dimenangkan oleh kebenaran/haq setelah menimbulkan korban bagi kedua belah pihak..Tidak ada gunanya mengikuti orang yang tidak pernah belajar dari sejarah dan selalu mengulangi kesalahan yang sama hanya untuk sekedar pemuasan ego, ambisi, arogansi dan sederet tindakan yang tidak hanya notabene tidak bermoral dan manusiawi, insya Allah, dapat dipastikan hanya menemui kesia siaan dan kerugian dan jumlah korban lebih banyak.Orang semacam ini tidak akan berhenti sampai mereka melihat dengan kepala mata sendiri kehancuran mereka secara nyata….setiap manusia yang lahir telah melalui proses kompetisi dan persaingan sangat ketat, dengan demikian jika untuk memperjuangkan hak azasi yang memang telah secara otomatis diberikan sang Pencipta mereka lebih memilih tetap memperjuangkan kemerdekaan mereka daripada menyerah, hal itu adalah wajar karena jika mereka dulu sebelum lahir menyerah maka mereka tidak akan berdiri tegak hari ini.Semua tujuan ada muaranya selama tujuannya baik dan haq/benar demikian juga dengan kejahatan/kebatilan juga ada umurnya….

Lihat Juga

Bersama ASPAC, UIN Syarif Hidayatullah Gelar Seminar 69 Tahun Pembagian Palestina