Home / Berita / Opini / Jalan Penyelesaian Ahmadiyah

Jalan Penyelesaian Ahmadiyah

Mirza Ghulam Ahmad yang dianggap Nabi oleh Ahmadiyah (wikipedia)

dakwatuna.comSewaktu masih kuliah di Islamabad, Pakistan, saya sempat beberapa kali ke kota Lahore, ibukota provinsi Punjab. Jarak Islamabad – Lahore sekitar 300 kilometer. Dan, meski Islamabad adalah ibukota negara, sesungguhnya kota budaya Pakistan adalah Lahore. Selain memiliki banyak universitas, Lahore merupakan  saksi dari lanskap peradaban  yang amat panjang. Di kota itu terdapat Masjid Badhsahi, tempat di mana Allama Iqbal, penyair besar Pakistan, acap mementaskan pembacaan puisi-puisinya yang mengagumkan. Di kota ini pula terdapat pusat jamaah Ahmadiyah (selain Qadian di India) sehingga dikenal jamaah Ahmadiyah Lahore.

Ribut-ribut soal Ahmadiyah di tanah air saat ini, mengingatkan saya saat ke Lahore sekian tahun lalu. Waktu itu, mobil bis yang saya tumpangi mogok di tengah jalan. Oleh sopir, kami dipindah ke mobil wagon yang hanya mampu memuat sebagian penumpang. Karena hari sudah mulai gelap, dan – mungkin – karena saya dianggap foreigner, oleh sopir saya didahulukan bersama sejumlah orang tua. Rupanya, di antara penumpang wagon ada seorang pengikut Ahmadiyah. Saya tahu itu, saat kami sudah sampai di kota Lahore, dan saya mencari masjid untuk shalat Maghrib dan Isya yang digabungkan.

Demi menyadari saya sedang celingukan, Bapak tersebut menawarkan shalat di tempatnya. Namun Bapak itu terlihat ragu. Ia  buru-buru menambahkan, “Tapi ini bukan masjid. Kami tidak berhak menyebutnya demikian. Ini adalah Bait al-Hikmah.”  Saya pun menolak dengan halus. Saya teringat bahwa Umar bin Khattab menolak shalat di synagogue Yahudi saat ia menguasai Palestina. Tak ada larangan, memang. Tetapi Umar khawatir jika ia melakukannya akan menjadi preseden bagi yang lainnya. Dalam konstitusi Pakistan, Ahmadiyah memang tidak dimasukkan dalam kelompok Islam. Setelah terjadi ketegangan antara Ahmadiyah dan umat Islam Pakistan, Parlemen Pakistan melakukan amandemen ke-dua tahun 1974 atas konstitusinya. Isinya, antara lain, menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah suatu aliran di luar Islam dan menjadi bagian dari agama minoritas (Pasal 260 ayat 3b). Sejak itu, ketegangan tentang Ahmadiyah tidak pernah lagi terdengar di Pakistan. Mereka hidup berdampingan sebagai aliran (agama) baru non-Islam.

Konsekuensinya, secara legal-kultural, mereka tidak berhak menggunakan idiom yang lazim digunakan umat Islam. Seperti masjid, adzan, shalat, haji dan seterusnya.  Sehingga, rumah ibadahnya pun disebut sebagai Bait al-Hikmah. Konsekuensi politik pun demikian. Karena tergolong minoritas, Ahmadiyah hanya berhak memperebutkan kursi sepuluh persen di parlemen bersama-sama agama minoritas lain di negeri itu. Bagi para penganut demokrasi liberal, keputusan itu terlihat diskriminatif. Tetapi patut diingat, Pakistan memang bukan sebuah negara demokrasi liberal an-sich. Negeri itu dibangun atas dasar agama (Islam) sehingga pemahaman demokrasi dibatasi dalam dikotomi Islam dan agama minoritas. Harap diingat, pemisahan mereka dari India di tahun 1947 memang didasarkan pada pemisahan agama Hindu (India) dan Islam (Pakistan).

Karena itu, dalam menyikapi kasus Ahmadiyah di Indonesia, setidaknya ada dua hal yang mesti dicermati. Pertama secara teologis. Seperti diketahui, Ahmadiyah mengklaim Mirza Ghulam Ahmad (selanjutnya disebut, MGA) adalah seorang Nabi. Belakangan, karena desakan berbagai pihak, Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) menghapus kata Nabi dan mempertahankan gelar, “pembawa kabar baik dan buruk (mubasyirat)” kepadanya.

Dalam pandangan Islam baik Sunni ataupun Syiah, doktrin kenabian telah mencapai kata sepakat. Yaitu bahwa Nabi Muhammad (saw) adalah “Khatam an-Nabiyyin”.  Doktrin ini berbasis pada ayat dalam al-Qur’an, “adalah penutup segala Nabi.” Sedemikian pentingnya doktrin tersebut, sehingga siapapun yang memiliki pandangan menyimpang wajib dinyatakan telah keluar dari Islam. Dalam sejarah Islam, Musailamah adalah tokoh pertama yang mengklaim sebagai Nabi setelah kematian Rasulallah saw. Musailamah kemudian dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak hitam yang sebelum masuk Islam membunuh Hamzah, paman Nabi saw.

Doktrin Khatam an-Nabiyyin ini mengantarkan pada satu titik simpul, bahwa tidak ada Nabi setelah Muhammad (saw) wafat. Jikapun ada seorang tokoh agama yang berpengaruh setelahnya, tokoh itu tak pernah bisa disebut sebagai Nabi. Dalam teologi Syiah, tokoh tersebut dikenal sebagai Imam, sehingga Syiah mengenal teologi tentang imam dua belas (itsna asyariyah). Kelompok Sunni menyebutnya dengan beragam istilah: mujaddid, wali, ulama, kyai, ajengan dan lain sebagainya. Intinya, para pembaharu yang oleh Nabi Muhammad dijanjikan akan hadir pada setiap satu abad itu, tetap tidak bisa menyebut dirinya, atau disebut oleh pengikutnya, sebagai Nabi. Di pesantren Asshogiri Bogor, misalnya, Abdul Qadir Zaelani diagungkan dengan gelar yang sangat tinggi: Sulthan al-Awliya (Raja para wali) tetapi tetap tak disebut Nabi. Sebab, para pemuka agama tak lebih dari pewaris Nabi.

Meski telah berkali-kali Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) menjelaskan bahwa mereka mengucapkan kalimat syahadat yang sama, namun masyarakat muslim Indonesia tak percaya dengan penjelasan tersebut. Hal ini disebabkan dua hal. Hal Pertama: teologi Ahmadiyah memilah tiga istilah Nabi. Yaitu “naby mustaqil” (nabi independen), “naby ghayr mustaqil” (nabi tidak independen) dan naby al-dzil (nabi bayangan). Naby mustaqil adalah mereka yang kepadanya diturunkan kitab suci, seperti Nabi Musa, Isa, dan Muhammad (saw). Naby ghayr mustaqil  adalah para Nabi  yang kepada mereka tidak diberikan kitab suci dan bertugas melanjutkan risalah sebelumnya, seperti Nabi Harun yang melanjutkan tugas Musa. Sedangkan Nabi al-dzil adalah para pembaharu dan tokoh agama yang bertugas “memberi kabar baik dan buruk”.

Para pengikut Ahmadiyah Qadiyaniah memandang MGA sebagai naby ghayr mustaqill, sementara pengikut Ahmadiyah Lahore menganggapnya sebagai naby al-dzill. Kedua-duanya tetap menggunakan istilah Nabi. Istilah yang tidak dapat diterima oleh kalangan Islam karena doktrin khatam an-Nabiyyin yang sudah final tersebut. Hal inilah yang menyebabkan mereka dinyatakan non-muslim di Pakistan.

Hal Kedua: sebagai salah satu bukti penyebutan istilah Nabi yang terus dilakukan, stasiun TV Ahmadiyah (MTA channel), dengan tegas dan jelas, setiap kali nama MGA disebut, selalu dibarengi dengan doa, “Alaihi Salam”. Bagi kalangan Islam (Sunni), doa tersebut hanya diperuntukkan bagi para nabi sebelum Nabi Muhammad saw seperti Isa, Musa, Ismail, dan yang lainnya. Untuk para sahabat Nabi Muhammad saja, teologi Sunni hanya menyebutkan doa, “radiallahu anhu” (Semoga Allah meridhoinya). Artinya, bagi umat Islam, pelafalan kaum Ahmadiyah dengan do’a “allaihi salam” menunjukkan bahwa MGA lebih mulia dari sahabat Nabi, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab dan lain-lain.

Alasan-alasan teologis seperti inilah yang mengusik ketenangan masyarakat Pakistan, empat puluh tahun lalu, dan mereka menyelesaikannya dengan menyatakan Ahmadiyah non-muslim, baik kelompok Ahmadiyah Qadiani atau Lahore. Ketegangan yang sama kini tengah merebak di Indonesia.

Kedua: Secara hukum. Sejak Surat Keputusan Bersama (SKB) dikeluarkan pada bulan Juni tahun 2008 menyusul kasus kerusuhan Monas, penyerangan Ahmadiyah di Pandeglang  adalah yang terparah dan paling mengerikan di awal tahun 2011 ini. Menurut saya, muara dari persoalan ini adalah ketidaktegasan aturan dalam SKB itu. Jika di Pakistan, Ahmadiyah dengan tegas disebut non-muslim dalam konstitusi mereka, kita hanya mengaturnya dengan SKB yang menggunakan bahasa bersayap seperti “Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad S.a.w;” (Poin 2 SKB).

Ada beberapa kelemahan dalam SKB tersebut. Pertama, mengutip Prof. Yusril Ihza Mahendra, SKB sesungguhnya sudah tidak lagi dikenal dalam hirarki hukum kita sejak diundangkannya Undang-Undang No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. UU No. 10 tahun 2004 tersebut menyatakan, antara lain, hirarki undang-undang terdiri atas Undang-Undang Dasar, Undang Undang/Perpu, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Peraturan Daerah. (Pasal 7). Dengan kata lain, bentuk keputusan hukum yang tepat bukanlah sebuah Surat Keputusan Bersama (SKB), tetapi Peraturan Presiden (bila yang hendak dilarang Ahmadiyah sebagai organisasi) atau Peraturan Menteri (jika yang hendak dilarang orang/perorang.)

Kedua; SKB telah “melemahkan” ketentuan Pasal 2 UU No. 1/PNPS/1965. Kata “diberi perintah dan peringatan keras” sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU Nomor 1/PNPS/1965 tersebut telah dilunakkan menjadi “memberi peringatan dan memerintahkan”. Namun demikian, walaupun isi SKB itu tidak memuaskan, SKB itu adalah kebijakan (beleid) Pemerintah, yang oleh yurisprudensi Mahkamah Agung, dinyatakan sebagai sesuatu yang tidak dapat diadili.

Kini, bola penyelesaian hukum tentang Ahmadiyah (dan gerakan penodaan agama lainnya) ada di tangan presiden. Presiden tidak perlu lagi “prihatin” atau membentuk satuan tugas (satgas) dalam menyelesaikannya. Presiden tinggal menerbitkan Peraturan Presiden untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Sebab, faktanya, kegiatan Ahmadiyah di Indonesia bukan sekedar kegiatan individu para penganutnya, tetapi suatu kegiatan yang terorganisasikan melalui JAI. Organisasi ini terdaftar di Kementerian Kehakiman RI sebagai sebuah vereneging atau perkumpulan berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman tanggal 13 Maret 1953. Berdasarkan ketentuan Pasal (2) UU Nomor 1/PNPS/1965, apabila kegiatan kegiatan penodaan ajaran agama itu dilakukan oleh organisasi, maka Presiden dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakannya sebagai “organisasi/aliran terlarang”, setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung.

Dalam hal setelah Peraturan Presiden yang membubarkan Ahmadiyah diterbitkan, dan pihak Ahmadiyah tetap melakukan kegiatannya, ketentuan Pasal 156a KUH Pidana berlaku. Yaitu, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap sesuatu agama yang dianut di Indonesia”. Sehingga, alur hukum penyelesaian tentang Ahmadiyah menjadi jelas tanpa perlu berputar-putar.

Wallahua’lam bishowab.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (166 votes, average: 9,45 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Pingback: Tweets that mention Jalan Penyelesaian Ahmadiyah | dakwatuna.com -- Topsy.com()

  • yupppp…

  • Memang di butuhkan ketegasan seorang pemimpin…

  • Agungjember

    Masalahnya Ahmadiyah masih meyakini Allah swt, Muhammad saw dan Qur an disamping MGA dan kitab suci nya, sehingga dia masih mengaku Islam.

    Apakah Pemerintah negara Indonesia (yang bukan negara Islam sebagaimana Pakistan) secara konstitusional memiliki kewenangan untuk menyatakan bahwa Ahmadiyah bukanlah Islam ?

    Apakah kekerasan terhadap Ahmadiyah di Pakistan menjadi tiada setelah dia dinyatakan bukan termasuk Islam ? Seingat saya beberapa waktu lalu terjadi pemboman rumah ibadah Ahmadiyah di Pakistan yang menewaskan beberapa orang.

    • Anwar Abine Anas

      Rukun Iman itu ada 6 kang.
      iman kepada rasul2 Allah membatasi Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir.
      Iman kepada kitab2 Allah tidak menyebutkan At Tadzkiroh sebagai salah satu kita yg harus diimani. jadi kalau ada orang yang melenceng dari rukun iman yang seperti itu maka dia tidak lagi beriman alias kafir. Gimana sih, kok anda masih bilang mereka Islam???

    • Gubay

      Meskipun mengakui yg lainnya (sama dengan yg diakui umat muslim) tapi ketika mengakui ada nabi setelah Muhammad SAW, maka ia bukanlah Islam karena di Islam Muhammad SAW adalah penutup para nabi.

      Pemerintah (meskipun bukan negara berbasis agama) tetap bisa – bahkan harus mengambil sebuah keputusan tegas dan final berdasarkan fakta yg ada dan masukan dari pemuka agama yg bersangkutan (Islam) dan menteri agama.

      Memang tidak ada jaminan 100% tidak akan ada lagi friksi ketika Ahmadiyah dinyatakan di luar Islam tapi yg pasti akan selalu ada api dalam sekam yg sewaktu-waktu akan berkobar jika ada suatu aliran yg mengaku sama meskipun berbeda secara jelas.

    • Dj4k4 P4l5u

      Memang Ahmadiyah mengakui dan bersahadat bahwa Muhammad Rasulullah, tetapi Muhammad yang dimaksudkan Ahmadiyah adalah MGA, karena Ahmaadiyah menganggap MGA adalah reinkarnasi dari Nabi Muhammad SAW, MGA juga disebutkan sebagai Adam, Isa, Nuh dan nabi-nabi lainnya..hebat amat tuh MGA al kahzab..banyak banget nabi yang reinkarnasi kedalam tubuh kotornya..

  • Ahmadiyah bukan Islam

  • Kukuyaaan

    lebih setuju untuk di beri ruang sebagai agama sendiri dan kemudian dihormati karena walaupun dilarang mereka akan tetap berpegang teguh dengan ajarannya. bercermin dari Pakistan sebagai negara yang melahirkan aliran tersebut, semestinya indonesia mencontoh hal tsb untuk menghindari pertikaian dan kekerasan yang dilabeli nama islam.

    • Gubay

      Dan untuk itu dibutuhkan ketegasan dari pemimpin.
      Adakah..?

  • mgkn kita bs belajar dr pengalaman pakistan (apalagi saat ini, ngr ini jg mrpkn ngr yg populasi muslimnya trbyk di dunia)

  • hmm, tapi Indonesia kan beda ya sama Pakistan. maksudnya, kalau dia dibubarkan, ini tidak mencerminkan demokrasi. kenapa ga disebut aliran saja dan tidak perlu dibubarkan..
    SKB, duh. ini payah banget memang.. dan presidennya pun banci dan lambat mengambil keputusan apapun..

  • Tulisan yang cukup memperkaya pengetahuan. Jazakallah.
    Semoga pemimpin segera mengambil langkah yang lebih tegas sehingga kedamaian dapat benar-benar terwujud.

  • Hamdani,S.Si

    Tulisan yang ok bangets…”Pake Otak dan Logika: ISLAM=(ALLAH SWT,Nabi MUHAMMAD SAW,Kitab Suci AL-QUR’AN)…ISLAM Jangan dinista dengan Nabi MIRZA NGULAM RUMPUT & Kitab TAZKIROH….Kl mau buat Agama Jangan Pake Atribut ISLAM…

  • Semoga ini bisa membuat masy yg mlm tau menjadi, dan bermanfaat.

  • Terima kasih informasinya. Ijin share ke blog kami http://www.ldii-sidoarjo.org Terima kasih

  • Satry

    agama kita sekarang demokrasi yang selalu di unggul2kan

  • Dedi Juned

    sya setuju bwanget sma anda yang menulis kta2 diatas… bahwa ahmadiyah bukan lah agama islam… tapi agama baru…karna punya nabinya sendiri. si mirza ghulam…. dan kitabnyapun sendiri….

  • suhanto

    klo memang ahmadiyah meyakini Alloh Swt , Nabi Muhamad Saw serta kitab Alqur’an, knp harus mempercayai MGA dan kitabnya?klo bgt jangan menggunakan dan meng atasnamakan ISLAM …!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    cari sensasi banget tuh ………………ikut IMB aja biar tenarmah …ya ga.

    • Gubay

      Islam mengimani Allah SWT, kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an dan nabi-nabi sebelum Muhammad SAW.
      “sebelum”, bukan “sesudah”.
      Jika mengimani yg “sesudah” maka ia bukanlah Islam.

      • Agusnie

        meyakini sesudah nabi muhammad ada nabi itumah guyonan pengikut ahmadiayah…hayang diseungseurikeun!!!

  • Wahyu

    Di dalam ajaran islam di dalam Al qur’an dan Hadist(panduan utama Umat islam) sudah di jelaskan bahwa “NABI MUHAMMAD SAW” adalah nabi dan rasul terakhir/penutup. jadi apapun ceritanya baik pengakuan seorang atau dari beberapa kelompok mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw sudah melenceng dari keyakinan islam.akan tetapi jika ada yang tetap mengakuinya berarti ia sudah menentang dari sumber islam yang utama (al Quran).

  • Wahyu

    Di dalam ajaran islam di dalam Al qur’an dan Hadist(panduan utama Umat islam) sudah di jelaskan bahwa “NABI MUHAMMAD SAW” adalah nabi dan rasul terakhir/penutup. jadi apapun ceritanya baik pengakuan seorang atau dari beberapa kelompok mengakui adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw sudah melenceng dari keyakinan islam.akan tetapi jika ada yang tetap mengakuinya berarti ia sudah menentang dari sumber islam yang utama (al Quran).

  • Dsulaeman5

    Kalau presidennya tidak punya nyali, sampai kiamatpun kasus-kasus seperti ini akan terus berulang dan berulang…damailah…Indonesia…..

  • Dsulaeman5

    Kalau presidennya tidak punya nyali, sampai kiamatpun kasus-kasus seperti ini akan terus berulang dan berulang…damailah…Indonesia…..

  • Pingback: Penyelesaian Kasus Ahamadiyah « EVERY BODY WANTS TO BE UNDERSTOOD AND TO BE LOVED()

  • Muflihunbinmajid

    para elit politik sebenarnya sadar,apalagi para elit itu juga mereka itu muslim.Tapi demi kepentingan orang per orang dan ingin mendapat ridha kaum minoritas dengan rela hati mereka menghianati ISLAM agamanya sendiri.Sungguh ini prilaku kotor para elit yang durjana……Tidak sungkan2 mengotori Agamanya.Di anggapnya kita ummat Islam,ummat yang kasar dan memonopoli kebenaran.Padahal sudah jelas tidak ada kebenaran selai islam.

  • Gubay

    Aliran lebih hanya berbeda pada pelaksanaan syariatnya, pangkalnya tetap sama dari Tuhan sampai nabi dan kitab sucinya.

    Indonesia memang bukan Pakistan dan apalah artinya demokrasi dan HAM – yg tidak lebih dari propaganda barat – jika membiarkan api terus ada dalam sekam?

  • Aufla_hudzaifah

    Ayo pak presiden gunakan kekuasaanmu sebaik mungkin, setegas mungkin … supaya kerusuhan ataupun saling menjatuhkan sesama saudara dapat dihindari…

  • Aiem

    hehe… iya memang… tapi kalo ahmadiyah diyatakan non muslim, kemungkinan besar nggak akan ada alagi bentrok,,, dan persoalan beres……

    • Pro_phetrme

      Yg jadi masalah,ahmadyah gk mau disebut non muslim karena pengikutnya rata2 orang muslim awam yg dibodohi.Dan mereka mau saja sepanjang masih dalam Islam. coba kalau ahmadyah setuju keluar dari Islam dan jedi agama baru,sudah pasti bakal ditinggalkan pengikut2nya karena mereka juga tdk mau jadi murtad,meski sebenarnya tanpa disadari mereka telah murtad..Dan yg paling penting,sponsor2 yahudinya dan dari negara2 Barat pasti pada mundur karena sudah kurang efektif dijadikan alat pemurtadan dan pelunturan akidah umat Islam.

  • Eenda34

    ahmadiya ikut imb aja biar tenar……..
    bukan ikut2 agama lain…..

  • Nidanida10

    Ahmadiyah itu bkn ISLAM,,,klo emg mreka islam untuk apa mreka mengakui MGA itu sebagai nabi(bener2 sesat…)
    klo emg mw membentuk agama bru silahkan tp….jgn bawa2 islam dong…..
    krn di khawatirkan akan menyesatkan orang yang masih awam akan pengetahuan islam.

  • H.M.syafe’i

    tlg pak PRESIDEN jgn sampe ada aliran2 yg merusak agama kami,,,,,,,,,,ingatlah akn anak cucu kita, jgn sampe ereka krluar dr AQIDAH RASULULLAH…

  • Terima kasih, atas penjelasannya yang panjang-lebar. Saya semakin paham tentang penyimpangan serta dalih ahmadiyah dalam membela diri.. Memang bagusnya ahmadiyah diputuskan saja berada di luar Islam. Itu lebih baik daripada membiarkan api dalam sekam…

  • Bagi org2 yg mau berfikir dan mencari kebenaran, penyimpangan Ahmadiyah sudah jelas dan nyata, hanya musuh2 Islam terutama kaum munafikin saja yang membuatnya jadi bias,

    Apalagi mengetahui bahwa masih banyak umat Islam yang kurang paham dengan ajaran agamanya sendiri sehingga justru membela habis2an kesesatan Ahmadiyah dg alasan HAM. Sbgmn yang diajarkan Rasulullah saw, Agama kita dengan tegas TIDAK MENTOLELIR KEKERASAN! Kita setuju agar pelaku ditindak tegas! Namun pemicu kekerasan itu terjadi juga HARUS DITINDAK DULUAN! yaitu AHMADIYAH! Penodaan ajaran terhadap agama yang sudah ada dan diakui secara sah oleh hukum tetap dibiarkan??? IRONIS!

    Berbagai alasan pembelaan thd Ahmadiyah spt HAM, dan alasan kebebasan beragama yang dimuat UUD45 Pasal 29 adalah hal yang kuno dan mengada2! Apakah kebebasan beragama itu termasuk bebas mengacak2 ajaran agama semau kita walaupun menodai dan menyakiti ajaran agama yg ada? Apakah jk ada yg mengaku Yesus itu bukan Isa Almasih lalu negara akan diam saja pdhl itu menyakiti saudara2 kita dari agama Nasrani? Jika mmg dalih jaminan melaksanakan ibadah itu melindungi Ahmadiyah, harusnya negara jg membiarkan umat muslim yg melempari Ahmadiyah krn umat muslim tsb sedang melaksanakan ibadah yaitu amar ma’ruf nahyi munkar?

    Musuh2 Islam dan kaum2 munafik yg mengaku umat Islam melalui media massa scr besar2an mencitrakan Ahmadiyah sbg kaum yg ditindas oleh Umat Islam. Maka mari Saudara2ku, mari kita bersatu, kita sadarkan saudara2 kita yg masih bimbang, bingung, dan akhirnya tersesat, terombang-ambing kekuatan propaganda kaum munafikin!

    Namun demikian, bagi saudara2ku yg sama marahnya dg saya, hendaknya menahan diri agar tdk melakukan tindakan melawan hukum. Mari tegakkan kebenaran dg jalan yg benar! Hal yg harus diingat kaum munafikin itu adalah bahwa umat Islam tdk pernah memaksakan agama ini kpd org lain, lakum dinukum waliyadin! Hal yg salah adalah seolah2 Kita memaksakan Ahmadiyah spy masuk Islam! Phdl yg kita minta ckp sederhana: jika mengaku Islam beribadahlah sesuai ajaran Islam, tp jk keukeuh mau pegang keyakinannya silahkan bikin agama sendiri dan mari kita hidup berdampingan seperti layaknya kami bersaudara dg teman2 kami dari agama Nasrani, Budha, Hindu, dan lainnya, beres toh?!

    Terimakasih saya ucapkan buat Penulis, atas paparan yang cukup rinci semoga menjadi bahan renungan bagi Umat Islam yg masih awam.

  • Bagi org2 yg mau berfikir dan mencari kebenaran, penyimpangan Ahmadiyah sudah jelas dan nyata, hanya musuh2 Islam terutama kaum munafikin saja yang membuatnya jadi bias,

    Apalagi mengetahui bahwa masih banyak umat Islam yang kurang paham dengan ajaran agamanya sendiri sehingga justru membela habis2an kesesatan Ahmadiyah dg alasan HAM. Sbgmn yang diajarkan Rasulullah saw, Agama kita dengan tegas TIDAK MENTOLELIR KEKERASAN! Kita setuju agar pelaku ditindak tegas! Namun pemicu kekerasan itu terjadi juga HARUS DITINDAK DULUAN! yaitu AHMADIYAH! Penodaan ajaran terhadap agama yang sudah ada dan diakui secara sah oleh hukum tetap dibiarkan??? IRONIS!

    Berbagai alasan pembelaan thd Ahmadiyah spt HAM, dan alasan kebebasan beragama yang dimuat UUD45 Pasal 29 adalah hal yang kuno dan mengada2! Apakah kebebasan beragama itu termasuk bebas mengacak2 ajaran agama semau kita walaupun menodai dan menyakiti ajaran agama yg ada? Apakah jk ada yg mengaku Yesus itu bukan Isa Almasih lalu negara akan diam saja pdhl itu menyakiti saudara2 kita dari agama Nasrani? Jika mmg dalih jaminan melaksanakan ibadah itu melindungi Ahmadiyah, harusnya negara jg membiarkan umat muslim yg melempari Ahmadiyah krn umat muslim tsb sedang melaksanakan ibadah yaitu amar ma’ruf nahyi munkar?

    Musuh2 Islam dan kaum2 munafik yg mengaku umat Islam melalui media massa scr besar2an mencitrakan Ahmadiyah sbg kaum yg ditindas oleh Umat Islam. Maka mari Saudara2ku, mari kita bersatu, kita sadarkan saudara2 kita yg masih bimbang, bingung, dan akhirnya tersesat, terombang-ambing kekuatan propaganda kaum munafikin!

    Namun demikian, bagi saudara2ku yg sama marahnya dg saya, hendaknya menahan diri agar tdk melakukan tindakan melawan hukum. Mari tegakkan kebenaran dg jalan yg benar! Hal yg harus diingat kaum munafikin itu adalah bahwa umat Islam tdk pernah memaksakan agama ini kpd org lain, lakum dinukum waliyadin! Hal yg salah adalah seolah2 Kita memaksakan Ahmadiyah spy masuk Islam! Phdl yg kita minta ckp sederhana: jika mengaku Islam beribadahlah sesuai ajaran Islam, tp jk keukeuh mau pegang keyakinannya silahkan bikin agama sendiri dan mari kita hidup berdampingan seperti layaknya kami bersaudara dg teman2 kami dari agama Nasrani, Budha, Hindu, dan lainnya, beres toh?!

    Terimakasih saya ucapkan buat Penulis, atas paparan yang cukup rinci semoga menjadi bahan renungan bagi Umat Islam yg masih awam.

    •  Salam kenal mas Ferry. Yang menjadi pemikiran dibenakku. Saya setuju dgn mas Ferry bahwa Ahmadiyah jangan sampe mengaku bahwa mereka Islam. Kemudian kl mencontoh dgn Pakistan sesuai cerita penulis bahwa Ahmadiyah adalah aliran atau ajaran non muslim, atau bahkan berdiri sendiri menjadi agama. Maka yang ada dibenak pemerintah atau presiden sekalipun itu apa. Kok sampe g cepet mengetok palu utk menjadikan Ahmadiyah itu sbg agama sendiri. Apakah diUU, peratuaran atau apakahlah namanya, bahwa Di Indonesia ini hanya dibatasi beberapa agama dan tidak menerima lagi agama baru masuk ke Indonesia?

  • abu haura

    Kalau Ahmadiyah…kekeh sumekeh dengan kesesatannya….mungkin ada cara lain selain yang diatas. Ajak saja mereka MUBAHALAH dengan ulama-ulama kita yang sangat paham Akan Ahmadiyah, seperti Ustad USTADZ AMIN DJAMALUDIN, DARI LPPI (LEMBAGA PENELITIAN & PENGKAJIAN ISLAM) yang langsung disiarkan di Televisi, biar masyarakat tahu siapa yang sebenarnya SESAT dan MENYESATkan.waalhualam

  • Warsitosains

    Pihak Ahmadiyah selalu menggunakan tameng kejadian Cikeusik sebagai pihak yang didzolimi. Akar masalah terkait dengan kebohongan publik bahwa dia bagian dari Islam. Pemerintah harus jernih memandang masalah ini, bukan umat islam yang selalu diposisikan pada pihak yang selalu di pojokkan. Bubarkan ahmadiyah atau jadi agama baru bukan baian dari islam

  • alia

    Asw, pak Inayatullah Hasyim, dalam tulisan anda disebutkan : Sejak itu, ketegangan tentang Ahmadiyah tidak pernah lagi terdengar di Pakistan. Mereka hidup berdampingan sebagai aliran (agama) baru non-Islam.
    Kenyataannya tidak demikian, kekerasan kerap terjadi termasuk pembunuhan. Yang paling banyak korbannya pada bulan Mei tahun 2010, lebih dari 80 orang anggota Ahmadiyah meninggal dunia akibat diberondong peluru saat sholat jumat. Zona merah TV-One pernah meliputnya. Termasuk meliput rumah sakit milik Ahmadiyah yang diperuntukkan untuk umum, terutama warga miskin Pakistan.

  • Sebelumnya maaf,
    Saya Immanuel-Papua. Sebenarnya saya beragama katolik tetapi saya mempunyai hati nurani yang sama sebagai umat manusia yang mempunyai hak hidup dan sistem nilai sebagai manusia. Saya turut prihatin atas kondisi negara kita dewasa ini. Karena, kalau pun saya jujur dari hati nurani kebanyakan umat beragama nyatanya kebebasan umat beragama memeluk agama itu adalah hak individu dan tidak perlu dilarang kecuali agama tertentu merusak hak-hak umat beragama lain. Negara pun jelas menjamin dan melindungi hak-hak dasar itu, dan sejatinya kehadiran Ahmadiyah adalah bukan kebetulan melainkan pastinya ada latar belakang sejarah. Negara hadir pastinya ada latar belakang sejarahnya. Kesemuanya hadir tidak secara kebetulan. Oleh karena itu diharapkan agar Pemerintah negara ini mengatur secara arif dan bijaksana dalam menghadapim masalah ini. Apalagi pimpinan negara ini adalah orang tuanya masyarakat. Baiknya kalau negara ini tidak terlihat kaku di mata masyarakat dalam menyikapi persoalan hak-hak mereka agar masalah serupa tidak terjadi dan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang memihak pada hak-hak umat manusia atau nilai manusia. Oleh karena itu kita tidak perlu ekstrim dalam menyikapi persoalan ini. Trima kasih, Wassalam!

  • Sebelumnya maaf,
    Saya Immanuel-Papua. Sebenarnya saya beragama katolik tetapi saya mempunyai hati nurani yang sama sebagai umat manusia yang mempunyai hak hidup dan sistem nilai sebagai manusia. Saya turut prihatin atas kondisi negara kita dewasa ini. Karena, kalau pun saya jujur dari hati nurani kebanyakan umat beragama nyatanya kebebasan umat beragama memeluk agama itu adalah hak individu dan tidak perlu dilarang kecuali agama tertentu merusak hak-hak umat beragama lain. Negara pun jelas menjamin dan melindungi hak-hak dasar itu, dan sejatinya kehadiran Ahmadiyah adalah bukan kebetulan melainkan pastinya ada latar belakang sejarah. Negara hadir pastinya ada latar belakang sejarahnya. Kesemuanya hadir tidak secara kebetulan. Oleh karena itu diharapkan agar Pemerintah negara ini mengatur secara arif dan bijaksana dalam menghadapim masalah ini. Apalagi pimpinan negara ini adalah orang tuanya masyarakat. Baiknya kalau negara ini tidak terlihat kaku di mata masyarakat dalam menyikapi persoalan hak-hak mereka agar masalah serupa tidak terjadi dan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang memihak pada hak-hak umat manusia atau nilai manusia. Oleh karena itu kita tidak perlu ekstrim dalam menyikapi persoalan ini. Trima kasih, Wassalam!

    • zaenal muarif

      yang terhormat Bpk Immanuel. sy sangat setuju sekali dg pendapat anda.menurut saya sampai kiamatpun akan sll ada permasalahan spt ini.baik dlm agama islam dan agama anda mungkin yg lainya jg. Seperti papatah mengatakn jika tak kenal maka tak sayang… bertanyalah/berdiskusi pd org yg tepat yg mengerti benar permasalahan ini. jangan sembarangan orang. insya alah anda akan mendapat hidayah. dan cobalah buang pemahaman dr perspektif agama anda. nanti bapak akan melihat sebenarnya islam itu indah. semua itu hanya godaan semata pd orang2 yg mengaku nabi dan pengikutny.

  • Amakajus

    Kalaupun Ahmadiyah boleh berkembang d Indonesia dengan syarat, yaitu jangan mengatas namakan Islam, karena Ahmadiyah telah keluar dari Islam. Sebut saja dengan agama Ahmadiyah

  • Sebenarnya klo kita mau jujur sebagai umat islam, ahmadiyah ini memang sudah keluar dari syariat ISLAM,sudah keluar juga dri tuntunan sang baginda rosul muhammad,bahkan lebih parah hukum Alloh SWT yg terdapat pada Al-Quran.
    nah kembali kpd penyelesaian ahmadiyah oleh pemerintah,kita umat islam tidak akan bisa bertindak selama negara indonesia ini bukan negara berdasarkan islam,hanya negara yg didirikan berdsarkan islam aj yg bisa memboikot ato bahkan membubarkan aliran2 sesat dalam agama islam,contoh : ya pakistan.
    dan klo mau jujur ahmadiyah uda kegabung sama politik nya pemerintahan indonesia,ada mutual symbiosis antara pemerintahan dan ahmadiyah,saya sangat yakin dalam hal ini,coba liat tragedi yg sudah terjadi dan gmn penyelesaian’nya,semua jalan yg diambil pemerintah pasti mencla-mencle.
    akhir kata penyelesaian nya cuma 2 : ikutin cara yg sama seperti di pakistan atau bubarkan ahmadiyah. sy memilih cara membubarkan,krn selama ahmadiyah masih ada kemungkinan besar korban,atau tragedi berikutnya pasti akan ada.

  • Moga-moga tetap aman dan damai

Lihat Juga

Aher: Jika Ahmadiyah Terbukti Melanggar Kesepakatan, Lapor Saja ke Pihak Berwenang