Home / Berita / Internasional / Asia / Ketika Bahasa Jadi Dilema Muslim Rusia

Ketika Bahasa Jadi Dilema Muslim Rusia

Ilustrasi - Sebuah masjid di Rusia bagian Selatan (AP Photo)

dakwatuna.com – Kiev. Geliat islam di Rusia tampaknya terganjal dengan kendala bahasa. Pasalnya, tidak semua warga muslim Rusia menggunakan bahasa Rusia. Komunitas muslim Rusia terdiri dari berbagai etnis, seperti Turki, asli Rusia dan yang terbesar adalah Tatar

Karena itu, ancaman perpecahan warisan Uni Soviet bakal menjadi tantangan komunitas muslim negeri beruang merah. “Muslim Rusia menghadapi pertanyaan apakah keberadaan masjid harus diatur berdasarkan garis etnis-lingusitik seperti yang diberlakukan di Eropa Barat dalam membantu komunitas budaya tertentu demi bertahan, atau meniadakan persoalan etnis,” demikian pendapat Pakar Etnis dan Agama, Paul Globe, dalam blognya seperti yang dikutip harian Kyiv Post, awal pekan ini.

“Banyak yang mengatakan muslim membutuhkan itu. Atau pilihannya harus meningkatkan peranan bahasa Rusia di dalamnya,” imbuh Paul. Globe menuturkan forum Kazan yang berlangsung minggu ini–dalam agenda bertajuk “Pentingnya Nilai Religius dalam Usaha Mempertahankan Identitas Nasional”–menyimpulkan bahwa kontribusi muslim Rusia sangat penting demi mempertahankan keberadaan etnis tertentu di Rusia.

Ildus Faizov, wakil mufti Tatarstan, papar Paul, menyerukan memegang teguh tradisi sekolah muslim berbasis Mahzab Hanafi. Menurut Ildus, komunitas muslim Rusia dapat mempertahankan agama mereka dan warna nasional mereka di dalamnya.

Sementara itu, pembicara kedua dari wakil mufti Tatarstan, Valiula Yakupov, mengatakan dirinya merupakan nasionalis yang positif dan mengharapkan komunitas muslim Rusia membangun masjid yang berdasarkan etnis tertentu. Dengan begitu, kutip Globe, akan memberikan kenyamanan terhadap jamaah yang menghadiri masjid dengan bahasa asal mereka.

Pendapat Yakupov, nilai Globe, lebih ditujukan pada upaya mempertahankan keberadaan bahasa Tatar dan tidak menjadikan kelahiran persatuan sebagai tujuan utama.

Pernyataan dua wakil mufti Tatar mengindikasikan persoalan warisan Uni SOviet yang belum juga terselesaikan. Perlu diketahui, kebanyakan bangunan masjid di wilayah Kaukasus utara–wilayah dengan jumlah muslim terbesar di Rusia–merupakan bagian dari komunitas budaya Tartar.

Budaya Tatar adalah kaum minoritas di Rusia. Sebelumnya, kawasan itu merupakan wilayah taklukan bangsa Mongol yang akhirnya dikuasai Kekaisaran Rusia.

Dalam perkembangannya, banyak masjid di Moskow dan wilayah lain mulai menggunakan bahasa Rusia. Langkah itu dilakukan masjid guna menarik komunitas muslim Rusia diluar bahasa Tatar.

Penggunaan Bahasa Rusia juga diharapkan mengurangi dominasi peran bahasa Tatar dalam masjid. Menanggapi hal itu, pejabat Rusia nampaknya lebih mendukung penggunaan bahasa Rusia sebagai bagian dari integrasi wilayah Rusia di Kaukasus.

Meski demikian, pemerintah Rusia mempersilahkan penggunaan bahasa Tatar atau bahasa lain dengan alasan menghargai komunitas Islam Rusia sebagai bagian intergral dari Federasi Rusia.

“Bagi mereka yang menentang penggunaan bahasa Rusia dengan tujuan penguatan identitas Tartar sekaligus Islam sebagai sebuah identitas, mau tak mau tren ini menjadikan Tartar sebagai etnis kedua terbesar di Rusia yang memainkan peranan penting dalam perkembangan komunitas muslim,” tulis Paul. (Ajeng Ritzki Pitakasari/Agung Sasongko/RoL)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 8,83 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com

Lihat Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (aa.com.tr)

Temui Putin di Rusia, Erdogan: Kami Membuka Lembaran Baru