05:30 - Sabtu, 02 Agustus 2014
Dr. Setiawan Budi Utomo

Bisnis Forex dan Spekulasi Valas dalam Hukum Islam (Bagian ke-2)

Rubrik: Ekonomi | Oleh: Dr. Setiawan Budi Utomo - 18/02/10 | 08:00 | 03 Rabbi al-Awwal 1431 H

dakwatuna.com – Ketentuan umum tentang seputar kegiatan transaksi jual-beli valuta asing sebagaimana yang saudari tanyakan, berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 28/DSN-MUI/III/2002 tentang Sharf, transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan)

b. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan)

c. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).

d. Apabila berlainan jenis maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.

Hal itu, disamping atas dasar kesepakatan (ijma’) para ulama bahwa akad al-sharf disyari’at-kan dengan syarat-syarat tertentu, ketentuan tersebut juga merujuk kepada dalil-dalil diantaranya sebagai berikut:

1. Firman Allah, QS. al-Baqarah [2]: 275: “…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba….”,

2. Hadits Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dari Abu Sa’id al-Khudri: Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan atas dasar kerelaan (antara kedua belah pihak)” (HR. al-Baihaqi dan Ibnu Majah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban),

3. Hadits Nabi riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi SAW bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.

4. Hadits Nabi riwayat Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad, dari Umar bin Khatthab, Nabi SAW bersabda: “(Jual beli) emas dengan perak adalah riba kecuali (dilakukan) secara tunai.” Hadits Nabi riwayat Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri, Nabi SAW bersabda: “Janganlah kamu menjual emas dengan emas kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; janganlah menjual perak dengan perak kecuali sama (nilainya) dan janganlah menambahkan sebagian atas sebagian yang lain; dan janganlah menjual emas dan perak tersebut yang tidak tunai dengan yang tunai.” Hadits Nabi riwayat Muslim dari Bara’ bin ‘Azib dan Zaid bin Arqam: “Rasulullah saw melarang menjual perak dengan emas secara piutang (tidak tunai).”

Adapun ketentuan mengenai hukum Jenis-jenis Transaksi Valuta Asing, dijelaskan dalam fatwa tersebut sebagai berikut:

a. Transaksi Spot, yaitu transaksi pembelian dan pen-jualan valuta asing (valas) untuk penyerahan pada saat itu (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu dua hari. Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari (ِمَّما لاَ ُبَّد مِنْهُ) dan merupakan transaksi internasional.

b. Transaksi Forward, yaitu transaksi pembelian dan penjualan valas yang nilainya ditetapkan pada saat sekarang dan diberlakukan untuk waktu yang akan datang, antara 2 x 24 jam sampai dengan satu tahun. Hukumnya adalah haram, karena harga yang digunakan adalah harga yang diperjanjikan (muwa’adah) dan penyerahannya dilakukan di kemudian hari, padahal harga pada waktu penyerahan tersebut belum tentu sama dengan nilai yang disepakati, kecuali dilakukan dalam bentuk forward agreement untuk kebutuhan yang tidak dapat dihindari (lil hajah).

c. Transaksi Swap, yaitu suatu kontrak pembelian atau penjualan valas dengan harga spot yang dikombinasikan dengan pembelian antara penjualan valas yang sama dengan harga forward. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

d. Transaksi Option, yaitu kontrak untuk memperoleh hak dalam rangka membeli atau hak untuk menjual yang tidak harus dilakukan atas sejumlah unit valuta asing pada harga dan jangka waktu atau tanggal akhir tertentu. Hukumnya haram, karena mengandung unsur maisir (spekulasi).

Adapun sisa uang dinas dan hasil usaha yang menjadi hak Saudari adalah halal selama sumber, prosedur, alokasi dan anggarannya benar, halal dan jelas sebab mungkin Saudari telah melakukan penghematan selama dinas dan menjadi hak saudari untuk memiliki dari surplus tersebut untuk disimpan sebagai investasi maupun jaga-jaga (saving). Dalam hal ini kapan pun uang yang dalam bentuk valas (mata uang asing) tersebut ditukarkan baik karena kebutuhan atau karena nilai tukarnya tinggi adalah tidak menjadi masalah sekalipun memperoleh gain (keuntungan) dari spread penukarannya dibandingkan nilai perolehannya dahulu, seperti seseorang yang memiliki emas tidak ada ketentuan syariah yang mengharuskan kapan menjual atau tetap menyimpannya. Sebab saudari tidak berspekulasi di sini melainkan menyesuaikan harga pasar yang pas dengan aset yang saudari miliki dan hak individu atas hartanya dilindungi dalam Islam sesuai kaidah syariah hifdzul maal dan tidak boleh dirugikan oleh siapa pun (la dharara wa laa dhirar).

Secara makro ekonomi dan kemaslahatan umum (maslahah ‘amah) dengan bertambahnya cadangan dan pemasukan devisa di Tanah Air, melepaskan devisa yang tersimpan tanpa menunggu tingginya nilai kurs Dolar atau valas lainnya akibat sentimen pasar akan lebih baik mengalihkannya pada simpanan ataupun investasi di berbagai instrumen investasi yang sesuai syariah seperti emas, dan surat berharga syariah ataupun dimanfaatkan sebagai modal investasi di sektor riil yang akan mendongkrak penguatan nilai rupiah yang berdampak sedikit ataupun banyak pada perbaikan kondisi nilai tukar rupiah serta turut menjaga dan mendukung perekonomian nasional. Selain itu juga dalam kondisi normal untuk berjaga-jaga dapat tetap ditempatkan dalam simpanan dollar ataupun dirupiahkan pada perbankan syariah, atau menempatkannya pada portofolio investasi syariah lainnya dalam mata valuta asing, atau menukarkannya kepada mata uang rupiah untuk investasi di dalam negeri baik langsung maupun tidak langsung dalam rangka menumbuhkembangkan sektor riil dan yakinlah bahwa rezki Allah dan berkahnya sudah ditentukan dan tidak bergantung kepada kurs mata uang dolar.

Wallahu A’lam, wa billahit Taufiq wal Hidayah.

– Tamat

Dr. Setiawan Budi Utomo

Tentang Dr. Setiawan Budi Utomo

Penulis adalah Alumnus terbaik Fakultas Syariah Madinah Islamic University, Arab Saudi. Saat ini aktif sebagai Anggota Dewan Syariah Nasional dan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Syuro Ikatan Dai… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (19 orang menilai, rata-rata: 8,63 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • mulhan

    ini yg saya cari2……kembangkan terus situs yg berbau seperti ini…….

  • Ibnu

    Sy ingin tanya Udztad

    klo sy beli emas dgn niat ingin dijual lg taun depan (sementara sy g tau nih, hrg emas akn naek apa turun), itu termasuk spekulasi g?
    begitu jg dgn keinginan beli tanah, dgn niat hrg tanahnya naik beberapa taun kedepan, itu termasuk spekulasi g?

    Terima kasih Udztad

  • rini

    ass.wr.wb.sy mau bertanya pak ustad,ada tetangga sy yg ngajak bisnis emas.modalnya dari saya,dan dia yg menjual secara utang selama 5 kali bayar, dan saya juga mendapat keuntungan.gimana tanggapan ustad mengenai hal ini??dia ngajak sy bisnis tsb sudah 3bln yg lalu, tp sampai hari ini sy masih ragu dan belum mau diajak bisnis tsb.apakah hukum dari adat jual beli tersebut???trimakasih

  • yusti

    Ass. Wr.Wb
    P’Ustadz , saya ingin bertanya : Bila kita memiliki kelebihan uang dan kita konversi uang tersebut ke mata uang lain (dollar, yen, dinar dll) dan kita simpan selama beberapa lama (bulan bahkan beberapa tahun) sebagai investasi dan kita tukarkan uang tersebut ketika nilainya lebih tinggi, apakah diperbolehkan?Apa yang dimaksud dengan “tidak boleh spekulasi /untung2xan” seperti fatwa Dewan Syariah diatas?(bisa diberikan contoh konkritnya dalam jual beli mata uang)
    Terimakasih atas petunjuknya.

    Wassalam.

  • yoes

    Ass. Wr. Wb
    P’Ustadz, bila kita memiliki kelebihan uang dan uang itu saya konversi ke mata uang asing (dollar, yen, dinar dll), lalu saya simpan beberapa lama (bulan bahkan tahun) sebagai investasi dan saya tukar kembali ke dalam rupiah saat nilai tukarnya tinggi boleh atau tidak ? Apa yang dimaksud dengan “Tidak boleh spekulasi/untung2x” seperti fatwa DSN diatas?(mohon diberikan contoh kongkritnya dalam jual beli mata uang seperti apa yang disebut spekulasi itu)
    Terimakasih atas petunjuknya.

  • Mios_drg_01

    forex online apa hukumnya ustad?

  • http://www.facebook.com/ruyjelek Ruli Masih Tetap Tercinta

    Perlu ditambahkan pendapat Muhammad Isa, bahwa jual beli saham itu diperbolehkan dalam agama.

    “Jangan kamu membeli ikan dalam air, karena sesungguhnya jual beli yang demikian itu mengandung penipuan”.

    (Hadis Ahmad bin Hambal dan Al Baihaqi dari Ibnu Mas’ud)

    Jual
    beli barang yang tidak di tempat transaksi diperbolehkan dengan syarat
    harus diterangkan sifatsifatnya atau ciri-cirinya. Kemudian jika barang
    sesuai dengan keterangan penjual, maka sahlah jual belinya. Tetapi jika
    tidak sesuai maka pembeli mempunyai hak khiyar, artinya boleh meneruskan
    atau membatalkan jual belinya. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat
    Al Daraquthni dari Abu Hurairah:

    “Barang siapa yang membeli sesuatu yang ia tidak melihatnya, maka ia berhak khiyar jika ia telah melihatnya”.

    Jual
    beli hasil tanam yang masih terpendam, seperti ketela, kentang, bawang
    dan sebagainya juga diperbolehkan, asal diberi contohnya, karena akan
    mengalami kesulitan atau kerugian jika harus mengeluarkan semua hasil
    tanaman yang terpendam untuk dijual. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum
    Islam:

    “Kesulitan itu menarik kemudahan.”
    Demikian
    juga jual beli barang-barang yang telah terbungkus/tertutup, seperti
    makanan kalengan, LPG, dan sebagainya, asalkam diberi label yang
    menerangkan isinya. Vide Sabiq, op. cit. hal. 135. Mengenai teks kaidah
    hukum Islam tersebut di atas, vide Al Suyuthi, Al Ashbah wa al Nadzair,
    Mesir, Mustafa Muhammad, 1936 hal. 55

  • Ruli

    Dan tolong dijelaskan tulisan dari sini, saya bukan pelaku, hanya memberi pendapat saja: http://www.islamforex.blogspot.com/

  • http://www.facebook.com/ruyjelek Ruli Masih Tetap Tercinta

    Empat jenis transaksi valas yang sering dilakukan di Indonesia adalah
    transaksi spot, forward, swap dan option. Tiga yang terakhir diharamkan
    oleh MUI.

    Sehingga yang diperbolehkan oleh MUI adalah perdagangan valas di pasar spot saja.

    Transksi spot tidak masuk kategori haram karena merupakan transaksi
    pembelian dan penjualan valuta asing untuk penyerahan pada saat itu
    (over the counter) atau penyelesaiannya paling lambat dalam jangka waktu
    dua hari.

    “Hukumnya adalah boleh, karena dianggap tunai, sedangkan waktu dua hari
    dianggap sebagai proses penyelesaian yang tidak bisa dihindari dan
    merupakan transaksi internasional,” ujarnya.

    Sedangkan ketiga transaksi lainnya mengandung unsur spekulasi harga sehingga diharamkan oleh MUI.

    Pada dasarnya, ada beberapa hal dalam transaksi valas yang diperbolehkan.

    Hal-hal tersebut antara lain tidak untuk spekulasi (untung-untungan),
    ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan), apabila
    transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama
    dan secara tunai (at-taqabudh) dan apabila berlainan jenis maka harus
    dilakukan dengan nilai tukar yang berlaku pada saat transaksi dan secara
    tunai.

    • http://www.facebook.com/ruyjelek Ruli Masih Tetap Tercinta

      Wallahu’alam bissawab. Namun apabila anda RAGU-RAGU, TINGGALKAN!
      saya hanya tidak suka, seorang yang tidak pada kapasitasnya berbicara sehingga menyatakan hal ini, dan hal itu menurut pendapat dia sendiri.
      Fatwa MUI Malaysia mengharamkan forex, namun MUI Indonesia menghalalkan 1 cara dalam transaksi forex. Semua tergantung pelakunya, dan kembali pada dirinya masing-masing. Kalau memang ragu, tinggalkan, kalau memang itu bisa, dan jelas hukumnya. lakukan.
      Semua kembali pada pribadi masing-masing, karena tanggungannya semua kembali pada diri sendiri masing-masing. Wallahualam….

Iklan negatif? Laporkan!
81 queries in 1,588 seconds.