dakwatuna.com – Temanku berkisah bahwa dia pernah pergi ke ibu kota San’a dengan ditemani anaknya yang masih kecil. Di tengah perjalanan dengan bekendaraan pribadi dia berhenti di pinggir jalan. Dia ingin belanja di pasar, dan tinggallah anaknya di mobil.
Tiba-tiba datanglah polantas (polisi lalu lintas) yang memberitahu anak tersebut bahwa ayahnya telah melanggar peraturan jalan raya karena parkir di tempat yang dilarangan berhenti/parkir. Bertanyalah anak itu kepada polisi:
“Apakah bapak sudah solat subuh berjama’ah?”
Terperanjatlah bapak polisi mendengar pertanyaan yang mengagetkan itu Menjawablah polisi dengan malu-malu:
“Tidak, saya tidak solat subuh berjama’ah.”
Anak itu menimpalinya, ”Kalau begitu bapak yang melanggar, bukan ayah saya.”
Maka polisi sadar, dan membertahukan akan bertaubat ketika itu pula, maka anak kecil ini telah menjadi sebab turunnya hidayah dan istiqamah. [sumber: Athfal Lakin Du'ah]
mari mengasah generasi yang berani berkata yang benar dan baik seperti anak itu
jazakallah telah mengingatkan ane tuk senantiasa istiqamah salat subuh berjamaah
subhanallh…..anak kecil sangat cerdas… kepada orang tua marikita semaua berjamaah shalat subuh……
keberanian atau kepolosan……
yang penting ia cukup untuk dicontoh….
Afwan Si anak benar . . .dan kalau bnyk yg begitu subhanallah indah nian. Tapi ayah anak pun salah karna sudah melanggar tata tertib lalulintas . . . Karna kita hidup d negara hukum. Maka patuhilah aturan slama aturan itu tdk btentangan dengan agama . . .
Subhanallah . . . Kalau da anak sperti itu pada tobat x ya. Afwan . . . Tp harus d ingat dalam cerita ayah melangar jd si ayah tetap salah walau si anak mengingatkan polisi benar tentang shalat.kita hidup d negara hukup,sepatutnya qita patuh pada hukum slama tidak melanggar kaidah2