dakwatuna.com – Suatu hari, Rasulullah menyampaikan berita kepada sahabat tentang adanya malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, berkeliling di muka bumi, untuk mencari orang yang selalu berdzikir, mencari majelis-majelis yang berdzikir. Jika malaikat itu menemukan apa yang dicari, maka dia akan berseru kepada malaikat lainnya, “Kemarilah, inilah hajat kalian!”
Lalu para malaikat itu mengelilingi kaum yang sedang berdzikir tersebut, ikut duduk bersama mereka, dengan membentangkan sayap-sayap mereka sampai ke atas langit dunia. Jika orang-orang yang berdzikir tadi selesai melakukan dzikirnya, para malaikat naik ke langit. Pada saat itu Rabb bertanya kepada malaikat – dan Dia Lebih Mengetahui – :
“Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?”
“Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir, bertahmid, dan mengagungkan-Mu” jawab para malaikat.
“Apakah mereka melihat-Ku?” Allah SWT bertanya lagi.
Malaikat: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu!”
Allah SWT: “Apa yang mereka minta?”
Malaikat: “Mereka meminta Surga kepada-Mu.”
Allah SWT: “Apakah mereka pernah melihatnya?”
Malaikat: “Tidak wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya!”
Allah SWT: “Lantas bagaimana jika mereka melihatnya?”
Malaikat: “Andaikan mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih sangat mendambakannya, lebih sangat menginginkannya, dan lebih senang kepadanya!”
Allah SWT: “Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?”
Malaikat: “Mereka meminta perlindungan dari Neraka.”
Allah SWT: “Apakah mereka pernah melihatnya?”
Malaikat: “Tidak, demi Allah, mereka belum pernah melihatnya.”
Allah SWT: “Bagaimana seandainya mereka melihatnya?”
Malaikat: “Seandainya mereka pernah melihatnya, tentu mereka lebih menjauh daripadanya dan lebih takut daripadanya.”
Lalu Allah SWT berfirman, “Saksikanlah oleh kalian bahwa Aku telah mengampuni untuk mereka.”
Salah satu dari malaikat pun berkata, “Wahai Rabb, di tengah-tengah mereka ada seseorang yang bukan dari golongan mereka. Orang itu datang untuk suatu kepentingan (bukan untuk berdzikir)!”
Allah SWT menanggapinya, “Mereka itu adalah kelompok orang yang tidak akan celaka, siapa pun yang ikut duduk dengan mereka!” []
___
Maraji’: Hadits Riwayat Bukhari – Muslim. Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah.
(hudzaifah/hdn)
Pesan yang diambil dari hadis Rasul SAW sungguh berkesan. Akan lebih mempesona andai penulis yang budiman memberikan tambahan uraian yang berisi pelajaran emas yang bisa ditelorkan darinya dengan menggunakan konteks kehidupan saat ini sebagai latarnya.Satu orang yang yang hatinya tidak nyambung dengan aktifitas zikr yang dilakukannya (ada kepentingan lain yang bukan total karena Allah) dan sempat dikritisi oleh Malaikat, layak menjadi fokus kaji lebih lanjut agar tidak bias
lengkap banget
kenapa Allah bertanya kepada Malaikat, sedang Allah maha mengetahui?
Segala Puji Hanya Bagi ALLAH, Tuhan Semesta Alam…..ALLAH HU AKBAR 3x
Apakah Rasulullah melakukannya bersama para sahabat agar jadi contoh agar diikuti umat sampai hari kiamat. hati2 yg mengurusi ekonomi jadinya orang lain.
Inilah pentingnya liqo (majelis dzikir). Ayo semangat!!!
Allahuakbar,,,mari jadi yang terbaik dari hari kemarin,,,,,
ass, ingin rasanya menggapai surga tapi pantas apa tidak manusia seperti sekarang ini melihat surga…ALLAHUAKBAR…
Apakah yang dimaksud dengan Majelis dzikir itu yaitu dengan benar2 melafazdkannya dan mensyirkannya tasbih. takhmid, istighfar dll..dengan cara berkumpul bersama2 ? atau yang dimaksud dengan mengkaji isi alquran (majelis Ilmu) merupakan bagian dari dzikir juga ?
Mohon penjelasannya..?
Wassalam,
Asslamulaikum… saudaraku sy minta tulisan arabnya dong… dr setiap hadits yg disampaikannya.. karena agar lebih bisa memahami nya bagi kami… jazakumullah..