Home / Narasi Islam / Dakwah / Pengangguran Haraki

Pengangguran Haraki

Dakwatuna.comSyeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.”

Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh

Di antara penyakit tersebut dan utamanya adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan), at-taqa’us ‘an ada’ al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham ad-da’awiyah (tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).

Semua tadi merupakan gejala satu penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.

Berdasarkan pengalaman dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:

  • Menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik.
  • Ada masalah pada unsur-unsur pemahaman
  • Tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah
  • Merespon berbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu
  • Melupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai darinya
  • Putus asa, frustasi dan memprediksi keburukan
  • Mengambang dan target yang tidak jelas
  • Tidak interaktif dengan proses tarbawi
  • Menghilangnya akhlaq yang menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah dan lainnya.
  • Melemahnya rasa tanggung jawab
  • Merasa panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh
  • Menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal
  • Rancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada posisi prioritas paling akhir
  • Berkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta rusaknya komitmen
  • Buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah fi sabilillah
  • Hilangnya citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan dakwah
  • Kehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.
  • Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnya
  • Melemahnya immunitas fikriyah, imaniyah dan tarbawiyah

Semua faktor, sebab ini mendorong seseorang untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan membikin-bikin alas an untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa depan yang luas

Jika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan banyak kebisingan.”

Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh, jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya, tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan kesungguhan.”

Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai. Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang terpulang kepada pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk, melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!”

Begitu juga dengan kita, tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton, sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan “siapa yang meminang wanita cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.” Dan sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Banna rahimahullah:

“Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu dipikirkan, memberi perhatian besar, selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut, paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan setiap gerakan adalah jihad.

Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah, perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilan

Adapun mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”

Umat yang berpandangan bahwa perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna, ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak mengenal keseriusan sama sekali.

Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan, sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan segudang pengorbanan. Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan kecuali jika ia telah membayar. Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai bentuk kebancian tekad. Beliau berkata:

“Wahai seseorang yang bertekad banci, di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal tidak berguna dan main-main??!!” (Terjemahan Artikel Jamal Zawari Ahmad, Sumber: http://www.islameiat.com/main/?c=54&a=3954)

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (61 votes, average: 9,48 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Musyafa Ahmad Rahim, Lc., MA
Bapak kelahiran Demak. Memiliki hobi yang sangat menarik, yaitu seputar Islamic dan Arabic Program. Saat ini bekerja sebagai dosen. Memiliki pengalaman di beberapa organisasi, antara lain di Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU).
  • AJ

    LUAR BIASA, RASANYA SEPERTI MENDENGAR LANGSUNG TAUSIAH DARI USTADZ. JAZAKALLAH

  • Betul Ustadz, setiap orang pasti punya potensi,
    dan setiap potensi bisa diarahkan untuk memberikan
    kontribusi bagi agama ini, meneruskan perjuangan Nabi…

  • Ahmad

    Jazakumullahu khoiro yaa Ustazh atas taujihnya. semoga kita kokoh dalam barisan pewaris para nabi, penyelamat Bahtera Ummat dari tenggelam dalam kesesatan. dan semoga kita bersabar atas segala ujian. dan sesungguhnya ujian dalam dakwah adalah sunnatullah bagi para pewaris Risalah ini. Amiin

  • Defny Holidin

    Masya Allah, nasihat yang luar biasa.
    Sekadar menambahkan daftar penyakit yang sudah disebutkan, yakni menganggap musuh sudah tidak ada, sebagaimana mengada-adakan tantangan dakwah secara berlebihan sehingga menumpulkan semangat juang. Moga Allah melindungi kita dari kebangkrutan ini. Amin.

    Jazakumullah khairan katsiran,

  • astaghfirullah, bantu aku ya Allah T_T

  • Semoga kita bukan termasuk golongaan pengangguran yang menjadi manusia rugi dunia akherat,Insya Alloh Alloh menciptakan manusia bukan untuk menjadi pengganggur bila mau bergerak Insya Alloh Alloh akan membantu kita apa lagi gerak kita dalam rangka berjihad menegakkan agama Alloh pasti dan pasti Alloh akan membantu kita ,sayang umat Islam sudah banyak yang tidak yakin akan hal ini karena tergiur oleh gemerlapnya dunia.Semoga Alloh SWT selalu memberi ekuatan kepada lkita Amien.

  • taushiyah yg menggelora, seperti gelora ustadz-nya, murid murid madrasah Albana, pengikut para nabi & salafus saleh, semoga Allah senatiasa memberi tempat bagi kita di jalan-Nya

  • Ginan

    Salam,
    Terima kasih

    mau izin bwt copas

    Wa Sallam

  • Ginan

    Subhanallah,

  • abu yasin

    الحمد لله بز بد تي ايما تا

  • Alhamdulillah, saya Tersentuh dengan tausyiah ini, saya harus semangat lagi untuk memperbaiki diri, saya harus sadar kembali untuk menempuh jalan ini. Jazakallah ustadz

  • Hamba Allah

    ALLAHU AKBAR!!!

  • sebangun

    Ya Allah…. Hancur hati ini. Terjelembab diantara deru nafas duniawi.
    Syukron Ustadz atas nasihatnya.

  • basit s

    Syukron atas tausiyahnya tadz. Jadi kangen dengan nasihat dan sentuhan2 rohani ustadz saat di kuliah dulu di Kampus Jurangmangu.. Sukses dunia akhirat buat kita semua tadz.. Doakan semoga kami tetap istiqomah dlm jalan da’wah ini.. Aloohu akbar..

  • Hasnul Ikhwan

    JazakAllah Ustadz….
    ruh pergerakan dari dalam hati semakin kuat. saat nya beramal, insyaAllah….

  • Farha

    Subhanallah… Jazakumullah

  • Abinya Yahya

    Ustad ……..
    Ternyata itu adalah ………………………… diriku

  • singgih

    Semoga Bisa istiqomah………..Ya Allah……..

  • Ojodumeh

    alhamdulillah barokalloh

Lihat Juga

Kajian Core Competence Dakwah Kampus