Home / Berita / TV Hanya Tampilkan Gaya Hidup Kelas Atas

TV Hanya Tampilkan Gaya Hidup Kelas Atas

dakwatuna.com – Jakarta. Televisi lokal Jakarta tidak memenuhi kebutuhan masyarakat lokal, sebaliknya dipandang asing oleh bagian terbesar masyarakat karena hanya menampilkan gaya hidup kelas atas dan keglamoran, kata anggota Tim Panel Pemantau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan pengamat media, Nina Mutmainah Armando, dalam media gathering di Jakarta, Kamis.

“Padahal kan masyarakat Jakarta sangat majemuk, dan sebagian besar tidak berada di strata atas kehidupan sosial masyarakat. Lalu dimana muatan budaya lokalnya kalau begitu?” kata dosen Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Indonesia itu.

Pekerja TV seharusnya menyadari bahwa khalayak itu heterogen baik secara geodemografis maupun sosiopsikologis. Jadi tidak bisa tayangan TV dipukul rata.

Nina menengarai TV telah menjejali tayangan televisi tanpa budaya lokal sehingga akhirnya selera masyarakat dibentuk oleh stasiun TV pusat yang menyajikan tayangan tersebut.

“Orang-orang di balik layar TV lokal harus lebih bekerja keras untuk melakukan riset dan kreatif untuk mengemas sebuah program acara TV lokal untuk menarik penonton,” papar Nina.

Nina berpendapat tidak semua budaya yang ditampilkan televisi dibutuhkan oleh masyarakat, seperti tayangan Srimulat yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat Manado. Selain itu, belum dibentuknya KPI daerah (KPID) untuk wilayah DKI Jakarta karena masih di bawah naungan KPI pusat mengakibatkan kurangnya pengawasan KPI terhadap TV lokal Jakarta.

“Pernah salah satu TV lokal menampilkan adegan yang tidak patut disaksikan oleh anak-anak pada jam prime-time, yaitu pukul 19.30 WIB. Itu kan berbahaya”, katanya.

Saat ini, hampir seluruh daerah Indonesia memiliki setidaknya satu stasiun TV lokal. Untuk daerah Jawa misalnya, Jawa Barat merupakan daerah dengan TV lokal terbanyak yaitu 16 stasiun, Jawa Timur 15 stasiun, Jawa Tengah 10 stasiun, Yogyakarta 4 stasiun. Sementara Jakarta sebagai ibukota negara memiliki enam TV lokal.

Nina mengutarakan, tayangan TV harus ramah terhadap keluarga Indonesia dengan menampilkan keberagaman, memperbanyak unsur pendidikan dan informasi walaupun dikemas dalam bentuk hiburan, dan bertanggungjawab terhadap masyarakat karena berada di ranah publik.

“Juga tidak mengandung kekerasan atau melanggar norma kesopanan dan kesantunan, sehingga tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban televisi”, tandas aktivis Yayasan Pengembangan Media Anak ini. (ant)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 8,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Iben

    Saya secara pribadi turut PRIHATIN yang sangat dalam, denan semakin banyaknya tayangan acara di TV yang menurut saya SAMA SEKALI TIDAK LAYAK DITONTON karena tidak memberikan contoh baik dan tidak ada unsur mendidik buat masyarakat kita, bahkan cenderung MENYESATKAN dan akan berdampak perusakan pada generasi penerus karena cenderung mencontoh tayangan tersebut
    Semoga pemerintah tanggap dan bisa memperbaiki sistem tersebut.
    DAKWATUNA: Adakah artikel mengenai dampak buruk UANG dari sisi syariat

  • Gitulah acara TV saat ini ,sayangnya kita umat Islam belum mempunyai stasiun TV sendiri bila sudah punya maka ada alternatif lain untuk melihatnya.Mari suarakan agar umat Islam ada yang berjihad lewat TV dengan membuat stasiun TV sendidri yang sesuai dengan ajaran Islam Semoga Alloh SWT mengabulkannya Amien.

  • wawan

    Saran saya : Di cabut saja ijin siaran TV yang masih menyiarkan siaran yang tidak bermutu…

Lihat Juga

Tweet stasiun televisi Iran, Alalam. (twitter)

Televisi Iran Pastikan Pemimpin Syiah Hutsi Yaman Tewas