11:21 - Kamis, 21 Agustus 2014

Bekal Pejuang Sejati

Rubrik: Fiqih Dakwah | Oleh: dakwatuna.com - 25/10/08 | 21:39 | 24 Shawwal 1429 H

dakwatuna.com – Ada sebagian orang yang berputus harapan dalam perjuangan dakwah Islam, karena fenomena ketidakmampuan umat Islam dalam hal kekuatan material, seraya mengatakan: “Bangsa-bangsa Timur tidak akan mampu bangkit dan berpacu dengan bangsa-bangsa Barat, karena mereka tidak memiliki kekuatan fisik yang memadai untuk perjuangan mereka, seperti dana, sarana tempur, prasarana dakwah dan sebaginya. Lain halnya dengan Barat yang memiliki sejumlah kekuatan fisik dengan perkembangan teknologi yang begitu sangat canggih”.

Peryataan itu bisa benar tapi yang jelas banyak salahnya. Namun kita tidak dapat menyalahkan asumsi seperti itu, karenan mereka telah melupakan satu hal yang amat penting, bahwa ada kekuatan yang terpenting dalam perjuangan dakwah Islam, yaitu kekuatan spiritual; akhlak luhur, jiwa mulia, kebenaran akidah dan ideologi, pengetahuan tinggi, tekad sekuat baja, semangat pengorbanan, kesatuan fikrah -pemikiran-, kesetiaan rasional dan loyalitas yang proporsional, semuanya modal utama dalam perjuangan.

Seyogianya orang-orang Timur menyadari, bahwa sesungguhnya Barat telah merampas haknya dan menghancurkan hidupnya. “Jika mereka menyadari akan haknya tersebut, kemudian berusaha merubah diri sendiri, membangun kekuatan spiritual yang dahsyat dan membina keluhuran budi pekerti, niscaya sarana-sarana kekuatan fisik itu dengan sendirinya akan datang kepada mereka dari berbagai arah. Sungguh terlalu banyak lembaran sejarah yang membuktikan akan hal itu.”

Para pejuang dan aktifs dakwah sejati meyakini ini sepenuhnya. Keyakinan itulah yang mendorong mereka untuk terus mensucikan hati, menguatkan jiwa dan meluhurkan budi pekerti. Keyakinan itu pulalah yang mendorong mereka untuk terus berjuang menyebarkan dakwah, memahamkan umat manusia akan hakikat misi dan ideologi yang mereka seru, kemudian menyeru umat untuk turut membersihkan jiwa dan meluruskan kehidupan mereka. Keyakinan ini bukan suatu yang dibuat-buat mereka sendiri, tetapi merupakan taujih Ilahi dalam Alquran:

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu merubah keadaan yang ada dalam diri mereka sendiri.” Ar-Ra’d: 11 .

Bekal Aktivis Dakwah

Memang benar, sungguh luhur dan besar bekal dan kekuatan yang harus dimiliki para pejuang, aktivis dakwah ilallah; karena masalah-masalah yang dihadapinya pun demikian membutuhkan kekuatan spiritual -utamanya- dan kekuatan fisik.

Taklid buta, kerusakan hukum, penyimpangan kehidupan sosial, sikap-sikap hedonis yang telah akrab dengan masyarakat, merajalelanya isme-isme dan pemikiran destruktif yang begitu kuat mencengkram negeri ini, amburadulnya pendidikan, hubungan silaturahmi yang kacau; adalah sebagian dari sekian permasalahan yang dihadapi dakwah.

Akankah masalah-masalah kompleks tersebut dapat terselesaikan?

Mungkinkah?

Jika kita telah meyakini, bahwa masalah tersebut akan terselesaikan dan sangat mungkin, namun bilakah akan selesai?

Ya akhi, jalan ini amatlah panjang… sungguh panjang…

Para pakar ilmu sosial menyatakan, “Bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari.”

Siapa yang menyangka sebelumnya kalau para ilmuwan akan sampai pada penemuan penemuan dahsyat seperti yang kita saksikan sekarang. Bahkan para ilmuwan itu sebelumnya tidak percaya, tetapi ketika hal itu terjadi mereka semakin yakin terhadap pernyataan dalam perspektif filsafat sosial itu.

Dalam perspektif sejarah, kebangunan semua bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan; sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan uyang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan dan ketenangan dalam melangkah, telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.

Siapa yang bisa percaya sebelumnya, bahwa di tengah gurun pasir Jazirah Arab yang gersang dan kering kerontang itu akan memancar seberkas cahaya kearifan, di mana dengan kekuatan spiritual dan kemampuan berpolitik putra-putranya dapat menguasai semua kekuatan adidaya dunia?

Siapakah yang menyangka, sosok seperti Abu Bakar yang lemah lembut itu tiba-tiba saja mengirim pasukan untuk memerangi para pembangkang, pemberontak dan kaum murtad di Yamamah.

Siapa yang menyangka sosok-sosok pribadi yang dahulunya mengajar di surau-surau, tiba-tiba suaranya terdengar di seantero nusantara lewat mikrofon gedung parlemen.

Ikhwah fillah…

Walau demikian hebatnya cobaan dan tantangan yang harus dihadapi, walau demikian berat beban perjuangan ini, walau demikian besar biaya persiapan bekal dakwah ini, walaupun demikian panjangnya jalan dakwah ini, namun semuanya tetap harus dijalankan, harus diyakini, bahwa tak ada jalan lain untuk membangun kejayaan umat kecuali dengan dakwah ilallah.

Seorang pekerja, pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya. Jika ia telah bekerja, berarti ia telah menunaikan kewajiban dan pasti kelak akan mendapat balasan dari Allah. Tak ada keraguan dalam hal ini, selagi syarat-syarat terpenuhi. Sedang masalah hasil, itu terserah kepada Allah swt. Boleh jadi peluang kemenangan itu datang tanpa terduga, sehingga ia memperoleh hasil yang sangat memuaskan dan penuh berkah.

Sementara bila ia tidak bekerja, ia akan mendapat dosa karena tidak berbuat, ia juga akan kehilangan pahala jihad, dan tentu saja dia sama sekali tidak akan mendapatkan hasil di dunia.

Allah menegaskan hal itu dalam firman-Nya:

Dan ingatlah ketika suatu umat di antara mereka berkata: Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab dengan keras? Mereka menjawab: Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa! Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zhalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” Al-A’raf: 164-165.

Ikhwah Fillah…

Mari kita dengarkan bersama senandung ayat-ayat Al Quran yang menggema pada segenap ufuk, yang memenuhi mayapada dan tujuh susun langit, yang membisikkan dalam diri setiap mukmin makna kebanggaan dan kemuliaan tertinggi.

Sungguh Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.” Al-Baqarah: 257.

Benar wahai para pejuang, benar, itulah panggilan Allah pada kita semua. Maka kita menjawab panggilan-Nya:

Ya Allah, segala puji, segala syukur yang tiada terbilang hanya untuk-Mu. Engkau dan hanya Engkaulah Pelindung orang-orang beriman, Penolong orang-orang yang berbuat kebaikan, Pembela orang-orang tertindas, yang diperangi dalam rumah-rumah mereka. Sungguh terhormatlah orang yang bersandar pada-Mu, dan niscaya menanglah orang yang berlindung di bawah perlindungan-Mu.”

Karenanya, seyogianya kita tetap optimis dan yakin dengan janji-janji-Nya, serta tegar dan bersabar dalam menapaki langkah-langkah perjuangan sampai ke tujuan. Pesan Rasulullah saw. kepada para pejuang: “Bersabarlah, bersabarlah dalam barisan dakwah, dan jangan meninggalkan barisan dakwah, sampai kamu melihat ada kekufuran nyata dalam barisan dakwah itu.” Selain juga, tidak mudah mengisi kemenangan dan memimpin suatu negeri, tidak sesederhana yang kita mimpikan. Jangan karena tidak setuju dengan langkah dakwah, kita meninggalkan barisan dakwah, dan menggalang kekuatan lain. Negeri ini membutuhkan orang-orang yang siap berkorban dan bekerjasama dengan sesama pejuang dakwah, bahkan dengan siapa saja yang menginginkan kebaikan bagi negeri ini, karena negeri ini tidak mungkin dikelola oleh satu kelompok tertentu. Bersabarlah!

Dan dengan keyakinan dan kesabaran itulah Allah swt. akan menjadikan orang-orang beriman mampu memimpin umat manusia di dunia ini.

Dan Kami jadikan dari mereka pemimpin ketika mereka bersabar dan mereka pun yakin dengan ayat-ayat Kami.” As-Sajdah:24

Kita sandarkan semuanya kepada Allah swt., kita tapaki langkah-langkah ini dengan penuh izzah -bangga diri- dengan identitas Islam milik-Nya:

Jangan panggil aku

Kecuali dengan seruan “Hai hamba-Nya”,

Karena itulah semulia-mulia namaku.

Islamlah ayahku,

Aku tak punya ayah selain itu

Biarlah mereka bangga dengan Qais atau Tamim

Selamat bekerja. Dan bersabarlah. Allah bersama para pejuang sejati. Wallahu a’lam

Redaktur:

Keyword: , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (9 orang menilai, rata-rata: 8,11 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://carakusehat.blogspot.com heny

    segala keterbatasan dan kelemahan yang masih bersemayam dalam tubuh umat Islam, menjadi PR bersama. Umat Islam harus terus meng-up grade kualitas keimanan dan harus terus belajar agar mampu menguasai ilmu-ilmu dunia sehingga bisa tampil sebagai umat terbaik

  • meidiana

    memang kita harus memaksimalkan akal,hati untuk membuat strategi yang sudah dicontohkan,niat ini sudah start awal yang baik. selamat.

  • http://dakwatuna.com anegout

    Memang benar, tapi kita mempunyai Kekuatan namun bukan untuk Menghancurkan..' Kekuatan dengan Iman yg kita miliki adalah Jiwa & Ruh. Jangan dilihat dari sisi Zahirnya tapi dilihat Hakekatnya..memang tidak nampak. Tapi kita rasakan makna saat Ramadhan s.d. Fitrinya. Mulia dimata Allah.

  • dini

    Kekuatan iman jauh lebih besar daripada apapun, hanya orang-orang terpilih yang mampu berjuang hanya dengan keimanan…

  • Zulfy eL Hanief

    (^_^)

  • Aliinteristi

    betul banget, kekuatan dari dalam itu yang terpenting. Bukankah dulu kita (muslimin) pernah kalah dalam suatu peperangan padahal jumlah pasukan muslimin lebih banyak dari pasukan orang2 musyrikin, hanya karena pasukan muslimin saat itu tidak ada yang sholat tahajjud.

Iklan negatif? Laporkan!
53 queries in 4,313 seconds.