Home / Berita / Ketika Cinta dan Dakwah Berpadu (2)

Ketika Cinta dan Dakwah Berpadu (2)

dakwatuna.compengalaman adalah guru termahal, itulah kira-kira pepatah yang menginspirasi kang Abik, panggilan Habiburrahman El Shirazy, untuk mengawal pembuatan film ke dua dari novel beliau “Ketika Cinta Bertasbih”.

Pasalnya novel beliau yang difilmkan pertama “Ayat-Ayat Cinta” tidak sesuai dengan isi novel aslinya.

“Film AAC tidak seratus persen Islami, terus terang ada beberapa hal yang saya tidak setuju, terutama yang berbeda dengan novel aslinya.” Terang kang Abik.

Ia juga menambahkan: “Kita sudah berusaha mengawal proses pembuatan film AAC tersebut, bahkan sebelum akhirnya tayang di publik, kami dengan tim dari beberapa pihak termasuk MUI sudah lebih awal melihat film itu, dan memberi banyak masukan agar lebih Islami, namun dengan alasan tertentu, tidak semua masukan bisa diakomodir, sehingga itulah hasilnya.”

“Termasuk pemilihan tokoh sebagai pemeran utama, sejatinya adalah yang bisa menjadi teladan, teladan tidak hanya di film tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.” Tegas kang Abik.

Pengalaman ini menjadikan beliau terjun langsung mengawal proses pembuatan film kedua “KCB” (Ketika Cinta Bertasbih), dari awal sampai proses pembuatan film tuntas, biidznillah.

Audisi itulah solusinya. Mencari pemain atau tokoh utama dengan selektif. Dengan melibatkan banyak pihak, baik artis senior, produser, sutradara, bahkan Dewan Syariah untuk menentukan pemain utama. Proses seleksinya sangat ketat, dilakukan di sembilan kota besar di seluruh nusantara.

Dari 6700 lebih peserta audisi, hanya lima yang tersaring menjadi pemain atau tokoh utama. Dari kelima itu, satu artis beneran, empat pemain lainnya pendatang baru, namun tidak kalah bahkan bisa mengalahkan deretan artis lainnya yang sama-sama ikut audisi.

Kang Abik optimis, film keduanya ini akan lebih Islami. Ia menekankan: “Insya Allah film kedua 100% Islami. Mohon do’a umat muslim agar proses pembuatan filmnya berjalan dengan lancar dan hasil filmnya benar-benar Islami.”

Kang Abik hadir di tengah-tengah hiruk pikuk seni dan budaya Indonesia dengan membawa angin baru, angin kesegaran dan kesejukan Islam, menyemai nilai kebaikan dan kemanusiaan.

Beliau berhasil menghadirkan wajah seni Islam yang santun, menebar cinta, mencerdaskan, membangun, mencerahkan dan memuaskan spiritual setiap pembacanya.

Kang Abik punya prinsip yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, yang lebih cenderung bahwa seni untuk seni.

Beliau mensibghah atau mewarnai seni dengan caranya sendiri. “Seni jangan sampai melalaikan, melenakan, mempromosikan kemaksiatan, menawarkan demoralitas, bahkan tindak kriminal. Hal inilah yang seharusnya menjadi tanggung jawab moral pegiat seni dan budayawan.” tambah kang Abik.

Ya, seni menjadi seperti sebilah pisau bermata dua: seni bisa untuk membunuh sisi kemanusiaan dan kehancuran moral. Namun seni juga bisa sangat efektif untuk membangun moralitas, spiritual dan kemanusiaan, bahkan membangkitkan bangsa dari keterpurukan, dengan izin Allah swt. (ut)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (10 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • Fauzan

    Amin.
    Semoga harapan Kang Abik dapat terwujud. Insya Allah film KCB yang Islam akan betul-betul menjadi salah satu media dakwah.
    Barakallahu lana wa lak

  • ana wahyuningtyastut

    Hanya do'a yang bisa ana sampaikan sebagai wujud dukungan untuk antum. Mari luruskan niat semata hanya sarana ibadah yang dipersembahkan untuk Allah…

  • Al Ghifari

    maju terus kang abik.. saya sudah tidak sabar menunggu film ini diputar.

  • amie

    hummm…qira-qira ceritanya tentang apa yawh… kang abik kapan mau adain acara di daerah bekasi…???
    ditunggu ya kang… n satu lgi kang abik semangat ya buat syiar islam di bidang entertaimen…jadi dakwataiment, hehehehehe

  • Do'a Bayar zakat fitrah mana?

  • uchi

    Semoga film ini mampu menunjukkan "keuniversalan islam" dan bisa menjaga 'ke-asholahan dakwah'itu sendiri. Pokoke… jgn sampe kaya film AAC lagi ya kang….. :D

  • JAMARI

    kang abik Selamat berjuang lewat seni, semoga bisa menjadikan tauladan akhlaq anak-anak bangsa ini ke arah yang lebih baik.

  • LIES

    novel tentang cinta tsb sangat indah…..

  • icha

    ayoo….smunya banyak2 buat flm yang nuansa islami agar pertelevisian dapt menjadikan contoh yang patut dilihat,,,,,

  • h2

    betul banget, semoga film ke 2 ini lebih baik lagi, btw udah ditayagin belum ya :)

  • Linda

    wah ..
    bagus bgd….
    ayo terus buat film2 yang bernuansa islami !!!!!

  • lusy

    Asslm Wr Wb

    Subhanalloh, smoga akan muncul film-film islam yang lain yang akan membawa angin segar bagi masyarkat yang sedang kehausan dengan film-film islami dan semoga selalu diberi kebaikan dunia dan akhirat bagi siapapun yang berdakwah untuk islam ini hanya karena ingin bertemu dengan alloh SWT di jannahNya yang hakiki. Lanjutkan kang abik dan tim dakwatuna.

    Wsslm Wr Wb

  • eni

    maaf nih..saya mo nanya dikit boleh ya..yang islami dari ayat-ayat cinta dan KCB itu apa ya..?maklumlah saya masih hijau dalam hukum islam..

Lihat Juga

Ilustrasi (flickr.com/Nelo Esteves)

Hanya Karena Cinta