Home / Suara Redaksi / Editorial / Idul Adha dan Ibadah Haji: Kapan?

Idul Adha dan Ibadah Haji: Kapan?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Sekalipun setiap tahun umat Islam selalu merayakan hari raya Idul Adha, ternyata masih banyak pertanyaan di lapangan: apakah hari raya Idhul Adha tidak ada hubungannya dengan ibadah haji yang sedang berlangsung di kota Makkah? Dengan kata lain, apakah orang-orang Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji tidak mesti melaksanakan Idul Adha di hari yang sama dengan yawmun nahr? Atau malah sebaliknya bahwa Idul Adha adalah merupakan solidaritas umat Islam yang tidak berhaji terhadap sauadaranya yang sedang berhaji? Lalu bagaimana dengan puasa Arafah? Apakah umat Islam dalam berpuasa tidak harus tepat pada hari Arafah atau harus menyesuaikan dengan pelakasanaan wukuf di Arafah? Lalu bagaimana dengan ikhtilaful mathaali’ (perbedaan terbitnya bulan)? Apakah ru’yatul hilal tidak menjadi persyaratan untuk Idul Adha, atau itu persyaratan seperti dalam pelaksanaan Ramadhan?

Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab, sebab perbedaan umat Islam dalam melaksanakan Idul Adha adalah karena perbedaan persepsi dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Banyak orang Islam di berbagai negara tidak bisa melaksanakan Idul Adha di hari yang sama karena perbedaan pemahaman dalam menyikapi pertanyaan-pertanyaan di atas. Ada yang melihat bahwa untuk Idul Adha harus ru’yah, maka puasa Arafah tidak harus sama dengan hari wukuf, begitu juga Idul Adha tidak harus sama dengan yawmun nahr. Ada yang melihat bahwa puasa Arafah dan Idul Adha adalah solidaritas terhadap Umat Islam yang sedang berhaji, maka ia harus dilaksanakan di hari yang sama dengan wukuf dan yaumun nahr.

Sebelum menjelaskan hakikat ini, sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu bahwa baik puasa Arafah maupun pelakasanaan Idul Adha kedudukannya dalam fikih Islam adalah sunnah. Sementara menegakkan persatuan dan membangun keharmonisan sesama umat Islam adalah wajib. Maka sungguh tidak benar jika demi yang sunnah lalu yang wajib dikorbankan. Ini yang hampir setiap tahun seringkali diabaikan oleh umat Islam. Padahal menegakkan hari raya di hari yang sama –terutama bagi umat Islam yang negaranya sama– adalah suatu keniscayaan sebagai bukti kesatuan dan keharmonisan. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas saya akan meninjau dari dua sisi: pertama, dari sisi fikih Islam dan kedua, dari segi fikih persatuan.

Perspektif Fikih Tentang Idul Adha

Sekalipun sebagian ulama berpendapat bahwa Idul Adha adalah ibadah independen dari ibadah haji, karenanya tidak harus dilaksanakan sama dengan waktu ibadah haji, pun karenanya tanggal pelaksanaan harus sesuai dengan bulan setempat, namun pendapat yang lebih kuat adalah bahwa ibadah Idul Adha merupakan ibadah solidaritas terhadap para hujjaj di tanah suci. Artinya, ketika mereka wukuf, kita disunnahkan berpuasa. Dan ketika mereka melempar jumrah aqabah, kita disunnahkan melaksanakan shalat Idul Adha. Dengan kata lain bahwa dalam pelaksanaan Idul Adha tidak harus melihat bulan seperti dalam pelaksanaan ibadah Ramadhan. Melainkan ikut saja apa yang sedang berlangsung di tanah suci dan kita melaksanakan ibadah di saat yang sama sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Untuk menguatkan pendapat ini ada beberapa dalil yang bisa saya kemukakan di sini.

Pertama. Melihat bulan di bulan Dzuhijjah adalah untuk pelaksanaan ibadah haji. Dalam surat Al-Baqarah ayat 197, Allah berfirman bahwa ibadah haji harus dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu. Dalam surat yang sama ayat 189, Allah berfirman, “Mereka bertanya tentang hilal. Katakan, bahwa itu merupakan tanda untuk menentukan waktu bagi manusia dan bagi pelaksanaan haji.” Ini menunjukkan bahwa ibadah utama yang harus disesuaikan dengan hilal pada bulan Dzulhijjah adalah ibadah haji. Jadi, umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji ikut saja apa yang sedang dilaksanakan para hujjaj. Artinya, puasa Arafah atau Idul Adha disesuaikan dengan pelakasanaan ibadah haji sekalipun dari segi terbitnya bulan berbeda. Sebab, tekanan puasa sunnah Arafah dan Idul Adha bukan kepada perbedaan terbitnya bulan, melainkan kepada solidaritas terhadap para hujjaj. Dengan demikian umat Islam di manapun berada dalam masalah puasa sunnah Arafah dan Idul Adha, tidak perlu mempersoalkan perbedaan terbitnya bulan ihktilaful mathaali’, melainkan ikut apa yang sedang dilaksanakan para hujjaj di Makkah. Begitu mereka wukuf di Arafah, umat Islam di seluruh dunia berpuasa sunnah Arafah. Dan begitu mereka melempar jumrah Aqabah, maka umat Islam di manapun berada melaksanakan Idul Adha. Karenanya bagi para hujjaj tidak disunnahkan puasa Arafah dan shalat Idul Adha, sebab mereka sedang melakukan ibadah haji.

Kedua. Berbeda dengan Ramadhan di mana Rasulullah saw. sangat tegas dalam haditsnya: suhuumuu li ru’yatihii wa afthiruu li ru’yatihi. Artinya, untuk memulai puasa Ramdhan harus dengan ru’yah. Dalam konteks ini kemungkinan timbulnya perbedaan tidak bisa dihindari, karena alasan ikhltalaful mathali’. Toh sekalipun di sisi lain ada kalangan ulama yang berprinsip sebaliknya. Mereka mengatakan yang lebih kuat adalah bahwa di muka bumi ini seharusnya ada keseragaman. Kalau ada satu orang di satu titik di permukaan bumi melihat hilal, maka semua orang seluruh dunia harus ikut terhadap apa yang dilihatnya. Dalam hal puasa sunnah Arafah dan Idul Adha tidak demikian. Karena teks hadits yang mengharuskan ru’yah secara khusus untuk puasa Arafah dan Idul Adha tidak ada. Karenanya banyak para ulama memahami bahwa untuk ibadah bulan Dzulhijjah baik puasa sunnah Arafah maupun Idul Adha itu lebih merupakan solidaritas terhadap para hujjaj di tanah suci.

Ketiga. Hal lain yang menguatkan bahwa Ibadah Idul Adha lebih berupa ibadah solidaritas terhadap para hujjaj adalah, bahwa bertakbir pada hari Idul Adha menurut ijma’ hukumnya sunnah dikerjakan setiap selesai shalat sejak selesai shalat Zhuhur pada hari raya Adha sampai selesai shalat Subuh atau Ashar pada akhir Hari Tasyriq. Imam Syafi’i mengatakan, “Ini karena solidaritas terhadap para hujjaj (tabi’an lil hujjaj).”[1] Imam Ibnul Araby dalam tafsirnya Ahkamul Qur’an menegaskan hal yang sama mengenai takbir bahwa itu adalah solidaritas terhadap para hujjaj (tabi’an lil hujjaj)[2]. Imam As-Srakhsi dalam bukunya Al-Mabsut menguatkan hal yang sama, bahwa takbir itu disunnahkan sampai akhir Hari Tasyriq adalah karena solidaritas terhadap para hujjaj (tabi’an lil hujjaj)[3].

Keempat. Imam Al-Qurthuby mengatakan bahwa khithab untuk berkurban dalam Al-Qur’an sebenarnya untuk para hujjaj. Adapun umat Islam yang lain di seluruh dunia disunnahkan berkurban sebagai solidaritas terhadap para hujjaj, sehingga mereka mendapatkan pahala yang sama[4]. Imam Ibn Taymiyah menegaskan, “Innadz dzbha bil msyaair ashlun, wabaqiyyatul anshaar tabi’un limakkah.“ Sesungguhnya berkurban di tanah suci itu pokok, adapun berkurban di tempat-tempat lain adalah sodaritas terhadap apa yang berlangsung di Makkah[5]. Ibn Rajab, ahli fikih dalam madzhab Al-Hanbali, mengaitkan antara pelaksanaan Idul Adha dengan gerak perjalanan jamaah haji di Tanah Suci. Dan ia menegaskan ini adalah pendapat Imam Ahmad, bahwa umat Islam di manapun berada dalam hal Idul Adha ikut jamaah haji di Makkah. Ibn Rajab berkata, “Wa yakuunu ta’jiilu shalaatil adha bi miqdaari wushuulin naasi min muzdalifa ilaa munaa waramyihim wadzbhihim –nashsha alaihi ahmad fii riwatin– liyakuunaa ahlal amshaar tabi’an lilhujjaj fii dzaalika, fainna ramyal hujjaji aljamrata bimanzilati slaatil iid liahlil amshaar.” Dan hendaknya pelaksanaan Idul Adha disesuaikan dengan sampainya para hujjaj dari Muzdalifah ke Mina, dan pelaksanaan mereka melempar jumrah serta menyembelih qurban –ini adalah pernyataan Imam Ahmbad menurut sebagian riwayat– adapun umat Islam selain jamaah haji di manapun mereka berada, ikut para hujjaj dalam hal tersebut. Maka ketika para hujjah melempar jumrah, pada saat itu adalah Idul Adha bagi umat Islam yang tidak berhaji di tempat lain[6].

Kelima. Dalam hadits mengenai puasa Arafah, tidak tidak disebutkan puasa sembilan Dzulhijjah, melainkan puasa hari Arafah. Abu Qatadah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya mengenai puasa Arafah, lalu bersabda, “Itu menghapus dosa yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim). Berbeda dengan puasa sepuluh Muharram, itu disebut dengan asyura (lihat HR. Bukhari). Bahkan dalam hadits lain riwayat Imam Muslim, Rasulullah bersabda, Lain baqitu ilan qaabilin la ashumannat taasi’a.” Seandainya nanti aku masih hidup sampai tahun depan, akan aku laksanakan puasa pada hari kesembilannnya. Imam An-Nawawi dalam bukunya Riyadhus Shaalihin, menulis bab untuk hadits-hadits tersebut dengan judul: bab fadhlu shawmi yawmi Arafah wa asyuraa wa tasu’a. Ini menunjukkan bahwa untuk puasa hari Arafah ikut pelaksanaan wukuf di Arafah. Dalam riwayat Imam At Turmidzi Rasulullah saw. bersabda, Yawmu Arafa wa yawmun nahar wa ayyaam mina iidunaa ahlul islaam.” Perhatikan hadits ini. Rasulullah saw. lagi-lagi tidak menyebutkan yawmut tasi’ min dzilhijjah, tetapi menyebutkan yawmu Arafah. Ini menunjukkan bahwa tekanan sunnah berpuasa hari Arafah adalah ketika para hujjaj di Makkah sedang melaksanakan wukuf.

Keenam. Berdasarkan penelitian yang sangat ketat, terhadap pendapat ulama fikih dalam berbagai madzhab –Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hanbali– semua tidak berbeda pendapat bahwa Ibadah puasa hari Arafah dan hari Idul Adha adalah sebagai ibadah solidaritas terhadap para hujjaj. Sampai-sampai dalam sebuah hadits Rasulullah saw. menganjurkan bagi yang akan berkurban hendaknya jangan sampai memotong rambut atau kuku, itu maksudnya –menurut banyak ulama– “tasyabbuhan bil hujjaji” (agar menyerupai para hujjaj).

Ketujuh. Bahwa jika terjadi kesalahan dalam melihat bulan untuk menentukan hari wukuf di Arafah –katakanlah mereka wukuf pada tanggal 10 Dzulhijjah dengan asumsi bahwa itu tanggal 9 Dzulhijjah– para ulama masih menganggap bahwa wakuf mereka sah. Ibn Hazam dalam bukunya Al Muhalla mengatakan[7]:

ومن أخطأ في رؤية الهلال لذي الحجة فوقف بعرفة اليوم العاشر وهو يظنه التاسع، ووقف بمزدلفة الليلة الحادية عشرة وهو يظنها العاشرة ـــ: فحجه تام ولا شيء عليه، لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يقل: إن الوقوف بعرفة لا يكون إلا في اليوم التاسع من ذي الحجة أو الليلة العاشرة منها؛ وإنما أوجب عليه السلام الوقوف بها ليلاً أو نها راً. فصح أن كل من وقف بها أجزأه ما لم يقف في وقت لا يختلف اثنان في أنه لا يجزيه فيه.

زImam Asy Syabani Murid Imam Abu Hanifa menegaskan hal yang sama

: قال محمد : فإن اشتبه على الناس فوقف الإمام والناس يوم النحر وقد كان من رأى الهلال وقف يوم عرفة لم يجزه وقوفه، وكان عليه أن يعيد الوقوف مع الإمام لأنَّ يومَ النحر صار يوم الحج في حق الجماعة، ووقت الوقوف لا يجوز أن يختلفَ فلا يعتد بما فعله بانفراده. وكذا إذا أخر الإمام الوقوف لمعنى يسوغ فيه الاجتهاد لم يجز وقوف من وقف قبله[8]

Hal yang sama dikatakan juga dalam Syarhul Mahdzab:

قال أصحابنا: ليس يوم الفطر أول شوال مطلقا وإنما هو اليوم الذي يفطر فيه الناس؛ بدليل حديث: ((فطركم يوم تفطرون)) وكذلك يوم النحر، وكذلك يوم عرفة هوَ اليوم الذي يظهر للناس، أنه يوم عرفة، سواء كانَ التاسع أو العاشر وقال الشافعي في ((الأم)) عقب هذا الحديث: فبهذا نأخذ. قالَ: وإنما كلف العباد الظاهر، ولم يظهر الفطر إلا يوم أفطروا. انتهى.

وقال أصحاب أبي حنيفة – فيمن شهد بيوم عرفة بعرفة، على وجه لا يتمكن الناس فيه من تلافي الوقوف، على تقدير صحة شهادتهم في ذلك العام -: إن شهادتهم غير مقبولة؛ لما يؤدى إليه قبولها من إيقاع الناس في الفتنه، بتفويت حجهم[9]. ذكره صاحب ((الكافي)) – منهم

Persepektif Fikih Persatuan

Tidak ada perbedaan pendapat bahwa menegakkan persatuan umat adalah wajib. Dalam ayat yang sangat terkenal Allah berfirman, “Wa’tashimuu bihablillahi jami’aw walaa tafarraquu.” Perhatikan kata wala tafarraquu. Ini menunjukkan bahwa yang Allah larang adalah perpecahan, lawan dari persatuan. Allah tidak berfirman walaa takhtalifuu, sebab berbeda pendapat adalah bagian dari sunnatullah. Tidak mungkin manusia yang mempunyai kemampuan akal yang berbeda-beda dipaksa dalam satu pendapat. Maka siapa yang menghalangi perbedaan fikih dan memaksa manusia dalam satu pendapat itu bertentangan dengan sunnatullah dan fitrah manusia. Sampai para sahabat, di saat Rasulullah masih hidup, mereka juga pernah berbeda pendapat dalam memahami teks hadits. Tetapi perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk bersatu. Dalam beberapa hadits Rasulullah saw. sering menekankan pentingnya persatuan ini termasuk dalam pelaksanaan ibadah puasa maupun kurban. Di antaranya Rasulullah bersabda, “Shawmukum yawma tashuumuun, wa adhhaakum yawma tudhahhuun, wa’arafatukum yawma ta’rifuun, warwiya: wahajjukum yawma tahujjuun.” Hari puasa adalah di saat kalian berpuasa, hari Idul Adha-mu adalah di saat kalian berkurban, hari Arafah-mu adalah di saat kalian berwukuf di Arafah. Dalam riwayat lain, dan hari haji-mu adalah di saat kalian berhaji.

Betapa indahnya ketika umat Islam, terutama pada saat Hari Raya benar-benar bersatu, sekalipun dalam dataran fikih perbedaan pendapat tidak bisa dihindari. Tetapi apapun perbedaan fikih, bila kemudian dicari titik temunya secara terbuka dan lapang dada, pasti akan sampai kepada pendapat yang lebih kuat. Kalaupun masing-masing pendapat sama-sama kuat pasti –bila ditinjau dari persepektif fikih persatuan– akan mencapai titik saling bersinergi dan saling memahami, lalu kemudian disimpulkan bahwa ikut yang mana saja sama-sama benar. Pada saat seperti inilah menegakkan persatuan pasti akan diutamakan. Sebab ibadah membangun persatuan adalah kewajiban setiap umat Islam, apapun madzhab dan golongannya.

Sekarang bukan saatnya lagi umat Islam mencabik-cabik dirinya hanya karena perbedaan fikih. Marilah segera pindah ke babak sejarah baru, yaitu bersatu dalam satu barisan, sekalipun berbeda pendapat, madzhab, dan golongan. Sebab, bagaimanapun semasih bernama umat Islam, pasti Ka’bahnya sama, Rasulnya sama, dan Allah yang disembah juga sama. Lebih jauh –bila dikaitkan dengan ibadah Idul Adha yang secara hukum fikih kedudukannya hanya sunnah muakkadah– benarkan secara syariah, hanya demi yang sunnah kita harus mengorbankan yang wajib? Wallahu a’lam bishshawab.

New York, 17 Desember 2007

Dr. Amir Faishol Fath

— Catatan Kaki —
[1] Lihat Al Khazin, Tafsir Al Khazin, Al Baqarah ayat 202.
[2] Lihat Ibnul Araby, Ahkamul Qur’an.
[3] Lihat Al Sarkhasi, Al mabsut, 2:42.
[4] Lihat Tafsirul Qurthuby, 12:41. Teks pernyataan Al Qurtuby: “liannal haaj innamaa huwa mukhathab fil ashl bil hadyi, faidzaa araa ayyudhahhiya ja’alahu hadyan, wan naasu ghairul haaj innamaa umiruu bil udhhiyah liyatshabbahuu bi ahli mina fayahshul lahum hadzdzun min ajrihim”.
[5] Ibn Taymiyah, Majumu’ fatawa, 24:221.
[6] Lihat Fathul Bari, Syarah Sahihul Bukhari, Babul Idain.
[7] Ibn Hazam, Al Muhalla 5:150.
[8] Al Kasani, Badai’us Snai’ 2:189
[9] Fathul Bari, Syarah Sahihul Bukhari, Babul Idain

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (6 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...Loading...
DR. Amir Faishol Fath
Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi dosen tafsir di IIUI. Juga pernah menjadi dosen pasca sarjana bidang tafsir Al Qur’an di Fatimah Jinah Women University Rawalpindi Pakistan. Akhir-akhir ini sekembalinya ke Indonesia, menjadi dosen sastra Arab di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta. Lalu menjadi dosen Tafsir sampai sekarang di Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta. Selebihnya beberapa kali di undang untuk mengisi Seminar, konfrensi dan ceramah di tengah komunitas muslim di beberapa kota besar Amerika Utara (Washington, New York, Houston, Los Angles, Chicago, Denver). Beberapa kajian tafisir rutin yang diasuh di perkantoran Jakarta antara laian di: Indosat, Conoco Philips, Elnusa, Indonesian Power, PLN Gambir. Agenda Kajian Tafsir Dzuhur:Senin (setiap pekan ) : Masjid Baitul Hikmah Elnusa Selasa 1 : Masjid Bank Syariah Manidiri Pusat Selasa 2&4: Masjid Indosat Pusat Selasa 3 : Masjid Hotel Sultan Rabu 1 : Masjid Indonesian Power Pusat Rabu 3 : Masjid PLN Gambir Kamis (setiap pekan) : Masjid Miftahul Jannah Ratu Prabu 2 (Conoco Philiphs)Agenda Pengajian Tafsir Dan Hadits lainnya:Sabtu 1&2 (Sesudah Subuh) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Ahad 2 (Sesudah Subuh) : Masjid An Nur (Perdatam) Senin ( Jam 14:30-20.00) :Sekolah Tinggi Al Hikmah Jakarta Selasa (Jam 14:00-15:30 : Majlis Ta’lim Amanah Dault (Kedian Menpora Adiaksa Dault, Belakang STEKPI, Kalibata). Rabu: 1&2 (Setelah Maghrib) : Masjid Az Zahra Gudang Peluru Kamis (Setiap Pekan, setelah Maghrib) : Masjid Bailtul Hakim, Diskum Kebon Nanas.

Lihat Juga

Lulung Abraham Lunggana, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Fraksi PPP - Foto: ppp.or.id

Ini Penyebab Haji Lulung Batal Diperiksa Bareskrim

  • http://www.ipin4u.co.nr Syamsul Arifin

    Kalau mengenai artikel yang ini gimana hubungannya :)

    <a rel="nofollow" title="Sholat Iedul Adha Mana yang Harus Diikuti" href="http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/7c14002348-sholat-iedul-adha-mana-harus-diikuti.htm?other&quot; rel="nofollow">Sholat Iedul Adha Mana yang Harus Diikuti

  • Syamsulw

    Iya betul sekali, memang betul ibadah Idul Adha merupakan ibadah solidaritas terhadap para hujjaj di tanah suci. Artinya, ketika mereka wukuf (9 Dzulhijjah) , kita disunnahkan berpuasa.

    Dan ketika mereka melempar jumrah aqabah, kita disunnahkan melaksanakan shalat Idul Adha (10Dzulhijjah).

    Yang jadi pertanyaan saya apakah kita bisa mengabaikan rukyat hilal atau hisab setempat untuk menentukan tanggal 9 dzulhijjah tersebut, apakah cukup berdasar pada tanggal masehi saja.

    Apakah tidak mungkin terjadi perbedaan pergeseran penanggalan qomariah dan syamsiyah antara indonesia dengan Arab saudi yang berbeda 4 jam.

  • pak bowo

    assww.

    Ibadah wukuf di arafah itu menjadi patokan untuk sahnya melaksanakan haji. Ketika wukuf, orang yang tidak berhaji melaksanakan puasa arafah… Indah dan harmonis.

    Keesokan harinya adalah hari Raya Kurban bagi yang tidak berhaji.

    Jadi idul adha patokannya adalah Hari Wukuf di Arafah. Posisinya di Arab. Pada peristiwa itu kita ummat muslim di

    belahan dunia yang lain mengikutinya. Misal di Indonesia, 4 jam lebih awal dari Arab, maka kalau keesokan

    hari pada jam 07.00 pagi kita Shalat Ied Adha, di Arab masih jam 03.00 pagi, tidak mengapa karena masih

    masuk hitungan " esok harinya" di Arab.

    wass.

  • http://mampir-yah.com Abuyahya

    Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

    Maaf, ya! Sebenarnya yang disebut hari Wukuf adalah HARI TANGGAL 9 Dzulhijjah, bukan hari berdasarkan namanya (Ahad, senin selasa rabu…). Jadi jangan jadikan patokan Hanya beda 4 jam nama harinya harus sama. Sebenarnya Nama hari yang dipakai secara Internasional sekarang ditentukan oleh penanggalan Masehi, yaitu dimulai pada meridian 180 BB/BT. Jadi, patokannya tetap rukyat hilal di tempat masing-masing. Misalnya, jika Indonesia melihat hilal awal Ramadhan pertamakali, maka empat jam kemudian tanggal 1 Ramadhan juga berlaku untuk Arab Saudi, sedangkan jika Saudi melihat Hilal awal Dzulhijjah pertama kali sedangkan 4 jam sebelumnya hilal tidak terlihat di Indonesia, maka awal Dzulhijjah berlaku untuk Indonesia 20 JAM KEMUDIAN walaupun konsekwensinya harus berbeda NAMA HARINYA karena melewati 180 BB/BT tadi (International Dateline), tapi tetap sama-sama tanggal 1 Dzulhijjah. Kecuali kalau anda tidak percaya bahwa bumi ini bulat. Faham?

    Sekali lagi maaf.

  • http://abuyahyalearntoblog.blogspot.com Abuyahya

    ma'laisy yaa akhy,

    (no heart feeling)

    Berkata Imam Syafi'i r.a. pada sahabatnya, "Bukankah kita masih bisa tetap bersaudara, meski kita berbeda pendapat dalam suatu masalah?"

    JazaakumulLaahu khayraa…

    http://abuyahyalearntoblog.blogspot.com

  • http://abduh1.blogspot.com abduh

    Saya setuju dengan pak Abu Yahya. Banyak ulama Indonesia (sekali lagi Indonesia) yang TIDAK faham penanggalan Hijriyah. Utk Ramadhan maupun Idul Adha mereka mengatakan mengacu pada penanggalan Hijriyah. Kenyataannya mereka amat sering rancu dengan memakai hari Masehi sebagai patokan.

    Idul Adha kemarin contohnya. Katanya berpatokan pada kalender Hijryah, kenyataannya banyak yang memakai Masehi sebagai patokan dengan memaksakan Sholad Ied pada hari Rabu. Nama "Rabu" kan harinya Masehi. Di Indonesia masih tanggal 9 Dzul Hijjah.

    Kasus Idul Adha kemarin adalah contoh kongkrit, bahwa Muhammadiyah maupun NU FAHAM dan MENGERTI dengan benar masalah kalender Hijriyah. Kalaupun Muhammadiyah berbeda dg Pemerintah adalah karena perbedaan tafsir soal definisi Hilal, bukan definisi penanggalan Hijriyah.

    Tapi memang amat susah menjelaskan hal ini, kecuali kepada orang2 yang faham dengan geografi, Ilmu Bumi, Geometri. Wallahu A'lam.

  • http://www.ayok.wordpress.com aryo

    saya tidak sepakat dengan abu yahya,ketika indonesia tidak melihat hilal kemudian harus menunggu 20 jam hinga menentukan tanggal satu (karena tidak melihat hilal) yang bener jika di daerah lain sudah melihat hilal maka pada hari itu sudah masuk bulan baru,besoknya (pagi harinya) juga adalah tanggal satu karena Arab sudah melihat hilal.
    melihat hilal hanya terlaksana ketika maghrib,sehingga tidak semua daerah bisa melihat hilal.Jika indonesia nunggu 20 jam lagi untuk lihat hilal,itu bukan hilal (bulan baru) lagi tetapi sudah masuka ke tanggal dua,sehingga dlam mengakhiri bulan pasti bermasalah lagi,bisa-bisa hilal terlihat ketika indonesia masih melakukan 28 hari pada bulan tersebut.
    Dan bisa dibayangkan jika semua daerah harus melihat hilal sendiri di masing-masing daerah,maka perbedaan tanggal dan hari bisa sangat banyak,karena peredaran bulan tidak seperti matahari yang fixed.Bulan bisa berubah-ubah,sehingga terkadang suatu daerah bisa melihat terkadang tidak.

  • http://pakarfisika.wordpress.com PakAR

    Bismillah:

    "Ketika saya kecil belom pernah mengalami perbedaan dalam berhari raya. Tetapi setelah besar kok malah sering mengalami."

    Saya jawab sendiri (mungkin ada jawaban lain): Ya karena dunia telah maju, informasi mudah kita akses. Dulu juga ada beda tapi kita hanya tahu info seputar kampung kita saja, paling luas kota atau sedikit luas lagi…

    Tapi saya sangat sepakat, bahwa Ukhuwwah Islamiyyah adalah WAJIB, jangan dikotori oleh hal2 yang sebatas sunnah, apalagi mubah konon malah makruh. Itu aja.

    Wa Allahu a'lamu bish-showwaab…

  • http://yahoo.co.id Albi Fitransyah, S.S

    Dunia memang 1 peta.

    -Namun, dunia terbagi ke dalam zona-zona waktu setiap garis bujurnya.

    -Sehingga, mengakibatkan adanya GARIS TANGGAL MASEHI yang membelah bumi menjadi 2 (dua) bagian.

    -Ada yang sudah masuk tanggal 1 Oktober 2008 ada yang masih tanggal 30 September 2008.

    -Silahkan Abil lihat di peta Dunia.

    -GARIS TANGGAL MASEHI ini disebut sebagai: INTERNATIONAL DATE LINE (IDL).

    -Ini yang menjadi permasalahan dalam penanggalan (baik Masehi maupun Hijriyah)

    -Oleh karena itu, ditetapkanlah saat waktu Maghrib (ketika Ghurub Matahari) setiap awal bulan selalu ditandai kemunculan HILAL BULAN SABIT KECIL di satu kota.

    -Inilah yang menjadi dasar fundamental bahwa 1 kota berlakuk 1 hilal.

    -Jika kita buat peta Dunia dengan kemungkinan terlihatnya HILAL di 1 kota , maka kita bisa menyimpulkan bahwa dari 1 kota ke kota lainnya akan terbentuk deret susunan yang teratur. Artinya dari GARIS TANGGAL HIJRIYAH ke sebelah barat akan sudah bisa melihat HILAL. Namun, dari GARIS TANGGAL HIJRIYAH ke timur belum bisa melihat HILAL.

    -Daerah yang telah menlihat HILAL pada saat Maghrib di suatu kota, maka daerah tersebut sudah masuk tanggal 1 Syawal 1429 Hijriyah. Namun, daerah yang belum dapat meluhat HILAL, daerah tersebut belum masuk 1 Syawal 1429 Hijriyah.

    -Ingat, definisi HILAL adalah: Bulan Sabit awal yang hanya dapat terlihat di ufuk barat ketika matahari tenggelam dan hanya terlihat pada saat Maghrib saja.

    -BANYAK BELAJARLAH MENGENAI KAJIAN ASTRONOMI.

    -Jika menggunakan Rukyat Global, maka akan kacau penanggalan Hijriyah.

    -Misal, di kota Mekkah saat Maghrib sudah melihat hilal. Jika, menggunakan Rukyat Global, maka kota Kairo Mesir masih menunjukkan jam 17.00 Sore (waktu 1 jam sebelum Maghrib). Apakah langsung BUKA PUASA dan menyatakan bahwa di Kairo Mesir sudah 1 Syawal. Lalu, puasanya bagaimana ????????????????

    -Begitu pula di kota London Inggris (jam 15.00 waktu Ashar-> tgl Masehi = 29 September 2008), di kota Washington DC Amerika Serikat (jam 9.00 Pagi -> tgl Masehi 29 September 2008), di kota-kota Kanada (jam 8.00 Pagi -> tgl Masehi = 29 September 2008), di kota Alaska (jam 6.00 Pagi -> tgl Masehi = 29 September 2008), di Midway Island (jam 5.00 Pagi -> tgl Masehi = 29 September 2008), di Brisbine (jam 1.00 Malam -> tgl Masehi = 30 September 2008), di Tokyo Jepang (jam 0.00 Malam -> tgl Masehi = 30 September 2008), di Jakarta Indonesia (jam 22.00 Malam-> tgl Masehi = 29 September 2008 )

    -Perhatikan pula, konversi waktu dan tanggal setiap kota setiap zona waktu yang ada !!!!

    -Waktu Shalat adalah waktu kota. Matahari kita hanya ada satu. Bulan juga ada satu. Jadi, lokasi geografis tempat pengamatan juga perlu diperhitungkan.

    -Hizbut Tahrir menurut saya tidak ilmiyah. Karena konsep Rukyat Global yang tidak memperhitungkan Garis Tanggal Lunar Bulan.

    -Hizbut Tahrir telah mencampurkan antara Kalender Masehi dengan Kalender Hijriyah

    -Hendaknya kita seluruhnya mempertemukan semua ORMAS ISLAM di seluruh dunia, para ahli astronomi, dan ahli falaq hisab untuk membuat kesepakatan internasional.

    -Perbedaan tanggal Islam bukan hanya antara Hisab dan Rukyat saja, tetapi antara Hisab sendiri ada perbedaan. Hisab Muhamadiyah dengan hisah NU dengan hisab Persis dengan yg lainnya. Rukyat juga ada perbedaan. Antara Rukyat NU, Rukyat pemerintah, dengan Rukyat Hizbut Tahrir.

    -Sementara saat ini “HARUS” ikut Pemerintah Republik Indonesia. Karena di Pemerintah ada Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan berbagai Ormas ISLAM.

  • Diana Titi Usman

    wadduuuh gimana siiih….baca artikelnya yang teliti doonk !! kan disitu sudah disebutkan bahwa penentuan hari ARafah adalah berdasarkan lokasi dimana para Hujaj akan melakukan wukuf. Jadi ketika para hujaj melakukan wukuf, yo wissh dimana aja kita berada lakukanlah shaum sunnah Arafah. Jangan lagi debaatt hilal segala. Hayo donk bangkit umat Islam, Amerik sudah mengirim pesawat menyelidiki planet yang jauh2, kita disini masih mengabaikan persatuan hanya untuk sesuatu yang sunnah…heuhh gemessy

  • kamal

    kita disini bukan debat hilal, lita itu cuma meluruskan teman kita yang keliru.terus masalah shoum arafah, tidak bisa kita cuma mevonis kalau orang di arafah sudah melakukan wukuf, maka orang dimanapun berada bisa melakukan shoum meskipun toh shoum itu bersifat sunnah.ingat dunia kita itu berdimensi ruang dan waktu

  • usman ahmadi

    Mohon ijin copy. Syukron atas kebaikannya. Semoga mendapat Pahala yang berlipat. Telah menemukan yang selama ini kucari. Amin.

  • imronil afif

    saya hanya bertanya .. jika saya tinggal new zeland . kapan saya puasa
    jika saya sahur orang yang haji masih di mina ketika berbuka orang yang haji baru berangkat ke mina , begitu juga besoknya , ketika saya shloat ied orang yang haji masih belum melontar ?